Waduuhh!!! Masyarakat Tanjung 'Ngamuk' di Teluk Benoa

Jumat, 04 Maret 2016 17:56 Peristiwa

Bagikan

Waduuhh!!! Masyarakat Tanjung 'Ngamuk' di Teluk Benoa
Masyarakat Tanjung Benoa Kompak Bergerak membongkar Panggung Bambu Milik PT. Hydrocore, Jumat (4/3/2016). (Semetonnews)

Kuta Selatan, Semetonnews - Masyarakat Tanjung Benoa utamanya yang menolak reklamasi Teluk Benoa, kembali bergerak di atas perairan Teluk Benoa, Jumat (4/3/2016), sekitar pukul 14.30 Wita. Bahkan bukan kali ini saja mereka menyatakan sikap, tetapi langsung melakukan aksi pembongkaran. Gerakan kali ini dengan membongkar panggung bambu milik PT Hydrocore.

"Ini adalah yang kami putuskan kemarin secara musyawarah mufakat," jelas Ketua LPM Tanjung Benoa Kadek Duarsa.


Dia menjelaskan sangat menyayangkan kemunculan aktivitas survey tanah Teluk Benoa Benoa yang dilakukan oleh PT Hydrocore. Karena itu dilaksanakan tanpa diawali sosialisasi kepada masyarakat. Kekecewaan yang sama pun diarahkan kepada Pemerintah Provinsi Bali. Karena diketahui telah memberikan ijin, tanpa menyampaikannya kepada instansi di bawah.

"Paling tidak, beri tembusan. Supaya selanjutnya, bisa dilakukan sosialisasi kepada masyarakat," imbuhnya. Pengerjaan proyek yang diawali dengan sosialiasi, kata dia, adalah sebuah keharusan. Apalagi itu menyangkut keberadaan Teluk Benoa.

"Apapun alasannya, itu harus sosialisasikan kepada kami dulu. Saat itu akan kami pertanyaan beberapa hal. Harus jelas apa peruntukannya dan tujuannya, agar tidak ada masuk agenda rencana busuk reklamasi," tegasnya.

Terpisah ditemui di kantornya, sorotan mengenai munculnya aktivitas survey tanah (soil tes) pada 34 titik area Teluk Benoa oleh PT Hydrocore juga disayangkan adanya oleh Bendesa Adat Kuta, Wayan Swarsa.

"Walau ada pihak misalnya yang mengatakan kalau itu tidak ada hubungannya dengan reklamasi, tapi kan tentu saja masih sangat sensitif terhadap gejolak masyarakat yang marak itu. Apalagi jika memang betul hasil penelitian itu berkaitan dengan reklamasi, kan masyarakat semakin berkobar jadinya," sebutnya.

Pemerintah Provinsi Bali, menurut dia, tentu harus memperhatikan hal itu. "Terlebih lagi sekarang kan masih dalam tahap revisi Amdal. Jadi saya rasa kegiatan semacam itu memang harus dihentikan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

"Kalau orang tua melihat anak-anak lagi berantem ramai, yang harus dilakukan oleh orang tua bukanlah memihak ini ataupun itu. Tapi adalah mendamaikan semua. Nah, seandainya damai itu belum didapat, apa yang dilakukan? Yang harus dilakukan adalah 'meandegan', hentikan dulu itu, jalin komunikasi. Nah, kalau masalah reklamasi ini kan tidak dihentikan, melainkan terus berlangsung di tengah-tengah pro dan kontra," bebernya menyampaikan sebuah ajaran di Bali.

Penulis  : Surya
Editor   : Robinson Gamar