Google Membawa Pengalaman Menikmati 7 Museum di Indonesia dengan Art Camera dan Google Cardboard

Senin, 07 November 2016 08:22 Budaya & Pendidikan

Bagikan

Google Membawa Pengalaman Menikmati 7 Museum di Indonesia dengan Art Camera dan Google Cardboard
Siswa-siswa sedang mencoba serta mendengarkan penjelasan mengenai kegunaan Google Cardboard 360 dengan teknologi virtual reality yang kini dapat diaskes dengan mudah melalui ponsel lewat aplikasi Google Arts & Culture yang tersedia di Android dan iOs.

Lebih dari 1000 koleksi Batik dan tekstil bersejarah akan dibawa ke ruang digital dengan teknologi Google Art Camera untuk pertama kalinya. 

Tur virtual 3600 sekarang dilengkapi dengan Google Cardboard, membuka akses bagi siapa saja untuk mengapresiasi sejarah dan ragam budaya Indonesia dengan cara yang baru dan inovatif.




Jakarta, Semetonnews ━ Indonesia dengan begitu banyak peninggalan budaya, seni rupa dan sejarah dari masa lampau hanya bisa dinikmati apabila kita berkunjung ke museum atau sarana peninggalan bersejarah lainnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dan kemudahan akses informasi melalui Internet, semua orang di seluruh dunia mencari informasi melalui dunia maya, di mana setahun yang lalu Google Arts & Culture telah bekerja sama dengan Taman Wisata Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Ratu Boko serta Museum Nasional untuk membantu melestarikan warisan Indonesia secara digital.




Atas dasar tersebut, hari ini 7 museum dan institusi di Indonesia ditambahkan ke dalam platform Google Arts & Culture lewat sebuah teknologi baru bernama Art Camera dan Google Cardboard. Sebagai usaha untuk melestarikan warisan budaya bagi generasi mendatang dan mempromosikannya ke kancah dunia, peluncuran hari ini diharapkan memberi pengalaman berbeda melalui teknologi baru yang diperkenalkan pada acara di Museum Nasional hari ini. 


Adapun 7 museum tersebut adalah Museum Tekstil dan Museum Seni Rupa & Keramik, Galeri Batik, Monumen Nasional (MONAS), Museum Purbakala Sangiran, Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan and Ratu Boko, Yayasan Biennale Yogyakarta, dan Agung Rai Museum of Art (ARMA).



Bersama dengan Yayasan Batik Indonesia, sebuah inisiasi dicanangkan untuk membawa lebih dari 1000 koleksi Batik dan tekstil bersejarah ke ruang digital melalui teknologi kamera resolusi gigapixel bernama Art Camera yang dapat menangkap goresan batik Indonesia dengan sangat detail. Selain itu, para pelajar, peneliti dan juga penikmat seni di Indonesia dan seluruh dunia bisa mendapatkan pengalaman nyata berada di museum lewat teknologi virtual reality bernama Google Cardboard. Semua ini juga dapat diaskes dengan mudah melalui ponsel lewat aplikasi Google Arts & Culture yang tersedia di Android dan iOs. 


Beberapa pilihan koleksi terbaik yang ditampilkan hari ini adalah:

Ratusan Batik dan kain peninggalan sejarah lainnya dari Museum Tekstil, dari Sumatera Utara ke Nusa Tenggara Timur. 

Tur virtual 360 derajat dari Museum Purbakala Sangiran, memberi akses bagi siapapun untuk mengetahui tempat penemuan Java Man yang pertama.

Gambar 360 derajat dan teknologi Google Cardboard di Monas, dimulai dari lantai bawah hingga konservatorium lantai atas. 



“Direktorat Jenderal Kebudayaan menyambut baik upaya digitalisasi warisan tradisi budaya Indonesia yang dilakukan atas inisiatif Google Arts & Culture bekerjasama dengan Museum Tekstil Jakarta, Galeri Batik - Museum Tekstil, Monumen Nasional Jakarta (MONAS), Museum Purbakala Sangiran, Museum Seni Rupa dan Keramik, Yayasan Biennale Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta), Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, dan Museum Seni Agung Rai (ARMA). Usaha semacam ini perlu dikembangkan lebih jauh ke depan sehingga kekayaan warisan budaya bangsa Indonesia dapat merasuk ke dalam alam imajinasi warga dunia," ujar Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud. 


“Ada begitu banyak kekayaan dan material penting dari kultur Indonesia - seni, sejarah, dan peninggalan - yang sebelumnya hanya dapat dilihat oleh mereka yang cukup beruntung bisa mengunjungi tempat-tempat ini. Google Arts & Culture adalah usaha kami untuk membuat material budaya tersedia dan dapat diakses oleh siapa saja, melestarikannya secara digital untuk kepentingan edukasi dan menginspirasi generasi mendatang,” tambah Dennis Dizon, Program Manager, Google Cultural Institute.


Dengan peluncuran hari ini, semua koleksi dari total 8 museum dan tempat bersejarah di Indonesia secara resmi dapat diakses dan dijelajahi oleh siapapun yang memiliki koneksi Internet aplikasi Google Arts & Culture di perangkat Android dan iOS. 



Reporter: Wawan Nike