Pelaku Ngaku Keluarga Jendral, Penanganan Kasus Lakalantas Jalan di Tempat

Kamis, 20 Oktober 2016 12:30 Hukum & Kriminal

Bagikan

Pelaku Ngaku Keluarga Jendral, Penanganan Kasus Lakalantas Jalan di Tempat
Pengacara BAHUHAM Flobamora, Julius Benyamin Seran. (Robi/Semetonnews)
Denpasar, Semetonnews - Aroma busuk mencuat dari kasus kecelakaan lalu lintas yang dialami Tinus Ayub (26). Pasalnya sampai Ayub menghembuskan nafas terakhir di RSUP Sanglah pada Rabu (19/10/2016) lalu, Polres Gianyar belum juga menetapkan tersangka. Padahal barang bukti berupa 1 unit kendaraan telah disita. Namun anehnya barang bukti tersebut sempat diserahkan jajaran polisi setempat kepada pemilik mobil dengan alasan pinjam pakai.

Untuk diketahui pada Minggu (16/10/2016) lalu Ayub menjadi korban tabrakan yang terjadi di Jln Umum Banjar Blahtanah Desa batuan Kaler, Sukawati - Gianyar. Ayub yang mengendarai sepeda motor ketika itu ditabrak mobil Ertyga dengan nomor polisi DK 1187 KP yang dikemudikan oleh I Nyoman Sudiasa asal Tampaksiring. Belakangan kendaraan ini diketahui milik IB Baskara yang juga asal Tampaksiring, Gianyar.

Ayub kemudian dilarikan ke RSUP Sanglah untuk menjalani perawatan. Namun sayang nyawanya tidak tertolong akibat pendarahan dan leher patah. Dalam ketidak pastian proses hukum ini keluarga korban sempat mendatangi Polsek Sukawati, Gianyar pada Rabu (19/10/2016) untuk menyelesaikan urusan administrasi korban.

Keluarga korban ketika ini bertemu dengan oknum yang mengaku sebagai pemilik mobil. Di hadapan polisi pemilik mobil tersebut sesumbar sebagai anak mantan Jenderal polisi. Bahkan menantang keluarga korban maunya apa. Apakah mau damai, lanjut atau ribut. Polisi sama sekali tidak beraksi atas pernyataan ini. Bahkan oknum tersebut sempat menelpon seseorang kemudian hp diserahkan kepada kepada penyidik Polsek Gianyar.

“melalui telpon penyidik saya sempat dengan polisinya bilang ‘siap komandan’,” kata Dule, salah seorang kerabat yang datang ke Polsek Sukawati, Kamis (21/10/2016). Sementara itu pengacara Bantuan Hukum dan HAM (BAHUHAM) IKB Flobamora Bali Julius Benyamin Seran mengaku heran polisi belum juga menahan pengemudi mobil Ertyga maut tersebut.

"Pengalaman kami menangani kasus serupa selama ini kalau kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang pasti langsung ditahan. Anehnya ada orang datang dan mengaku anak jendral lalu berkoar-koar," kata Benyamin, Kamis (20/10/2016) di Denpasar.Menurutnya sangat janggal polisi menyerahkan barang bukti berupa mobil kepada pemilik tanpa ada proses rekonstruksi terlebih dahulu. 

Anehnya barang bukti ini dikembalikan ke polisi justru setelah tim BAHUHAM melakukan pengecekan ke Polres Gianyar. "Anehnya setelah dipinjam pakai lalu kami presure tiba-tiba pihak Polres Gianyar menelpon kami katanya barang bukti dikembalikan. Kalau prosedurnya benar kenapa dikembalikan, patut diduga ada miss prosedural,"kata Benyamin.

Kejanggalan lainnya adalah penyidik Polisi menggunakan pasal 310 ayat 1 UU nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Ayat ini mengatur kecelakaan yang mrnyebabkan barang rusak. Sejatinya menurut Benyamin pasal yang dikenakan adalah pasal 310 ayat 4 yang mengatur kecelakaan yang menyebakan hilangnya nyawa dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 12 juta.

"Kami akan mendorong kasus ini diselesaikan di pengadilan. Biarkan hakim yang menentukan siapa yang bersalah," tegas Benyamin. Jika Polres Gianyar tidak serius menangani hal ini BAHUHAM tidak akan tinggal diam dengan menyurati Bidang Propam Polda Bali dengan tembusan Ombudsman Bali, Kapolda Bali, Kapolri sampai presiden Republik Indonesia.

"Bayangkan kalau korbannya anak jendral dan pelakunya orang kecil apakah tidak ditahan juga. Publik perlu berjuang agar seluruh warga negara memiliki kedudukan sama di muka hukum, equality before the law," tegas Benyamin.

Reporter   : Robinson Gamar