Ini Bahaya Sabu Si Jerman; Mau Nendang, Malah Koit...

Rabu, 24 Agustus 2016 13:17 Nasional

Bagikan

Ini Bahaya Sabu Si Jerman; Mau Nendang, Malah Koit...
Bali menjadi daerah wisata juga diminati bandar narkoba dalam mengedarkan Sabu-Sabu. (Ist/SN)
Denpasar, Semetonnews - Terungkanya pabrik narkoba jenis Sabu-Sabu yang dikendalikan warga Jerman berinisial BB (35) di Perum Wahana, Banjar Semer, Kerobokan, Badung, oleh BNNP Bali membuat publik tercengang. Kuat dugaan, seperti fenomena gunung es, masih ada pabrik-pabrik lain yang lebih besar.

Beberapa bahan berbahaya pembuat Sabu-Sabu berhasil diamankan. Seperi aseton, soda api, yodium, air aki, spritus, alkohol, pupuk urea, dan NPK. Bahan-bahan itu sendiri dikenal untuk membuat Sabu-Sabu oplosan agar pengguna lebih cepat fly dan koit atau matinya cepat.

Dari beberapa sumber rujukan, Sabu-Sabu pertama kali dibuat tahun 1887 di Jerman dan dikembangkan di Jepang tahun 1919 untuk pilot kamikaze pada perang dunia kedua. Kemudian penggunaannya cepat menyebar hingga ke Geng Motor di Amerika, dan akhirnya karena dampak Sabu-Sabu yang begitu berbahaya, dunia pun melarang. Ini dampak mengerikan Sabu buatan pabrik Si Jerman di Kerobokan;

DRANO

Zat yang bisa menimbulkan korosi pada pipa dan umumnya digunakan untuk membersihkan sumbatan lemak atau rambut pada kloset.

SPRITUS

Methanol atau spritus termasuk golongan racun sangat berbahaya. Dosis 30 mililiter dan dosis 100 mililiter dapat menyebabkan kematian.

UREA

Dikonsumsi bisa merusak lampung dan menimbulkan kanker.

SODA API

Sodium Hydorxide atau soda api salah satu alkali berbahaya bagi manusia. Biasanya digunakan untuk membersihkan kerak lantai toilet.

AIR AKI

Bahan berbahaya yang begitu merusak bila dikonsumsi dan menyebabkan kematian.

YODIUM

Bisa menyebabkan gangguan tiroid.

ASETON

Bisa menyebabkan keracunan, glukosa tubuh tak terolah dan menjadi pemicu diabetes.

PENTOL KOREK

Fosfor merah bagi tubuh sangat korosit bila dikonsumsi. Umumnya pengguna Sabu akan mengalami kerapuhan tulang dan gigi. (Berbagai sumber/SN)

Reporter: VR Nugraha