Disapu Angin, Hektaran Padi Petani di Jembrana Rebah

Rabu, 01 Juni 2016 21:01 Peristiwa

Bagikan

Disapu Angin, Hektaran Padi Petani di Jembrana Rebah
Padi siap panen yang rebah disapu angin (Darmada/SN)
Jembrana, Semetonnews-Hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Jembrana beberapa hari belakangan ini membuat, hektaran padi siap panen di Subak Yehembang, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana roboh.

Para petani pun tak mampu berbuat banyak kecuali berharap tidak ada hujan sehingga padi mereka tidak semakin rusak. Yang paling parah nampak areal persawahan subak Yehembang, tepatnya jalan menuju parkir Pura Rambut Siwi. Padi rebah hampir merata di seluruh petak sawah.

Hanya beberapa petak yang nampak masih berdiri. Bahkan kencangnya angin membuat sejumlah padi tercabut hingga terlihat akarnya."Kalau sudah angin kencang begini, hampir semua merata rebah,” tandas Ketut Ariwan, salah seorang warga yang melintas, Rabu (1/6/2016) sore.

Menurutnya selain di dekat parkir Rambut Siwi itu, kondisi serupa juga terjadi di sisi utara jalan Denpasar-Gilimanuk. Awalnya hanya beberapa petak yang rebah, tetapi kini padi yang rebah meluas. Diperkirakan lebih dari satu hektar padi yang rebah.Kondisi seperti ini menurutnya tidak bisa dicegah, karena angin bisa sewaktu-waktu terjadi.

Apalagi areal sawah berdekatan dengan pantai, belum lagi curah hujan yang belakangan cukup tinggi. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Jembrana, I Ketut Wiratma mengatakan adanya padi rebah memang tidak bisa diprediksi.

Penyebabnya tidak lain karena angin yang kencang. Dinas juga mendapat informasi dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Negara, bahwa angin kencang dan cuaca buruk yang terjadi tidak seketika atau sporadis.  

Angin cenderung berhembus dari arah Selatan (laut) dan Tenggara. Sejatinya angin ini biasanya berhembus pada bulan Juli hingga Agustus, tetapi kini bergeser mendahului. Dinas masih berupaya mencari teknologi untuk mengatasi padi rebah itu.

Sejumlah upaya sudah dilakukan termasuk menanam padi batang pendek, pemilihan jenis padi yang sesuai dan sebagainya.“Tetapi seringkali petani menggunakan jenis padi yang sama tiap tanam, padahal belum tentu kuat, tapi malah  mudah rebah” terangnya.

Pihaknya belum mengetahui apakah sawah yang padinya rebah itu sudah diasuransikan melalui Asuransi Usaha Tani Padi. Apabila ikut dan sudah membayar premi, maka ada kemungkinan mempunyai hak untuk klaim."Namun, untuk asuransi itu ada tim dari pihak asuransi yang menentukan apakah tergolong rusak atau tidak,” tutupnya.

Repoter : Dewa Putu Darmada
Editor     : Maria Gracia