Menghitung Tarik Menarik Pengaruh di Internal PDIP

Selasa, 15 Maret 2016 13:47 Politik

Bagikan

Menghitung Tarik Menarik Pengaruh di Internal PDIP
(Ist/Semetonnews))
Denpasar, Semetonnews- Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali baru digelar pada tahun 2018 mendatang. Tapi geliat tarik ulur antara figur mulai terasa. Terutama di internal partai terbesar di Bali, PDIP. Bagi PDIP sesungghnya tidak begitu sulit menemukan figur yang akan didorong, pasalnya PDIP memiliki segudang kader optensial dengan jam terbang tinggi.

Namun bukan di situ letak persoalannya. Banyaknya kader potensial dengan pengaruh luas tersebut justru membuat tarik menarik di internal partai berlambang Banteng moncong putih ini sangat ketat. Sejumlah tokoh mulai disebut-sebut antara lain ketua DPD PDIP Bali I Wayan Koster, Menteri Koerpasidan UMKM AA Puspayoga serta figure yang digadang-gadang jadi kuda hitam IB Rai Dharmawijaya Mantra.

“Penjajakan di internal mengerucut pada dua nama yang akan bersaing ketat yaitu Koster dan Ajung (Pupspayoga),” kata sumber Semetonnews di internal PDIP, Selasa (15/3/2016). Terbukti kedua figur ini cukup intens bergerilya di sejumlah titik di bali. Baik di sela-sela kunjungan kerja maupun agenda pribadi lainnya. Kedua figur ini tentu punya kelebihan dan kekurangan.

Koster misalnya 3 kali terpilih sebagai anggota DPR RI menujukan kirah politisi asal Buleleng ini tidak diragukan lagi. Diperkuat posisi strategis sebagai ketua DPD menjadikan Koster punya “kuasa” menggerakan mesin partai. Selain itu modal kemenangan 5 dari 6 Pilkada serentak beberapa waktu lalu bisa jad modal mendapatkan tanda tangan ketua umum.

Di sisi lain Puspayoga punya segudang bekal merebut hati ketua umum Megawati Sokarno Putri. Puspayoga adalah kader militant yang tumbuh bersama PDIP. Pernah menduduki posis pengurus mulai dari level bawah. Turut berdarah-darah membesarkan PDIP di Bali.
 
“Barisan kader militan sangat menghormati Ajung,” lanjut sumber tersebut. dijelaskan sumber tersebut soal kemenangan lima pilkada lalu oleh kubu Koster bisa dipatahkan pendukung Ajung. Pasalnya dari lima kmenangan 4 di antaranya adalah incumbent, yang tidak lain prosesnya sudah dmulai sejak PDIP Bali masih dipimpin AA Oka Ratmadi yang tidak lain adalah kaka kandung Ajung. Artinya secara matematika politik Koster hanya memenangkan 1 pilkada dan gagal di 1 pilkada lainnya yaitu Karangasem.

Namun sumber ini menegaskan apapun pertimbanganya kunci akhir tetap di tangan ketua umum. Apakah rekomendasi jatuh ke tangan Koster atau Ajung. “Seluruh kader sudah tahu semua menunggu perintah ibu, siapa paling “disayang” itulah yang dapat rekomendasi,” tegasnya.

Penulis   : Robinson Gamar