#BALIASIK; Reklamasi Ingkari Spirit Bali

Sabtu, 03 September 2016 23:10 Nasional

Bagikan

#BALIASIK; Reklamasi Ingkari Spirit Bali
Seniman dan artis #BALIASIK menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa. (Ist/SN)
Denpasar, Semetonnews - #BALIASIK, kumpulan seniman yang begitu cinta dengan Bali, lewat alam dan budayannya terus menyuarakan penolakan atas rencana Reklamasi Teluk Benoa, Badung. Kendati pemerintah pusat dan daerah seakan-akan tutup mata dan telinga atas dampak yang bisa muncul dari reklamasi tersebut, #BALIASIK tetap menyuarakan penolakan itu.

#BALIASIK menilai Bali, sebagai ikon pariwisata Indonesia harus dipahami lekat dan budaya serta local geniusnya. Hanya mengakomodir kepentingan investor untuk keuntungan sesaat, itu malah akan menjerumuskan Bali ke jurang kehancuran.

"Keindahan Bali sudah diakui dunia, bahkan menjadi tempat yang harus dikunjungi sebelum kita mati," papar seniman yang tergabung dalam #BALIASIK kompak. Mereka adalah Melanie Subono, Kojek Rap Betawi, Marjinal, Brianna Simorangkir, Happy Salma, Djenar Maesa Ayu, Coky, Marcello Tahitu, Pongky Barata, Deni Frust, Tony Q, Steven Jam, Superglad, Glenn Fredly, Nosstress, Wanggi Hoediyatno, Superman is Dead, Andreas Iswinarto, Sandrayati Fay, The Hydrant, The Bullhead, Made Mawut, Navicula, Soundbowy Dodix, Made Mawut, Taring Babi, Iksan Skuter, Alit Ambara.

Eksotisme pulau terbaik nomer dua versi Travel+ Leisure tahun 2014 itu berujung pada serbuan investor. Berlomba-lomba mereka mencoba meraih sekeping hingga segepok pundi-pundi keuntungan. Tapi, sekarang fakta yang ada bali sudah overload kamar hotel. Perang dan banting harga terjadi. Belum lagi di tambah rencana mengeruk dan melakukan reklamasi di Teluk Benoa. Sebagai seniman yang memiliki kepedulian terhadap Bali, tentu mereka mendukung gerakan Bali Tolak Reklamasi.

Segala fasilitas modern turisme hendak dibangun dengan mereklamsi Teluk Benoa. Ini bukan saja berarti berkhianat pada spirit Bali yang lekat dengan adat dan budaya, juga jahat pada kelestarian lingkungan hidup. Belum lagi Bali yang sudah kelebihan ribuan kamar. "Tak perlu lagi dibangun hotel sebab sudah amat berlebih, serta trauma yang belum hilang atas kegagalan reklamasi Pulau Serangan yang terbukti menghancurkan garis pesisir dari Serangan, Sanur hingga jauh ke Utara," jelas para seniman itu panjang lebar.

Reporter: Wawan Nike
Editor: VR Nugraha