Ahli Bahasa Nilai Postingan Aridus Tidak mengandung Unsur Pencemaran Nama Baik Atau Menyebar Kebencian SARA

Jumat, 25 November 2016 13:02 Hukum & Kriminal

Bagikan

Ahli Bahasa Nilai Postingan Aridus Tidak mengandung Unsur Pencemaran Nama Baik Atau Menyebar Kebencian SARA
Prof. Dr. I Wayan Pastika, MS (baju putih) saat memberikan keterangan. (Robi/Semetonnews.com)
Denpasar, Semetonnews - Sidang pra peradilan dugaan pencemaran nama baik dan menyebarkan kebencian melalui akun facebook dengan tersangka Made Sudira alias Aridus kembali digelar pada Jumat (25/11/2016) di pengandilan negeri (PN) Denpasar. Sidang yang dpimpin hakim tungggal I Ketut Suarta kali ini dengan agenda menghadirkan saksi baik oleh pihak pemohon maupun termohon. Namun dalam kesempatan ini hanya pihak pemohon dalam hal ini kuasa hukum Aridus yang mendatangkan dua orang saksi.

Pengacara pemohon yang hadir antara lain Agus Samijaya, SH, Valerian Libert Wangge, SH, Agustinus Nahak, SH, Yanuar Nahak, SH, I Nengah Sukardika, SH, serta Ida I Dewa Ayu Dwiyanti, SH. Adapun saksi yang dihadirkan pihak pemohon adalah ahli bahasa dari universitas Udayana Prof. Dr. I Wayan Pastika, MS dan tokoh Griya Tampak Gangsul, Denpasar IB Gana. 

Dalam kesaksiannya sebagai ahli bahasa Prof. Dr. I Wayan Pastika, MS mengatakan kalimat-kalimat atau status yang diposting Aridus melalui akun facebooknya tidak mengandung pencemaran nama baik atau menyebar informasi yang mengandung kebencian berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

"Saya menilai itu kritik bukan penghinaan atu kebencian. Juga ada bahasa Balinya, ini merupakan bentuk partisipasi untuk diskusi bukan umtuk menyebar kebencian," kata Pastika. Untuk membedah kalimat tersebut menggunakan tiga paramater yaitu kosakata, struktur dan tata bahasa. 

Dalam kapasitasnya sebagai ahli bahasa tidak menemukan unsur kata atau kalimat yang menunjukan adanya kebencian atau hasutan berbau sara. Apalagi dalam kalimat disertai dengan adanya kata 'ada yang berasumsi..' disertai tanda tanya di akhir kalimat.

"Ada yang berasumsi bisa dimaknai adanya orang lain yang berasumsi, kemudian ini merupakan bentuk pertanyaan, kalau dijawab maka selesailah persoalannya," tambah Pastika. Selain itu dalam mebedah teks tentu tidak bisa dilepaskan dari konteksnya. Konteks dalam hal ini adalah latar belakang budaya. Dalam hal ini adanya upacara Ngangget Don Bingin dan keberadaan pohon beringin di Jayasabha.


Dalam konteks budaya inilah dapat dimaknai pemangkasan pohon beringin tidak brarti pemangkasan sampai habis. Tapi dapat dimaknai pemangkasan yang menyebabkan pohon beringin tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk upacara. Selain itu dari aspek konteks budaya juga dapat dimaknai apakah pemangkasan tersebut telah melalui upacara khusus atau dengan meminta ijin kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pohon tersebut, desa adat misalnya.

"Pemangkasan sampai habis itu teks, tapi tidak bisa dilepaskan dari konteksnya apakah dengan pemangkasan itu menyebabkan tidak berfungsi sebagaimana mestinya atau apakah saat dipangkas telah meminta ijin pada desa adat setempat. Sebab pohon beringin yang sudah diupacarai tidak bisa disamakan dengan benda-benda umum lainnya," kata Pastika.

Pastika juga menekankan penulis status adalah warga adat. Kegelisahannya bisa disampaikan melalui media apa saja. "Bahkan ada teks yang lebih keras, tapi dalam kalimat ini saya tidak menemukan adanya unsur kebencian," tegas Pastika.

Pendapat ini kemudian dijadikan bahan pertimbangan oleh hakim untuk membuat keputusan apakah akan menerima atau menolak permohonan pra peradilan yang diajukan pihak Aridus. Rencananya keputusan akan dibacakan pada Senin (28/11/2016) mendatang.


Reporter   : Robinson Gamar