Harga Semangka Melambung Tinggi, Petani Menjerit

Minggu, 15 Mei 2016 20:08 Peristiwa

Bagikan

Harga Semangka Melambung Tinggi, Petani Menjerit
Pedagang semangka di Jembrana
Jembrana, Semetonnews - Sejak seminggu belakangan ini harga semangka non biji di tingkat petani melambung tinggi. Namun naiknya harga semangka ini justru membuat petani menjerit.

Saat ini harga semangka ditingkat petani mencapai Rp 3500 per-kilonya. Harga ini telah bertahan sejak seminggu terakhir.  Padahal sebelumnya harga semangka ditingkat petani hanya Rp 2000 per kilonya.

"Harga dua ribu rupiah per kilo itu bertahan sampai sebulan. Kemudian naik menjadi dua ribu lima ratus rupiah,” terang Heri Iswanto (35), salah seorang pengepul semangka asal Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Jembrana, Minggu (15/5/2016) sore.

Harga Rp 2500 tersebut menurut Heri bertahan seminggu dan kemudian naik menjadi Rp 3000 per kilonya. Bertahan sebulan dan sejak seminggu lalu akhirnya naik menjadi Rp 3500 per kilo sampai sekarang.

Naiknya harga semangka saat ini lantaran tingginya permintaan semangka dari konsumen, sementara produksi semangka ditingkat petani sedikit atau terbatas.

Sementara itu seorang petani semangka yang enggan ditulis namanya justru mengeluh sebagai petani semangka di Jembrana meskipun harga semangka naik drastis.

Pasalnya sebagian petani semangka di Jembrana adalah petani binaan sejumlah pengepul semangka yang tentunya sangat tergantung kepada pengepul lokal.

"Kami di Jembrana jarang sebagai petani semangka mandiri. Kami kebanyakan mengambil modal produksi dari pengepul. Jadi jika panen yang menentukan harga ya pengepul yang ngasih modal,” keluhnya.

Jika saatnya panen, petani yang terikat perjanjian dengan para pengepul tidak tahu berapa harga semangka di beli oleh pengepul. Petani baru tahu jika pengepul sudah menjual semangka petani ke Denpasar maupun ke Jawa.

"Setelah itu barulah pengepul datang membawa nota hasil penjualan. Kami sering kaget, karena semangka kami dibeli pengepul tidak sesuai harga pasaran. Bahkan langsung dipotong hutang, untung kalau ada sisanya kadang malah minus. Apalagi biaya produksi dan sewa lahan sangat tinggi,” tuturnya saat ditemui di Subak Penyaringan, Mendoyo, Minggu (15/5/2016) sore.

Jika ingin menjadi petani semangka mandiri, pihaknya sangat kesulitan menjual hasil produksinya. Mau dijual ke Denpasar atau ke Jawa petani mengaku tidak tahu celah.

Sedangkan pengepul lokal jelas tidak mau membeli semangka milik petani mandiri karena para pengepul sudah banyak memiliki petani binaannya sehingga pengepul hanya mau membeli semangka petani binaannya.

"Kami sebagai petani nasibnya memang selalu dibawah. Makanya banyak petani semangka yang gulung tikar,” katannya yang dibenarkan sejulah petani semangka lainnya.

Karena itu sejumlah petani mengharapkan peran serta pemerintah untuk memperhatikan nasib petani semangka di Jembrana sehingga bisa lebih sejahtra.

"Dulu kami sudah senang Pemkab Jembrana  pernah melakukan pendampingan terhadap petani semangka dengan memproduksi semangka kotak. Tapi itu hanya sekali panen, setelah itu tidak terdengar kabarnya lagi,” tutup petani tadi.



Reporter : Dewa Putu Darmada
Editor      : Wawan Nike