Mantan Hakim Kuasai Barang Bukti, Jaksa Gagal Laksanakan Eksekusi

Minggu, 09 Oktober 2016 18:13 Hukum & Kriminal

Bagikan

Mantan Hakim Kuasai Barang Bukti, Jaksa Gagal Laksanakan Eksekusi
Ilustrasi-google -semetonnews
Denpasar,Semetonnews-Jaksa Kejaksaan Tinggi Bali benar-benar dibuat pusing dalam menangani perkara korupsi pembebasan lahan By Pass IB Mantra, Desa Keramas, Gianyar. Bagaimana tidak, kasus yang seharusnya sudah selesai, ternyata masih menysihakan perkara baru. Perkara baru ini muncul saat Jaksa hendak melakukan eksekusi tanah seluas 5 are yang menjadi barang bukti (BB) dalam perkara yang menjerat Made Bawa itu.

Lahan yang seharusnya kosong itu ditemui berdiri sebuah bangunan. Setelah ditelusuri oleh salah satu Jaksa eksekutor, Wayan Suardi, bangunan itu ternyata milik mantan hakim berinisial IB RP. Akibatnya, eksekusi terhadap BB kasus ini pun tidak bisa dilakukan.“Dilokasi sudah ada bangunan permanen dan sekelilingnya sudah ditembok tinggi,”jelas Suardi, belum lama ini.

Dijelaskanya, orang yang kini menguasai lahan tersebut adalah mantan hakim berinisial IB RP. Dari pengakuan IB RP, lahan tersebut disewa dari dua PNS Pemkab Gianyar yang merupakan terpidana kasus korupsi pemalsuan tanda tangan Bupati Gianyar untuk Surat Ijin Menggarap (SIM). Dengan begitu, kata Suardi, penyidik sedang melakukan penyelidikan baru terkait penguasaan lahan ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam kasus mark up pembebasan lahan di Jalan Prof. IB Mantra ini, majelis hakim tipikor beberapa waktu lalu menjatuhkan putusan 4 tahun penjara terhadap Made Bawa. Bawa dihukum 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 1 tahun penjara karena terbukti malanggar Pasal 2 UU Tipikor.

Setelah putusan hakim memiliki kekuatan hukum tetap (Incraht), Jaksa selaku eksekutor langsung melakukan upaya eksekusi. Tapi eksekusi terhadap barang bukti tidak dilakukan karena ada pihak ketiga yang mengusai lahan yang  yang akan dilakukan eksekusi.

Sementara itu, kasus yang menjerat terpidana Made Bawa ini berawal saat dilakukan pembebasan lahan di Desa Keramas, Gianyar untuk By Pass IB Mantra. Di lokasi ini, Bawa memiliki tanah seluas 1.200 m2 yang sudah dijual kepada Putu Renaya Prawita pada 1995. Saat dilakukan pembebasan lahan, tanah yang sudah menjadi hak milik Putu Renaya Prawita sudah dibebaskan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bali seharga Rp 30 juta dan sertifikatnya sudah dimatikan di  BPN Gianyar.

Dalam pembeasan ini, yang kena untuk badan jalan By Pass IB Mantra hanya 700 m2. Sisanya ada 500 m2. Nah, tanah sisa 500 m2 yang seharusnya sudah menjadi milik pemerintah inilah yang dijual oleh Bawa. Bawa menjual tanah seluas 250 m2 kepada Ketut Sangker sebesar Rp 30 juta dan keluar sertifikat 2432. Sukses dalam transaksi pertama, tersangka Bawa kembali menjual sisa tanah 250 m2 kepada Ketut Maryana seharga Rp 30 juta.

Pada saat pengajuan pensertifikatan tanah inilah BPN Gianyar tidak mau menandatangani karena akhirnya tahu jika tanah tersebut milik pemerintah. Hanya saja, BPN Gianyar sudah terlanjur mengeluarkan sertifikat sebelumnya dengan nomor 2432. Akibat perbuatan Bawa, penyidik menghitung adanya kerugian negara mencapai Rp 2,5 miliar

Reporter : Maria Gracia