Jaksa Sebut, Sakit Terdakwa Hanya Akal-akalan Saja

Senin, 05 September 2016 23:56 Hukum & Kriminal

Bagikan

Jaksa Sebut, Sakit Terdakwa Hanya Akal-akalan Saja
Made Kembir duduk sebagai terdakwa di PN Denpasar (Dok/SN)
Denpasar,Semetonnews-Setelah sekian lama menanti, terdakwa kasus penipuan dan penggelapan senilai Rp 110 juta atas sebidang tanah di Jimbaran, Badung, I Made Kembir (52) akhirnya, Senin (5/9/2016 disidangkan. Seperti diketahui, terdakwa Kembir disebut-sebut oleh pihak korban, I Wayan Suarta memang sering membuat namuver sehingga kasusnya berjalan lambat.

Sidang masih dengan agenda pembacaan dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) Yuli Peladiyanti. Jaksa Yuli sendiri, dengan tegas menyatakan agar majelis hakim menolak permohonan pengalihan penahan yang diajukan terdakwa melalui kuasa hukumnya, Made Ari Astuti. Jaksa menilai, alasan bahwa terdakwa sakit ternyata hanya mengada-ada.Setelah  dikros cek, ternyata terdakwa dalam keadaan sehat.

Malah alasan depresi berat atau gangguan jiwa yang pernah disebutkan saat penyidikan, sudah ada hasil dari dokter psikiatri RSUP Sanglah yang menyatakan terdakwa sehat. Sementara soal sakit diabetes berat yang disebutkan dideritanya, Jaksa Yuli juga menyangkalnya. Dari data jaksa, kondisi gula dalam darah terdakwa normal, dengan bukti tidak diperlukan insuline untuk terdakwa.

"Saya sudah tanyakan ke klinik Lapas Kerobokan, perban, tongkat dan segala perlengkapan kesehatan yang dibawa ke pengadilan bukan dari klinik Lapas. Jadi, kami menduga sakit itu mengada-ada," ungkapnya. Yang mengejutkan, kata Yuli, terdakwa yang disebutkan digotong kemana-mana, setelah dicek ke Lapas, malah yang bersangkutan pernah dilihat joget saat acara di Lapas belum lama ini."Dengan keyakinan itu, kami jaksa mohon kepada majelis hakim menolak permohonan itu. Karena sudah tidak ada etikad baik dari terdakwa,"tegasnya.

Seperti diketahui, penasihat hukum Kembir, yakni Made Ari Astuti mengatakan memang benar Kembir sakit."Oleh karena itu, kami ingin dia ditahan kota supaya bisa berobat," tandasnya. Sementara dalam dakwaan, yang dibacakan jaksa terungkap, perbutan  terdakwa dilakukan pada 11 February 2009 terhadap korban I Wayan Suarta dengan menjual lima are tanah di jimbaran dengan harga per arenya Rp 20 juta. Saat hendak bertransaksi, terdakwa mengatakan kepada istri korban Ni Ketut Kasiani bahwa tanah itu miliknya, namun Kembir mengaku sertidikat hak milik (SHM) itu masih atas nama I.B Gede Arthana, karena dalam proses pemecahan sertifikat.

Setelah korban menyerahkan uang secara diangsur sebanyak tiga kali, masing-masing Rp 25 juta pada 18 Februari 2009, Rp 25 juta (24 Maret 2009), Rp 50 juta (10 September 2009).Namun, setelah pembayaran secara lunas dilakukan korban dan janji terdakwa untuk mengurus akta jual beli tanah dinotaris justeru tidak terealisasi.

Terdakwa beralasan sertifikat tanah sedang diproses di Badan Pertanahan Nasional (BPN).Selain itu, terdawa meminta uang lagi kepada korban sebesar Rp10 juta dengan alasan untuk mengurus akses jalan masuk dan tanpa curiga korban menyerahkan uang miliknya. Namun, aksi terdakwa terbongkar setelah mengetahui bahwa tanah tersebut masih dalam proses sengketa antara I.B Gede Arthana dengan Ni Wayan Abeg. Akibat perbuatan terdakwa, korban mengalami kerugian mencapai Rp110 juta.

Reporter : Maria Gracia