Gempa Kuat, 6,1 SR Guncang Nusa Tenggara Timur

Rabu, 24 Agustus 2016 07:31 Nasional

Bagikan

Gempa Kuat, 6,1 SR Guncang Nusa Tenggara Timur
Ilustrasi gempa (Net/SN)
Denpasar, Semetonnews - Rabu (24/08/2016) dini hari pukul 03.39.43 WITA, wilayah busur kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempabumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi terjadi dengan kekuatan M=6,1. Pusat gempabumi terletak pada koordinat 7,46 LS dan 122,54 BT, tepatnya di Laut Flores pada jarak 105 km arah baratlaut Flores Timur, NTT pada kedalaman 537 km. 

Hasil analisis peta tingkat guncangan (shake map) BMKG menunjukkan bahwa dampak gempabumi berupa guncangan dirasakan di wilayah NTT seperti di Waingapu, Maumere, Ende, Alor, Sabu, dan Kupang pada skala intensitas II SIG BMKG (II-III MMI). Karena kejadiannya dini hari dan sebagian besar warga masih tertidur, maka hanya beberapa warga merasakan guncangan gempabumi dan hingga saat ini belum ada laporan kerusakan.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan hingga saat ini belum terjadi gempabumi susulan. Kepada masyarakat NTT dihimbau agar tetap tenang. Meskipun gempabumi ini termasuk klasifikasi gempabumi kuat, tetapi patut disyukuri bahwa gempabumi ini merupakan gempabumi hiposenter dalam yang tidak berpotensi merusak dan tidak berpotensi tsunami. "Aktivitas gempabumi dalam memang tidak membahayakan, tetapi jika magnitudonya besar dapat menimbulkan guncangan dengan spektrum yang luas wilayahnya," kata Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Gempabumi dalam (deep focus earthquake) dengan hiposenter melebihi 300 km di Laut Flores merupakan fenomena menarik, karena sangat jarang terjadi. Secara tektonik, wilayah NTT yang terletak di zona pertemuan lempeng memiliki keunikan tersendiri, karena di wilayah ini Lempeng Indo-Australia menyusup curam ke bawah Lempeng Eurasia hingga kedalaman 625 km. 

Proses terjadinya gempa dalam masih banyak tanda tanya. Ada teori yang menjelaskan kaitannya dengan perubahan sifat kimiawi batuan pada suhu dan tekanan tertentu. Namun demikian ada juga dugaan bahwa lempeng tektonik di kedalaman 410 km terjadi gaya slab pull (gaya tarik lempeng ke bawah) dan di sekitar kedalaman di atas 600 km terjadi gaya apung lempeng yang menahan ke atas (slab buoyancy). 

Jika ditinjau kedalaman gempabumi ini terletak di zona transisi mantel pada kedalaman 410 hingga 600 km, maka aktivitas seismik yang terjadi sangat mungkin dipengaruhi gaya slab pull akibat tarikan gravitasi Bumi, sehingga relevan jika mekanisme sumber gempa yang terjadi ini berupa oblique turun. "Aktifnya gempabumi dalam di Laut Flores menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa proses subduksi lempeng dalam di NTT hingga kini ternyata masih berlangsung," pungkas dia.

Reporter: VR Nugraha