Atlet Hamil, Dibiarkan Ikut PON Resiko Bertanding Tanggung Jawab Siapa?

Sabtu, 20 Agustus 2016 09:37 Sport & Life Style

Bagikan

Atlet Hamil, Dibiarkan Ikut PON Resiko Bertanding Tanggung Jawab Siapa?
Dwi Yanti atlet Silat Bali(kanan), ( ist-SN)
Denpasar, Semetonnews-Mengejar prestasi adalah hal paling utama dalam setiap pertandingan olahraga. Sebisa mungkin, atlet yang akan bermain, harus tampil maksimal. Tapi, untuk tampil ngotot dan maksimal, tentu saja sangat sulit dilakukan oleh atlet dalam keadaan mengandung.
 
Ini tentu saja sangat beresiko bagi atlet dan bayi yang dikandungnya. Nah, ini terjadi pada salah satu atlet dari cabang pencak silat Bali yang akan tanding di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/Jawa Barat. 

Menurut sumber yang enggan menyebut namanya, atlet bernama Dwi Yanti yang bermain dinomer seni ganda putri yang merupakan peraih medali emas PON Pelembang ini diperbolehkan bermain di PON XIX/Jawa Barat.

"Harusnya KONI atau IPSI (Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia) melarang atlet ini untuk bermain. Walaupun cuma dinomer seni, tapi namanya olahraga bela diri pasti ada benturan yang bisa membahayakan atlet dan bayi yang dikandungnya,"tegas sumber tadi. 

Memang dikatakan sumber tadi, atlet yang berangkat secara pribadi ingin bertanding di PON Jabar. Tapi IPSI maupun KONI Bali harus tetap melihat kondisi atlet.

"KONI bersama IPSI harus tetap mempertimbangkan keselamatan atlet. Kita harus melihat sisi kemanusian,"ujarnya. 

Parahnya lagi, tegas sumber tadi, karena atlet yang bersangkutan ngotot untuk bertanding, dia diminta untuk membuat pernyataan."Jadi isi pernyataanya seperti ini, kalau nanti terjadi sesuatu saat tanding, resiko ditanggung sendiri. Ini kan lucu, iya kalau atletnya cuma keguguran, kalau nanti pendarahan bagaimana,"ungkapnya. 

Karena itu, kata sumber ini, sebaiknya atlet yang bersangkutan tidak diberangkan ke PON. "Kalau soal prestasi masih ada kesempatan lain. Sekarang kita bicara sisi kemanusianya,"pungkas sumber tadi. 

Hingga berita ini ditayangkan masih belum ada pernyataan resmi dari KONI maupun IPSI, bila hal ini dibiarkan tentunya akan membuat persoalan baru dimana lembaga terkait akan mempersoalkan terhadap atlet yang mestinya dijamin keselamatan dan kesehatannya, bisa jadi berdampak hukum.

Reporter : Wawan Nike