Ekonomi Bali 2016 Diperkirakan Tumbuh 6,84 Persen

Minggu, 22 Mei 2016 11:35 Ekonomi Bisnis

Bagikan

Ekonomi Bali 2016 Diperkirakan Tumbuh 6,84 Persen
Foto : Lokakarya Kebangksentralan dan Kehumasan 2016 yang dibuka Ka KPw BI Perwakilan Bali, Dewi Setyowati (nomor 2 dari kiri) di Hotel Padma Resort Ubud, Payangan, Gianyar (21/5/2016).
Gianyar, Semetonnews -   Membaiknya ekonomi global berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, termasuk di Bali. Dari analisa Bank Indonesia (BI) diperkirakan pertumbuhan ekonomi di Bali tahun 2016 bisa mencapai 6,84 persen. Untuk itu, BI juga memperkuat UMKM agar nantinya bisa visible dan bankable. Hal tersebut terungkap saat Lokakarya Kebangksentralan dan Kehumasan 2016 yang dibuka Ka KpW BI Bali, Dewi Setyowati di Hotel Padma Resort Ubud, Payangan, Gianyar (21/5/2016).

Dari penuturan Kepala Tim Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Edy Kritianto menegaskan meskipun UMKM memiliki kontribusi yang signifikan dalam perekonomian Indonesia, temasuk Bali, namun masih terdapat banyak kendala yang dihadapi. Utamanya memperoleh pembiayaan guna pengembangan usaha akibat tidak ada jaminan atau agunan. 

Untuk menjawab tantangan tersebut BI menjadikan UMKM agar feasible dan bankable untuk pengembangan UMKM sampai bisa menggunakan kredit perbankan murni sesuai dengan Peraturan BI No.17/12/PBI/2015 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum.

"Selain itu juga dilakukan upaya pendekatan UMKM dengen peningkatan kapasitas perbankan melalui regulasi, salah satunya dengan mendorong Lembaga Keuangan memberikan pembiayaan UMKM," ujarnya 

Sementara itu,  Analis BI Perwakilan Provinsi Bali, Umran Usman juga mengakui perkembangan ekonomi global tahun 2016 diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 lalu.

 "IMF saja juga memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi dunia akan meningkat. Termasuk BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II meningkat," katanya.

Bahkan ekonomi Bali pertumbuhan ekonominya akan jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya, karena adanya peningkatan volume kerja ekspor. Seperti adanya peningkatan permintaan ekspor dari Amerika Serikat berupa olahan ikan dan garmen.

"Dari sejumlah pelaku usaha garmen juga mengakui adanya peningkatan volume ekspor akibat adanya peningkatan buyer khususnya dari Amerika Serikat," sebutnya.

Volume ekspor dari Bali juga tumbuh signifikan dan yang tertinggi dari pengolahan ikan dan pakaian jadi. Peningkatan ekspor akan cendrung meningkat seiring dengan membaikannya ekonomi negara tujuan ekspor. Namun ada sektor lain juga ada yang tertahan, seperti industri pengolahan terutama olahan kayu masih tertahan pertumbuhannya.

"April untungnya Bali mengalami deflasi akibat efek penurunan harga BBM bersubsidi dan Pertamax serta Pertalite yang diperkirakan akan berkontribusi dengan deflasi sekitar mines 0,01 persen untuk deflasi sekitar bulan Mei ini," tambahnya.

Terkait dengan kebijakan bebas visa dibandingkan tahun sebelumnya juga berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, seperti negara-negara yang sudah menerapkan bebas visa pertumbuhan ekonominya meningkat signifikat.

"Efek bebas visa memberikan kontribusi yang cukup besar meskipun masih perlu dikonfirmasi. Namun sudah memberikan efek kunjungan wisman ke Bali, khususnya dari negara-negara yang diberikan bebas visa tumbuh signifikan beberapa bulan terakhir," tandasnya.

Meki demikian, akibat penurunnya nilai tukar mata uang asing seperti dolar juga menyebabkan wisma mengalihkan kunjungannya ke negara lain seperti Thailand. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah yang kompetitif sebagai daya saing pariwisata.

"Kualitas dan harga berwisata di negara lain nyatanya bisa lebih baik, seperti Thailand. Sehingga perlu dilakukan kajian, karena selama ini Bali dikeluhkan dengan sampah dan kemacetan. Padahal wisman terutama dari Tiongkok ekonominya tumbuh melambat, namun kunjungan wismannya masih kuat. Inilah yang perlu digarap," imbuhnya.


Dari sisi domestik pemerintah juga sudah mengeluarkan 12 paket kebijakan. Salah satunya dengan melakukan penyederhanaan birokrasi.

"Paket Kebijakan yang ke-12 dirasakan sangat seksi di Indonesia, terutama bagi pelaku usaha yang ingin berinvestasi di Indonesia. Seperti investasi asing untuk pembangunan hotel dan restoran. Apalagi tahun ini dari APBN juga disediakan sekitar Rp 4 miliar untuk infrastruktur. Termasuk belanja modal di pemerintah provinsi untuk mengetrack pertumbuhan ekonomi. Khusus Bali juga ada rencana pemerintah investasi di Bali Utara," paparnya.

Selain itu sejak diturunkan BI Rate juga berpengaruh terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi seiring dengan meningkatnya investasi di Bali. Dengan 3 kali penurunan suku bunga BI Rate bisa membangkitkan investasi sebagai penggerak ekonomi kedepan.

"Namun di Bali pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga akibat adanya dana anggaran desa tahun 2016 sebesar Rp. 416 miliar yang nilainya lebih tinggi dari tahun sebelumnya sekitar Rp.185,42 miliar. Dari analisa BI diperkirakan pertumbuhan ekonomi Bali 2016 dari 6,09 sampai 6,84 persen. Sementara Inflasi sebesar 1 sampai 4 persen," tutupnya.



Reporter : Jeffry Satria Nugraha
Editor      : Ray Wiranata