Mr. I Gusti Ketut Pudja; Perumus NKRI dan Pemersatu Kerajaan di Sunda Kecil

Rabu, 14 September 2016 17:23 Nasional

Bagikan

Mr. I Gusti Ketut Pudja; Perumus NKRI dan Pemersatu Kerajaan di Sunda Kecil
Mr. I Gusti Ketut Pudja
Denpasar, Semetonnews - Mr. I Gusti Ketut Pudja, Pahlawan Nasional asal Buleleng yang ikut Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (saat ini Bali dan Nusa Tenggara). Dia juga hadir dalam perumusan naskah teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Dia wafat dalam usia 69 tahun pada 4 Mei 1977 di RS Cipto mangunkusumo, Jakarta, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 7 November 2011 melalui Keppres No. 113/TK/2011. 

Pudja adalah Gubernur pertama Sunda Kecil dengan ibukota di Singaraja. Terlahir pada 19 Mei 1908, anak kelima dari I Gusti Nyoman Raka, punggawa di Sukasada, Buleleng. Pudja yang menjabat sebagai Gubernur Sunda Kecil saat itu mengusulkan perkataan Tuhan di dalam pembukaan UUD 1945. Usulan itu disampaikan saat rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan tanggal 18 Agustus 1945 yang membahas Piagam Jakarta yang ditandatangani oleh sembilan tokoh nasional, yaitu : Soekarno, Moh. Hatta, A.A Maramis, Abikusno, A.K Muzakir, H.A Salim, Mr. A. Soebardjo, K. Hasjim dan Moh. Yamin.

Perbedaan prinsip yang fundamental antara Piagam Jakarta dengan UUD 1945 adalah dihilangkannya tujuh kata didalam Piagam Jakarta tersebut yaitu "dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Bung Hatta yang pada saat itu mengetahui sidang tersebut berkata:

"Dengan membuang tujuah kata-kata itu serta syarat bahwa Presiden Indonesia ialah orang Indonesia asli dan harus beragama Islam maka inilah merupakan perubahan maha penting yang menyatukan seluruh bangsa-bangsa. Syarat-syarat ini menyinggung perasaan sedangkan membuang ini maka seluruh hukum di UUD diterima oleh daerah Indonesia yang tidak beragama Islam...". 

Sepertinya alasan Pudja mengusulkan perubahan dalam UUD tersebut adalah, agar UUD 45 bisa diterima oleh seluruh penduduk yang beragam agama, yakni menyelamatkan UUD 45 dari warna khas agama tertentu. Dan puncaknya ketika Soekarno memimpin sidang PPKI menawarkan kepada hadirin tentang usul perubahan itu, tak seorang pun keberatan. Dan Soekarno pun kemudian membacakan kembali Pembukaan UUD tersebut dengan perubahan yang diusulkan Ketut Pudja. Lalu disahkan.

Pudja juga beperan menyatukan kerajaan di Pulau Bali dengan berkeliling bersama Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Sunda Kecil Ida Bagus Putra Manuaba. Mereka datang ke setiap kerajaan untuk memberi penerangan kepada raja-raja dan rakyat Bali mengenai kemerdekaan Indonesia dan telah berdirinya pemerintahan nasional RI Sunda kecil. Ia juga mengirim utusan ke Lombok dan Sumbawa Besar untuk tujuan yang sama. Di samping pembentukan KNI, di tingkat propinsi dan kabupaten dibentuk pula Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Selama menjabat Gubernur Sunda Kecil Pudja beberapa kali masuk tahanan. Pertama kali ia diculik oleh Jepang akibat penyerbuan para pemuda yang gagal untuk mendapatkan senjata pada 13 Desember 1945. Ia ditahan lebih kurang sebulan. Setelah dibebaskan dari tananan, Pudja masuk ke daerah Republik Indonesia yaitu ke Yogyakarta. Kedatangannya disambut hangat oleh Presiden Soekarno. Ia ditempatkan pada Kementerian Dalam Negeri dan diberi tugas mengikuti jalannya pemerintahan di daerah-daerah. (Berbagai Sumber/Net)

Editor: VR Nugraha