Hakim Kabulkan Eksepsi, Persidangan Dihentikan

Rabu, 15 Juni 2016 23:39 Hukum & Kriminal

Bagikan

Hakim Kabulkan Eksepsi, Persidangan Dihentikan
Ilustrasi-google-semetonnews
Denpasar, Semetonnews-Hakim pengadilan korupsi Denpasar nampaknya tak henti-hentinya membuat manuver. Jika sebelumnya ada putusan ringan untuk kasus korupsi yang nilainya miliaran, sekarang malah ada putusan bebas. 

Pada sidang kasus dugaan korupsi di BPD Tabanan, majelis hakim tipikor pimpinan Achmad Peten Sili membebaskan terdakwa Wayan Sukarja Sastrawan dengan menerima eksepsi atau keberatan terdakwa atas dakwaan jaksa.

Pertimbangan majelis hakim mirip dengan eksepsi yang diajukan oleh terdakwa. Yaitu menilai dakwaan JPU tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap. Selain itu, dalam dakwaan JPU tidak menjelaskan secara gamblang kerugian negara yang dimaksud.

Selain itu hakim juga menilai bahwa perbuatan yang dilakukan terdakwa bukanlah tindak pidana korupsi melainkan tindak pidana penggelapan dalam jabatan."Menyatakan mengabulkan eksepsi terdakwa dan memerintahkan sidang untuk tidak dilanjutkan,"demikian bunyi putusan sela. 

Atas putusan itu kuasa hukum terdakwa, Agus Gunawan Putra dkk yang ditemui usai persidangan memberikan apresiasi kepada hakim.“Ini juga merupakan kerja keras tim kuasa hukum dan berbagai pihak yang ikut membantu,"ujarnya. 

Selain itu, sudah terlihat bahwa jaksa masih ragu-ragu menyatakan apakah dalam kasus ini ada kerugian negara atau hanya kerugian BPD Bali. Seperti diberitakan sebelumnya, Karyawan BPD Bali Cabang Tabanan, IWayan Sukarja Sastrawan yang menjadi terdakwa korupsi fraud dalam perbankan diseret ke Pengadilan Tipikor Denpasar karena mengambil uang nasabah yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 1,7 miliar.

Sukarja dijerat dengan pasal berlapis yaitu pasal pasal 3, 8 dan 9 UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor yang sudah diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan UU nomor 31 tahun 1999 jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Dalam kasus ini, terdakwa mengambil uang nasabah bernama Haji Thohir dan istrinya Fia Wartini. Awalnya, Thohir minta uangnya Rp 1 miliar didepositokan di BPD Tabanan. Oleh terdakwa uang tersebut dimasukan dalam komputerisasi di BPD Tabanan.

Kemudian terdakwa mengambil bilyet deposito yang ada di BPD, kemudian memasukan juga bunga tiap bulannya dari uang Rp 1 miliar tersebut. “Setelah dimasukan bunga lalu diprint out, dan bukunya diserahkan pada Thohir,” ujar JPU dalam dakwaan.

Selain itu, uang istri Thohir, yakni  Fia Wartini sebesar Rp 700 juta juga menjadi korban. Terdakwa menyuruh korban mencairkan dulu uang deposito yang sudah ada pada bank, kemudian istri Thohir menyuruh lagi terdakwa untuk memasukan lagi ke BPD.

Namun uang itu tidak dimasukan ke BPD, melainkan digunakan untuk kepentingan pribadinya. Hal yang sama juga dilakukan tersangka untuk uang Rp 1 miliar milik Tohir.

Uang hasil fraud (kecurangan) tersebut lalu digunakan terdakwa untuk kepentingan pribadinya. DIantaranya untuk merenovasi rumah, membeli alat elektronik, tirta yatra ke Pura Lumajang dan Bromo dengan teman kantor hingga membayar jasa PSK (Pekerja Seks Komersial) selama 2013 yang mencapai Rp 20 juta.

Reporter : Maria Gracia