Organisasi Jurnalis ; Boikot Lomba Photo HUT TNI

Selasa, 04 Oktober 2016 18:47 Nasional

Bagikan

Organisasi Jurnalis ;  Boikot Lomba Photo HUT TNI
Ilustrasi Photo Promosi Lomba vs Kekerasan Jurnalis
Denpasar, Semetonnews - Sikap boikot lomba photo TNI menjadi jawaban atas kasus kekerasan terhadap jurnalis,hal ini bahkan menjadi seruan resmi dari masing masing induk organisasi jurnalis se-Indonesia, seperti AJI, KJI, IJTI, Dan Indonesia Freelance Jurnalis. 

Dalam catatan kekerasan terhadap jurnalis sebelumnya terjadi di Medan, dan belum juga ada penyelesaian, hal yang sama terulang pemukulan dilakukan oknum TNI-AD Yonif 501 Raiders Madiun, meskipun sudah ada permintaan maaf, namun tidak lantas proses hukum dihentikan. 

Desakan untuk mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap jurnalis pun terus dilakukan di se-antero Indonesia. Di Denpasar , aksi difokuskan di catur muka (titik Nol ) Kota Denpasar) sayangnya tidak ada perwakilan Kodam IX Udayana yang bersedia menerima perwakilan jurnalis untuk mendengar aspirasi.

Disela aksi, Jurnalis Radar Bali, Hari Puspita, yang juga Ketua Aji cabang Denpasar, mengatakan bahwa untuk kasus kekerasan AJI secara kelembagaan menuntut agar kasus diusut tuntas bahkan sudah ada intruksi boikot untuk lomba photo dalam peringatan HUT TNI.

 "Pekerjaan jurnalis dilindungi hukum, tidak harus terulang kejadian serupa, jurnalis bekerja dilindungi undang undang, " jelasnya. 

Kekerasan terhadap jurnalis kontributor NET TV Biro Jatim wilayah Madiun , Sony Misdananto yang kebetulan rentang waktunya berdekatan dengan HUT TNI yang jatuh pada 5 Oktober 2016, bukanlah alasan membuat organisasi jurnalis untuk dengan mudah menerima permohonan maaf, seruan boikot untuk liputan lomba photo yang digelar TNI yang rencananya akan di pamerkan pada 5 Oktober 2016 ini pun tak mendapat support organisasi jurnalis. 

Seperti AJI, Kamerawan Jurnalis Indonesia , atau KJI juga mengeluarkan seruan boikot untuk lomba tersebut, sebaran boikot ini tersebar di media sosial facebook, padahal di kacamata dunia TNI memiliki nama harum menjaga perdamaian Internasional di wilayah konflik, namun menjaga rakyatnya sendiri masih di pertanyakan profesionalitasnya.

Reporter: Wawan Nike.