Usai Divonis 3,5 Tahun, Winasa Sebut Putusan Hakim Seperti Paket KFC

Rabu, 12 Oktober 2016 22:06 Hukum & Kriminal

Bagikan

Usai Divonis 3,5 Tahun, Winasa Sebut Putusan Hakim Seperti Paket KFC
Simon Nahak (kanan) menyatakan siap mengajukan banding atas putusan Hakim Sukanila (SN)
Denpasar,Semetonnews-Walaupun dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi bantuan bea siswa STIKES dan STITNA di Jembrana dan divonis hukuman 3,5 tahun penjara, tapi tetap membuat mantan bupati Jembrana, I Gede Winasa tersenyum.

Bahkan dengan enteng dia menyatakan tetap pada pendirianya yaitu tidak merasa bersalah dalam kasus ini."Saya tetap tidak bersalah,"kata Winasa yang ditemui usai sidang. Bahkan Winasa menilai, putusan hakim ini seperti paket KFC. Disebut seperti paket KFC karena hanya berpatokan pada 3/4 dari tuntutan jaksa.

"Saya menilai putusan hakim mirip paket KFC. Tidak ada pertimbangan yang berarti buat saya, sehingga putusan ini sangat normatif,"kata Winasa. Tak hanya itu, Winasa juga mempertanyakan putusan hakim yang menyebut ada aliran dana yang masuk ke rekining BRI miliknya.

"Tidak pernah terungkap, tapi dijadikan pertimbangan,"kata Winasa. Sementara Simon Nahak, kuasa hukum Winasa mengatakan, uang yang disebut ditransfer ke rekening terdakwa itu tidak ada pembuktianya."Uang yang ditransfer itu tidak ada pembukantianya,"tegas Simon Nahak.

Soal kerugian negara, Simon mengatakan, kerugian negara yang mana?. Dijelaskanya, dalam membongkar suatu kejahatan, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah pelaku, kedua pembuktian dan yang ketiga adalah korban."Sekarang katakanya klein kami ini adalah pelaku. Tapi persoalanya adalah ini persoalan yuridis,"terangnya.

Disebutkan pula, dalam putusan hakim, ada pertimbangan soal hirarki perundang-udangan untuk menggunakan Perbub (peraturan bupati) sebagai barang bukti. "Ini kan tidak masuk dalam hirarki perundang-undangan. Jadi bagaimana Perbub bisa dijadikan barang bukti. Ini aneh,"tegas Simon Nahak.

Kemudian, soal kerugian negara yang juga disebut majelis hakim dalam putusanya juga menjadi pertanyaan."Soal kerugian negara, dalam kasus ini siapa yang dirugikan, bea siswa sudah diterima oleh maha siswa dari mulai sekolah sampai mereka tamat. Jadi dimana kerugian negaranya,"ungkap Simon Nahak.

Pertimbangan yang meringankan lain, sebut Simon Nahak, selama terdakwa menjadi bupati di Jembrana, banyak kebijakanya yang membantu masyarakat."Sehingga kami menilai ada kotradiksi antara pertimbangan normatif dengan pertimbangan empirik, sehingga ada cela bagi kami untuk mengajukan banding,"pungkas Simon Nahak.

Reporter : Maria Gracia