"Predatory Pricing", KPPU Awasi dan Selidiki Angkutan Online

Kamis, 29 September 2016 18:12 Ekonomi Bisnis

Bagikan

Aksi Demo Tolak Uber Dan Grab di Kantor DPRD Provinsi Bali
Badung, Semetonnews- Polemik angkutan online di Indonesia masih menjadi isu panas, hal inilah alasan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mendorong Pemerintah agar segera mengatasi dengan kebijakan atas persaingan usaha. 

Penolakan Angkutan online baik Grab, Uber, dan GoCar di Tanah Air, rupanya juga terjadi di Bali, yang mana respon yang diharap oleh warga pun tak kunjung bergulir dari pemangku kebijakan di Bali.

Dalam unjuk rasa yang dilakukan Aliansi Supir Transportasi Angkutan Bali, Rabu (28/09) kemaren, tuntutan terhadap pemangku kebijakan juga membuat anggota DPRD Provinsi Bali bergeming, " Kita akan terus menuntut janji anggota dewan agar menyelesaikan persoalan ini, " ujar Ketut Witra, dalam keterangannya kepada media di Denpasar.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf , Kamis (29/09) disela rapat terbatas di Kuta, Bali pun angkat bicara, ia menyatakan pemerintah harus segera mengatur regulasi yang jelas dan tegas, untuk setiap persaingan usaha di Indonesia, termasuk kontroversi perusahaan baru dibidang transportasi yang berbasis online. Menurutnya, jangan sampai masuknya pemain baru seperti angkutan online baik Grab, Uber, dan GoCar menjadi model persaingan yang tidak sehat atau "predatory pricing".


"Kita mendorong pemerintah mengakomodir bisnis platform dan jangan menghambat perusahaan dan pemain baru berinvestasi. Namun, setiap perusahaan yang hadir hendaknya juga mengikuti aturan perundang-undangan dan regulasi yang ada," kata Syarkawi Rauf dalam keterangannya kepada awak media, di Kuta,Badung, Kamis (29/9/2016).

Predatory pricing  sendiri adalah salah satu bentuk strategi yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam menjual produk dengan harga yang sangat rendah, yang tujuan utamanya untuk menyingkirkan pelaku usaha pesaing dari pasar dan juga mencegah pelaku usaha yang berpotensi menjadi pesaing untuk masuk ke dalam pasar yang sama.

Editor: Wawan Nike