Industri Pembuatan Minyak Kelapa yang Mulai Dilupakan

Jumat, 04 Maret 2016 13:04 Ekonomi Bisnis

Bagikan

Industri Pembuatan Minyak Kelapa yang Mulai Dilupakan
Salah satu warga yang masih kembangkan minyak kelapa.(rangga/semetonnews)
Bangli,Semetonnews - Sejalan dengan perkembangan zaman, keberadaan minyak kelapa yang dikenal di masyarakat sebagai minyak tandusan nyaris tidak terlihat. rumah tangga lebih melirik minyak kemasan yang dijual diberbagai warung ataupun toko. Namun apa yang dilakukan Sri Utami Dewi yang tetap bertahan mengolah minyak kelapa untuk di jual, masih tetap digelutinya hingga sekarang.

lebih dari 10 tahun lamanya ibu yang tinggal di Banjar Tegal kelurahan Bebalang, Bangli, ini tetap bertahan mengolah minyak kelapa dari santan. Ditemuai di tempat pembuatan minyak kelapa, Jumat (4/3) dirinya menjelaskan bahwa untuk membuat minyak kelapa setidaknya membutuhkan waktu sekitar sekitar 4 - 5 jam. 

Secara panjang lebar dirinya membeberkan proses pembuatan minyak kelapa yang mulai dilupakan masyarakat saat ini. " kelapa yang digunakan adalah kelapa yang sudah tua, karena kelapa tua banyak menghasilkan santan. itu berpengaruh terhadap hasil minyak yang akan didapat," paparnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa tujuan dari pemasakan santan tersebut untuk memisahkan antara minyak kelapa yang sudah setengah jadi dengan santan yang terendam (celengis - red). setelah itu minyak setetengah jadi tersebut di masak kembali untuk mematangkan minyak. " minyak yang di dapat dalam masakan pertama diolah kembali untuk menghasilkan minyak yang lebih baik dan warnanya lebih coklat," tambahnya. 

Untuk menghasilkan minyak kelapa murni dalam satu botol ukuran 600 ml membutuhkan kepala sebanyak sekitar 3 -4 buah dengan kapasitas produksi perharinya mampu menghasilkan 20 - 25 liter minyak kelapa. Dirinya mengakui bahwa dari hasil jualannya membuat minyak kelapa perhari dirinya dan suami mampu mengantongi penghasilan Rp 50 - 100 ribu perharinya.

Sementara itu dengan adanya peraturah dari Disperindag Kab Bangli mengenai larang menjual minyak curah sempat membuat pihaknya khawatir jika usahanya akan terkena dampak dari peraturan tersbut. Namun dikarenakan usahanya membuat minyak tradisional rumahan bisa  dilihat  oleh pembeli langsung, kehawatiran tersebut perlahan hilang. " awalnya saya sempat hawatir kalau minyaknya diangkut, tapi karena itu usaha industri rumahan dan bisa dilihat pembuatannya jadi tidak apa apa," pungkasnya.

Penulis : Rangga
Editor : Paksi Jalantaka