Inilah Rincian kenaikan Iuran BPJS

Rabu, 16 Maret 2016 16:28 Nasional

Bagikan

Inilah Rincian kenaikan Iuran BPJS
(Ist/Semetonnews)
Denpasar, Semetonnews- Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan  akan memberlakukan kenaikan tarif iuran mulai 1 April 2016 mendatang. Kenaikan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden nomor 19 Tahun 2016 tentang Jaminan Kesehatan.

Dalam Perpres tersebut, khususnya dalam Pasal 16 huruf F ayat (1), dijelaskan tarif terendah menjadi Rp 30.000 yang awalnya Rp 25.500 untuk kelas IIII.  Sedangkan, iuran Kelas II yang semula Rp 42.500 menjadi Rp 50.000 dan kelas I yang  semula Rp 59.500 menjadi Rp 80.000.

Kepala Departemen Hukum, Komunikasi Publik, Kepatuhan Publik BPJS Kesehatan Devisi  Regional XI, Ivonny E. Salassa, dalam kegiatan sosialisasi perpres nomor 19 Tahun 2016, Rabu (16/3/2016) menjelaskan, kenaikan tarif iuran ini dilakukan demi Ketersediaan, Kelancaran, dan Keberlanjutan (3K) program jaminan kesehatan. Kenaikan tarif ini juga akan menyesuaikan peningkatan manfaat pelayanan kesehatan.

"Dalan Perpres 19 ini tarif iuran Peserta Pekerja Swasta, buruh, PNS, TNI, Polri, tidak naik. Justru Perpres ini memberikan ruang untuk penambahan manfaat baru jaminan kesehatan bagi peserta  antara lain meliputi pemeriksaan non emergensi di UGD, akupuntur medis pasca HTA, dan pelayanan KB," jelasnya.

Dalam kesempatam tersebut Kepala UPT JKBM Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ir. IGAP Mahadewi,M.Kes, mengatakan, untuk wilayah Provinsi Bali pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dari faskes terendah sehingga sistem pengobatan berjenjang bisa berjalan efektif. Selama ini rumah sakit Sanglah sebagai rumah sakit tersier seringkali kewalahan menangani pasien karena ketidaktahuan masyarakat tentang proses pengobatan dengan menggunakan kartu BPJS.

"Kenaikan iuran ini tentu berbarengan dengan peningkatan kualitas pelayanan mulai dari jenjang terendah seperti puskesmas dan klinik," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Sanglah, dr. Anak Ayu Sri Saraswati, M.Kes, menegaskan, rumah sakit Sanglah merupakan rumah sakit tersier yang mana menjadi terminal terakhir rujukan. Karena itu, masyarakat disarankan untuk memanfaatkan faskes tingkat pertama. " RSUP Sanglah memiliki sekitar 765 bad dan 46 persen diantaranya diperuntukan bagi kelas III," ujarnya.

Saraswati tak menampik jika RSUP Sanglah seringkali kehabisan kamar perawatan sehingga pasien harus antri dalam waktu yang lama. "Jangan semuanya jadi pasien emergency padahal masih bisa dirawat di faskes primer,"tutupnya.

Penulis   : Robinson Gamar