"Terusir" Dari Tanah Leluhur, Agustina Mengejar Mimpi Ke Negeri Seberang

Sabtu, 28 Mei 2016 18:27 Wanita

Bagikan

Agustina dan puluhan temannya saat mendapat pendampingan dari IKB Flobamora Bali. (Robi/Semetonnews)
Denpasar, Semetonnews- Mengenakan kaos merah dengan celana pendek, Agustina Susana Tanggu Dendo, perempuan asal Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap tersenyum walau perjalanan hidupnya sangat pahit. Terusir dari tanah leluhur, Agustina demikian dia akrab disapa tetap menjaga asah untuk jadi perempuan mandiri. 

Ditemui di asrama bina remaja, Kepaon, Denpasar Selatan, Sabtu (28/5/2016), Agustina membeberkan pengalaman pahitnya saat menjadi TKW di negeri Jiran Malayasia. Kisah pahit Agustina bermula pada pertengahan tahun 2011 lalu. Ketika itu seorang perekrut tenaga kerja mendatangi kediamannya di Numbarade, Sumba Barat Daya, NTT. Si perekrut menawarkan "mimpi" indahnya jadi pekerja di negeri orang. 

Belitan kemiskinan membuat Agustina tanpa pikir panjang menerima tawaran tersebut. Apalagi ketika itu Agustina bersama sang ibu telah diusir dari kampung sang ayah lalu hidup berdua. Sang ayah sendiri telah meninggal saat Agustina baru berusia sehari. Dorongan untuk membahagiakan sang ibu menghantarkan langkah Agustina mengejar mimpi tak pasti.

"Waktu itu saya hanya mau membahagiakan orang tua dan bisa hidup mandiri," kata Agustina dengan suara bergetar.  Perjalanan awal terasa membahagiakan bagi Agustina. Meninggalkan tanah leluhur dengan menumpang pesawat. Sebuah pengalaman maha istimewa bagi orang desa seperti Agustina.   

Perjalanan udara ini diawali dari Bandar udara Tambolaka, Sumba Barat Daya; kemudian Transit di Bandara ngurah Rai, Denpasar sebelum akhirnya tiba di Jakarta. Dari Jakarta Agustina dengan beberapa rekannya terbang menuju ke Batam. Setibanya di Batam pihak penyalur kemudian membuatkan pasport dengan sejumlah data yang dipalsukan. Agustina yang asal Sumba, NTT diminta untuk mengaku berasal dari Medan. 

Singkat cerita tibalah waktunya menyebrang ke Malaysia dengan passport pelancong. sepanjang perjalanan Agustina tidak diperbolehan menjawab pertanyaan orang asing. Kalaupun terpaksa, harus berbohong dengan jawaban sekenanya.

"Kami menyebrang pakai kapal laut sekitar 3 jam, saya lupa kami sandar di pelabuhan mana, saya tahunya sudah sampai di Malaysia," tutur Perempuan kelahiran tahun 1994 tersebut. Tanpa menunggu lama Agustina akhirnya mendapatkan majikan. Seorang boss laundry di Kelang, Malaysia.

Selama dua tahun Agustina dipekerjakan tanpa jam kerja yang jelas. Mulai jam 5 pagi sampai tengah malam menjelang.  Oleh majikan tersebut Agustina dilarang berkomunikasi dengan siapapun. baik keluarga maupun orang asing. Bahkan phonselnya disita oleh majikan. Bhakan perlakukan kasar kerap diterima Agustina.

"Selama dua tahun saya tidak pernah tahu kabar orang tua di kampung," tuturnya. Semua dijalani dengan sabar di bawah tekanan sang majikan. Hingga tiba saatnya masa kontrak Agustina habis. Sang majikan berusaha membujuk agar Agustina tetap bekerja. Tapi Agustina memilih ngotot keluar. Sang majikan pun mengalah, tapi dengan catatan Upah Agustina selama 2 tahun dipotong sebesar Rp 4 juta. Agustinapun menyetujui syarat tersebut. 

"Bagi saya waktu itu tidak masalah asal saya bisa kembali ke kampung," kata Agustina sambil meneteskan air mata. Agustina akhirnya meninggalkan sang majikan dengan mengantongi uang Rp30 juta hasil pekerjaan selama dua tahun. 

Dari tangan majikan Agustina diserahkan kepada 'agen' yang biasa mengatur naker ilegal agar bisa keluar dari Malaysia. Dari agen pertama Agustina dipindahtangankan ke agen ke dua dan ketiga. Agar bisa meninggalkan Malaysia Agustina harus menempuh perjalanan menerobos perkebunan kelapa sawit dengan berjalan kaki.

"Saya tidak tahu itu di mana tapi saya ingat waktu malam-malam kami jalan kaki dari jam 7 sampai jam 12. Tidak ada istirahat di jalan sampai ketemu pantai," katanya. Setibanya di pantai Agustina dan sekitar 30an naker ilegal harus menunggu lama. Oleh pemandu sesekali mereka disuruh tiarap, tiduran atau dibentak agar tidak berisik.

"Saya waktu itu juga dipukul sama orang yang antar kami, dia suruh kami diam supaya tidak didengar sama petugas katanya," kenang Agustina. Jelang subuh tibalah perahu yang ditunggu. Karena mengangkut 30 orang perahu nyaris  tenggelam. Terpaksa seluruh barang-barang dibuang ke laut. Agustina hanya berbekal pakaian di badan dan upah yang diterima dari majikan.

Setibanya di Batam, puluhan naker ini kemudian ditampung oleh agen lain lagi dan harus menyetorkan uang sebesar Rp600  ribu agar dibantu kepulangan. Dari sana Agustina kemudian menempuh perjalanan udara menuju Tambolaka,  Sumba Barat Daya.

Pertemuan setelah dua tahun terpisah tanpa kabar tentu menjadi pertemuan yang sangat mengharukan. Uang hasil bekerja kemudian dipakai membeli sebidang tanah dan membangun rumah untuk sang ibu. 

Ketidak pastian kehidupan di Sumba mendorong Agustina untuk kembali mengadu nasib. Tawaran dari PT. Citra Kartini Mandiri untuk bekrja di jakarta bersama puluhan rekannya asal Sumba. Beban adat yang begitu besar sungguh memberatkan Agustina. Setiap ada hajatan nikah atau kemiatian memaksa Agustina dan sang ibu harus merogoh kocek. Saat uang habis tidak ada pilihan lain selain berutang. 

Sementara lapangan pekerjaan di desanya tidak bisa memberikan pendapatan yang bisa menutupi biaya adat tersebut. Namun perjalanan Agustina terhambat karena dicegah saaat transit di Bandara ngurah Rai pada Jumat (27/5/2016). Perusahaan yang membawa Agustina disinyalir tidak melengkapi dukomen naker sebagaimana mestinya.

"Mau tidak mau saya harus mencari pekerjaan keluar, semoga kali ini tidak seperti yang dulu. Saya maunya kerja baik-baik dan bisa tetap telpon mama di kampung," tutup Agustina.

Reporter  : Robinson Gamar