Pengungkapan Kematian Bayi Macet, Kapolres Karangasem "Diadili" DPRD Bali

Sabtu, 20 Agustus 2016 07:03 Hukum & Kriminal

Bagikan

Pengungkapan Kematian Bayi Macet, Kapolres Karangasem
Kapolres Karangasem AKBP Sugeng Sudarso SIK, SH (dua-kiri) sat dipanggil DPRD Bali. (Robi/Semetonnews)
Denpasar, Semetonnews -  Komisi IV DPRD Bali menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Polda Bali dan Polres Karangasem menyikapi mandeknya pengungkapan kasus kematian KCD, bocah berusia 1,3 tahun asal Banjar Iseh, desa Iseh, Kecamatan Sidemen, Karangasem, di gedung DPRD Bali, Jumat (19/8/2016). KCD ditemukan tak bernyawa di gorong-gorong yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah kakek yang mengasuhnya. Kematian KCD dianggap tak wajar, diduga dibunuh sebab terdapat luka di tubuh dan bibir korban.

Pada RDP itu, Kapolda Bali yang berhalangan hadir mengutus perwakilannya. Adapun Kapolres Karangasem AKBP Sugeng Sudarso SIK, SH hadir bersama beberapa jajarannya.
Hadir pula pada kesempatan itu orang tua KCD, dan beberapa lembaga yang mengadvokasi kasus tersebut, di antaranya LBH Bali, Jaringan Peduli Anak, LBH APIK, P2TP2A Denpasar, P2TP2A Karangasem, Tim Perlindungan Perempuan dan Anak HAMI Bali, dan sejumlah aktifis perempuan.

RDP yang dipimpin ketua komisi IV DPRD Bali I Nyoman Parta, itu menjadi ajang pengadilan terhadap Kapolres Karangasem dan jajarannya. Pasalnya, sudah 1,5 tahun kasus itu ditangani Polres Karangasem, namun hingga kini tak ada satu orangpun yang menjadi tersangka. Padahal, Polres Karangasem mengakui terdapat lima orang yang diduga menjadi pelaku pembunuhan KCD. Bocah malang itu ditemukan tak bernyawa pada 29 Januari 2015.

Anggota Komisi IV DPRD Bali I Gusti Putu Budiarta menuding Polres Karangasem tak serius mengungkap tuntas kasus tersebut. Polres Karangasem bahkan dicurigai melakukan pembiaran terhadap kasus tersebut. Padahal hasil otopsi dokter forensik dari Rumah Sakit Sanglah memperlihatkan bocah itu meninggal tak wajar, diduga dibunuh.

Hasil otopsi dokter forensik itu, termasuk alat bukti dan petunjuk yang lain, kata politisi PDIP ini, seharusnya melapangkan jalan untuk mengungkap tuntas kasus tersebut. "Ini sudah 1,5 tahun kasus itu. Saya curiga, maaf, ada pembiaran, polisi tidak serius. Hasil forensik bisa menjadi langkah awal bagi kepolisian untuk bekerja profesional," cecar Budiarta.

 Untuk diketahui, pekan lalu orang tua korban dan lembaga-lembaga yang mengadvokasi kasus tersebut mengadukan kinerja Polres Karagasem dalam menangani kasus tersebut kepada Komisi IV DPRD Bali.

Kapolres karangasem AKBP Sugeng Sudarso SIK, SH saat dikonfirmasi usai RDP itu mengatakan, usai mendapat laporan kematian KCD, pihaknya langsung membentuk Tim yang beranggotakan gabungan dari Polres Karangesem dari Sat Reskrim Unit PPA dan Anggota Polsek Sedimen, untuk menangani kasusi. Kemudian, pihaknyabberkoordinasi dengan Polda Bali untuk melaporkan perkembangan yang terjadi. “Tim ini selalu berkoordinasi dengan Polda Bali yang memback-up secara teknis, memberikan petunjuk-petunjuk, dan melaporkan secara rutin mengenai kasus itu,” katanya.

Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menunjukkan keseriusan Polres Karangasem menindaklanjuti kasus tersebut. Meskipun demikian, pihaknya tidak bisa menargetkan secara  pasti kapan kasus tersebut selesai. Hanya saja, dirinya berjanji bahwa kasus yang menimpa seorang anak tersebut akan segera diselesaikan. “Kalau target waktu tentunya kita tidak bisa memastikan kapan, namun kami akan secepatnya. Kalau memang besok ada perkembangan dan mengarah pada tersangkanya, akan langsung kami tangkap dan kami proses. Kami janji kasus ini harus selesai,” ujarnya. 

Ia mengaku masih kekurangan alat bukti untuk memgungkap kasus tersebut. Menurut dia, saat mengangkat jasad korban, TKP sudah dibersihkan. Ia melanjutkan, kendati ada petunjuk, pihaknya belum bisa menetapkan tersangka. Pihaknya masih harus melakukan tes kejiwaan terhadap lima orang yang diduga sebagai pelaku.

Sementara itu, ketua Komisi IV DPRD Bali I Nyoman Parta, mengatakan, pihak kepolisian harus menuntaskan kasus tersebut. Kendati penanganan kasus itu selama ini mandek, Parta optimis kasus itu bisa diungkap tuntas. "Kita yakin kasus itu bisa diungkap. Apalagi sudah ada petunjuk dan hasil forensik. Ya, optimis kasus itu bisa diselesaikan," kata Parta seusai RDP.

Kronologis Kematian KCD

Sementara itu, ibu kandung korban, Komang Suryani, tampak tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya selama RDP itu berlangsung. 
Pendamping hukum dari LBH Bali, Ni Wayan Sita Metri, SH mengatakan, kematian KCD terdapat kejanggalan. Bocah itu diduga menjadi korban pembunuhan. Pasalnya terdapat luka di tubuh dan bibirnya saat jasadnya ditemukan.

Ia menjelaskan, pada hari kematiannya, KCD diasuh oleh kakek dan neneknya, I Wayan Pil-pil dan Ni Nyoman Sukanti. Karena hendak menanak nasi sekitar pukul 07.00 Wita, KCD diturunkan neneknya dari gendongan dan dibiarkan bermain di sekitar dapur. Berselang 15 menit kemudian, karena hujan neneknya meminta kakeknya mengendong cucunya yang sedang bermain. KCD tak ditemukan lagi di halaman dapur. Mereka kemudian mencari-cari sekitar rumah termasuk ke rumah tetangga yang berinisial NS yang juga masih kerabat dekan Pil-Pil. Mereka sempat NS, sebab mereka dilarang masuk ke dalam rumah untuk mencari KCD.

Mereka kemudian mencari ke sekitar rumah. Karena hujan deras pencarian dilanjutkan sore harinya dengan melibatkan warga setempat. Betapa terkejutnya mereka saat menemuka KCD sudah tak bernyawa di gorong-gorong yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Saat ditemukan tubuhnya masih terasa hangat dengan posisi hanya tubuh bagian bawah terendam. Sedangkan kepala tidak terendam karena tertahan pelepah kelapa.

Kejanggalan lain yang menguatkan dugaan KCD dibunuh, sebab dengan usianya masih 1,3 tahun yang belum lancar berjalan tapi bisa berada di gorong-gorong yang jaraknya cukup jauh dan jalannya sempit. Saat ditemukan sore hari badannya masih hangat, padahal bocah itu sudah menghilang sejak pagi. Sita melanjutkan, kejanggalan lainnya diperkuat dengan hasil otopsi dokter forensik RS Sanglah yang menemukan telur mata sapi dalam lambung korban.Padahal pada pagi harinya KCD hanya diberi sarapan pentol ikan. Itu artinya ada orang lain yang memberinya telur mata sapi sebelum meninggal.

Pihaknya heran, Polsek Sedimen yang menangani kasus tersebut hingga kini belum bisa mengungkap pelakunya. "Kami heran sampai sekarang polisi kok tidak bisa mengungkap kasus ini padahal sudah banyak petunjuk yang bisa mengarahkan polisi kepada pihak tertentu,” tegas Sita. Pihaknya berharap, Polda Bali bisa mengambil alih penanganan kasus tersebut.

Saat mengadu ke DPRD Bali pekan lalu,
Ibu kandung korban berkeyakinan, anaknya dibunuh pamannya sendiri, NS. "Feeling saya, paman saya NS. Kenapa?karena dia tidak baik dengan keluarga kami. Dulu sering ribut soal warisan tanah," katanya. Ia melanjutkan, kasus yang telah lama mengendap di Polsek Sidemen ini diungkap kembali, karena selama ini penyidik Polsek Sidemen menjanjikan kepadanya akan mengungkap tuntas kasus kematian anak saya. Namun, 1,5 tahun berlalu, pengungkapan kematian anaknya tak ada titik terangnya.

Reporter  : Robinson Gamar