Mebuug-Buugan, Tradisi Mandi Lumpur yang Terancam Reklamasi‎

Kamis, 10 Maret 2016 19:56 Budaya & Pendidikan

Bagikan

Mebuug-Buugan, Tradisi Mandi Lumpur yang Terancam Reklamasi‎
tradisi mandi lumpur di kedonganan setelah Nyepi. (surya/Semetonnews)
Kuta, Semetonnews – Mebuug-Buugan sebuah tradisi di Desa adat Kedonganan kembali digelar. Mebuug-Buugan biasanya digelar setiap tahun sehari setelah Nyepi. Tradisi yang kambali dibangkitkan ini dikawatirkan nantinya tidak bisa digelar kembali bila Mega proyek raksasa reklamasi Teluk Benoa terlaksana.


Pantauan, dengan bertelanjang dada, ratusan pemuda kedonganan berkumpul di Catus Pata Desa Adat Kedonganan, Kamis (10/3/2016) siang. Mereka bersiap menuju kawasan hutan mangrove Teluk Benoa untuk melaksanakan tradisi Mebuug-Buugan.

Tradisi Mebuug-Buugan ini, sebenarnya sudah sempat ditinggalkan oleh masyarakat Kedonganan. Namun sejak dua tahun lalu, tradisi mandi lumpur di hutan mangrove tersebut kembali dimunculkan oleh para pemuda Kedonganan.

Menariknya lagi, pelaksanaan Mebuug-Buugan kali ini bukanlah sekedar pelaksanaan tradisi belaka. Karena di dalamnya juga terdapat semangat penolakan reklamasi Teluk Benoa. Para pemuda yang notabene sebagai peserta pelaksanaan tradisi terlihat sangat khawatir jika rencana megaproyek tersebut jadi dilakukan. Karena ketika itu dilaksanakan, maka dipastikan bakal mengancam pula tradisi Mebuug-Buugan yang kini sedang dimunculkan kembali.‎

“Alam itu harus dijaga, jangan malah dibikin yang aneh-aneh. Apalagi diurug,” tegas Wayan Yustisia Semarariana sebagai salah satu pentolan pemuda Kedonganan.

Tradisi Mebuug-Buugan, kata dia, sebenarnya memiliki sebuah makna penting dalam hal hubungan antara manusia dengan alam. “Dengan tradisi ini, kami harap ada motivasi lebih untuk menjaga alam,” sebutnya. ‎

Penulis : Surya 
Editor : Paksi Jalantaka ‎