Usai Nyepi, Pemuda Panji Gelar Tradisi Permainan Megoak-Goakan

Kamis, 10 Maret 2016 19:55 Budaya & Pendidikan

Bagikan

Usai Nyepi, Pemuda Panji Gelar Tradisi Permainan Megoak-Goakan
Puluhan pemuda Desa Panji, saat melakukan permainan megoak-goakan dilapangan yang penuh lumpur, usai perayaan Nyepi, Kamis (10/3/2016). (Setun/Semetonnews)
Buleleng, Semetonnews- Puluhan pemuda yang tergabung dalam Sekaha Teruna Teruni (STT) Satya Warta dari Banjar Dinas Kelod Kauh, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, menggelar permainan megoak-goakan, pada Kamis (10/3). Bahkan para pemuda, tampak sangat antusias mengikuti permainan yang digelar di lahan berlumpur tersebut.


 

Baik lelaki maupun perempuan berbaur mengikuti permainan megoak-goakan ini, dengan membentuk barisan yang memanjang seperti ular, di atas tanah lapang penuh lumpur. Usai membentuk ular-ularan, mereka berlari sembari saling memegang erat pinggang satu sama lain dari peserta yang di depannya, agar tidak terputus selama mengitari tanah lapang yang becek.

 

Dalam permainan ini, seorang pemain yang menjadi kepala ular, berusaha mengejar dan menangkap pesertan lainnya yang menjadi ekor dari ular. Bahkan mereka yang ikut dalam barisa ular-ularan itu, sempat melambaikan tangan dan berteriak seakan menirukan suara raksasa.

 

Klian Banjar Kelod Kauh, Desa Panji, Nyoman Masajaya menjelaskan, permainan megoak-goakan ini, sudah ada sejak zaman Kerajaan Buleleng pimpinan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Bahkan, permainan megoak-goakan ini diambil dari nama goak yang berarti burung gagak, dimana hewan yang digemari oleh Panji Sakti.

 

Masajaya juga memaparkan, permainan ini sudah dimainkan secara turun termurun sejak zaman Kerajaan dahulu. Ketika itu lewat permainan ini, siapa yang berhasil menangkap ekor goak, maka permintaannya akan dikabulkan oleh Raja Panji Sakti dan saat ini menjadi kepercayaan masyarakat.

 

“Jika kepala ular sudah berhasil menangkap ekornya, maka permainan dianggap selesai. Mereka kemudian mengulangi permainan itu secara berulang-ulang kali, sampai mereka puas dengan pemain kepala ular yang secara berganti ini,” tutur Masajaya, Kamis (10/3/2016) usai permainan.

 
Pemain yang menjadi kepala ular, tentu tidaklah mudah menangkap pemain yang menjadi ekor ular. Sebab, pemain itu berada di barisan paling belakang, dan selalu berusaha menghindari tangkapan kepala ular. “Para pemain juga tidak jarang terpeleset karena berlari di atas tanah becek. Kalau itu terjadi, maka permainan harus diulang karena barisan terputus,” jelas Masajaya.

 
Tradisi permainan megoak-goakan ini merupakan permainan yang telah menjadi tradisi dan selalu dimainkan sehari usai Hari Raya Nyepi. Sebelum memainkannya, para pemuda yang jadi pemain, terlebih dahulu akan melakukan ritual maturang piuning memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar permainan ini bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikipun.

Penulis : Kadek Ari Setun

Editor    : Robinson Gamar