Ratusan Organisasi dan Masyarakat Gelar Aksi Solideritas di Tugu Proklamasi

Sabtu, 14 Mei 2016 18:53 Peristiwa

Bagikan

Ratusan Organisasi dan Masyarakat Gelar Aksi Solideritas di Tugu Proklamasi
Aksi solidaritas memperingati 40 hari kematian YY di Tugu Proklamasi (Irawan-semetonnews)

Jakarta, Semetonnews-Memperingati 40 hari kematian YY, gadis korban kekerasan seksual dan pembunuhan di Desa Padang Ulak Tanding, Kecamatan Rejang Lebong, provinsi Bengkulu, ratusan organisasi dan masyarakat yang tergabung dalam Jaringan Aksi Solideritas Untuk Korban menggelar Malam Solideritas Untuk Korban Kekerasan Seksual di Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (13/05/2016) malam.


Aksi dimulai pukul 19:00 WIB diawali dengan penyalaan seribu lilin dan dilanjutkan dengan talkshow, deklarasi puisi, orasi, music dan doa bersama 137 organisasi. “Mari kita ajarkan pendidikan seksual yang komperhensif kepada anak-anak kita agar mereka menghargai sesama manusia,” ujar Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Musdah Mulia di lokasi.


Selain Musdah Mulia, acara malam solideritas ini hadir pula Psikolog Zoya Amiri, Bidan Lili dari Forum Bidan Desa, dan mantan komisioner Komnas Perempuan, Andi Yentriani. Sedangkan pada sesi talkshow, hadir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Kadiv Humas Polri Boy Rafly, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari, Menteri Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak Yohana Yambise, dan Wakil Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah.


Dalam aksi malam solideritas tersebut, dibacakan juga 6 tuntutan kepada pemerintah terkait kejahatan seksual. Pertama, Kepolisian dan pemerintah daerah Bengkulu agar bersikap tegas dalam menangani kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap YY sesuai dengan hukum yang berlaku. Kedua, Pemerintah secara serius menangani kasus kekerasan seksual dengan melakukan upaya pencegahan, pembenahan aturan hukum, dan menciptakan sistem peradilan yang berpihak pada korban.


Ketiga, pemerintah dan semua lembaga penegak hukum di Indonesia  untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menggunakan perspektif perempuan atau korban kepada tiap personil di jajarannya. Keempat, Pemerintah dan DPR RI segera bahas dan sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.


Kelima, menolak hukuman kebiri dan hukuman mati karena dianggap hanya akan memperpanjang rantai kekerasan, dan lebih memusatkan perhatian pada upaya pemulihan, rehabilitasi dan penghapusan stigma terhadap korban. Dan yang terakhir pemerintah didesak untuk segera mendorong kurikulim pendidikan seksual yang komperhensif mulai dari tingkat rendah hingga perguruan tinggi.“Kekerasan seksual adalah kejahatan sistemik yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan penghukuman semata,” tegas salah satu anggota Jaringan Solideritas untuk Korban, Lina Zurlina.


Tak hanya menyuarakan tuntutan kepada pemerintah, tetapi kepada seluruh lapisan masyarakat juga dihimbau agar dapat mengubah cara pikir yang melanggengkan kekerasan teradap perempuan dan berhenti menyalahkan korban, menghentikan stigma terhadap korban dan keluarganya, terlibat aktif dalam gerakan perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, aktif mengkampanyekan hak perempuan atas rasa aman dan hak untuk bebas dari kekerasan seksual serta melakukan pendidikan pada anggota keluarga dan lingkungan untuk menghormati perempuan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan empati terhadap sesama.

 

Reporter : Irawan

Editor      : Maria Gracia