Dituntut Maksimal, Gus Nik Malah Sebut Kasusnya Bukan Kasus Pidana

Senin, 05 September 2016 23:09 Hukum & Kriminal

Bagikan

Dituntut Maksimal, Gus Nik Malah Sebut Kasusnya Bukan Kasus Pidana
Iluatrasi-google-semetomnews
Denpasar,Semetonnews-Terdakwa kasus penipuan, Ida Bagus Surya Buana alias Gus Nik yang sebelumnya dituntut oleh jaksa penuntut umum (JPU) Purwanti hukuman maksimal, yaitu 4 tahun penjara, pada sidang, Senin (5/9/2016) minta dibebaskan.

Alasanya, kasus yang menimpanya ini bukanlah kasus pidana, melainkan kasus perdata. Setidaknya hal inilah yang tertuang dalam nota pembelaanya yang dibacakan kuasa hukumnya, Rizal Akbar Maya Poetra dan Suroso dihadapan majelis hakim pimpinan Wayan Kawisada."Alasanya, antara terdakwa dan para korban, Yeremias Filmon W Santiawan, Andre Lucas Palar dan Yanto sebelumnya ada hubungan pinjam-meminjam uang,"sebut Rizal Akbar dalam pembelaanya.

Pinjam meminjam uang itu, kata Rizal Akbar,  sudah dibuktikan dengan adanya kondotel dan para korban juga sudah menikmati keuntungan. Sementara soal 3 lembar cek yang tidak ada isinya itu, dikatakan terdakwa dalam pembelaanya dikelurkan cek itu karena berada dalam tekanan. Sementara terkait hubungan pinjam meminjam uang juga sudah dibuktikan dengan adanya pengembalian senilai Rp 700 juta dari terdakwa kepada korban.

Kecuali itu, Rizal juga menyebut, berdasarkan bukti surat serta dukumen yang ada, maka kasus ini murni kasus perdata. Dikatakan pula, dalpembelaan juga disebut, saat terdakwa memohon bantuan kepada korban, tidak pernah ada rangkaian kebohongan dan bujuk rayu agar korban memberi bantuan.

Karena itu, terdakwa memohon agar majelis hakim membaskanya dari segala tuntutan. "Kami mohon terdakwa dibebaskan dari semua tuntutan jaksan" pungkas Rizal Akbar. Seperti diberitakan sebelumnya, Yeremias saat diperiksa sebagai saksi menuturkan, sekitar bulan Juni 2012 lalu, salah seorang temannya, Alfonsus Widijatmika Surya bersama terdakwa menemui dirinya dan dua saksi korban di kantornya di Jalan Muhamad Yamin No. 26 Denpasar.

Ketika. Itu, terdakwa yang akrab dipanggil Gusti ini, meminta bantuan pendanaan terkait dengan proyek pembangunan  kondotel The Jimbaran View."Menurut terdakwa, proyek terhenti disebabkan tidak ada dana untuk melanjutkan proyek tersebut,”Yeremias.Terdakwa kemudian meminta ketiga korban untuk memberikan bantuan dana agar proyek kondotel dapat dilanjutkan dengan iming – imingi memberikan keuntungan yang lumayan besar.

Untuk meyakinkan, beberapa hari kemudian terdakwa mengajak ketiga saksi korban dan Alfonsus Widijatmika  ke lokasi proyek kondotel tersebut. Seminggu kemudian, terdakwa kembali mendatangi ketiga korban di kantor mereka  dan menanyakan permintaannya dengan menebar janji keuntungan yang mengiurkan. Singkat cerita, apa yang dijanjikan terdakwa tidak juga terealisasi.

Yeremias Filmon, bersama dengan dua saksi korban lainnya, berulangkali meminta pembayaran keuntungan, sebagaimana dijanjikan terdakwa, akan dibayar setiap bulan. “Setiap kali diminta, terdakwa selalu mengatakan belum punya uang. Bahkan terdakwa menawarkan kompensasi atau pengganti dari keuntungan yang harus diberikan dengan 6 unit kondotel,"Jelas. Yeremias.Tapi pada tanggal 13 Januari 2013, ketiga korban memberikan tambahan dana sebesar Rp 4 miliar.

"Sehingga total bantuan dana yang diberikan kepada terdakwa Rp 9 miliar” kata Jeremias Filmon. Setelah itu, stiap kali kami meminta dana serta keuntungan, terdakwa selalu berkata, tunggu dulu dan secepatnya akan dikembalikan. Terdakwa juga mengatakan bahwa yang harus diselesaikan kepada kami bertiga sebesar Rp 20,850 miliar.

Reporter : Maria Gracia