Pastika : Teks Status Facebook Aridus Jiro Murni Kegelisahaan Budaya

Jumat, 25 November 2016 18:03 Nasional

Bagikan

Pastika :  Teks Status Facebook Aridus Jiro Murni Kegelisahaan Budaya
Lembaran Surat Bukti Postingan Status Aridus Jiro, (nike-sn)

Denpasar, Semetonnews - Inilah uraian Prof Dr . I Wayan Pastika , MSi , Dosen Ahli Bahasa Fakultas Bahasa Unud, Ahli dihadirkan oleh Tim Kuasa hukum Made Sudira dalam persidangan Kasus Don bingin. Made Sudira dilaporkan oleh Gubenur Bali Made Mangku Pastika, karena dianggap menghina dan menebar kebencian, sidang praperadilan yang dipimpin oleh Hakim Tunggal I Ketut Suatra ini digelar dalam agenda pembuktian di PN Denpasar.

Sebagai ahli bahasa, Prof Dr . I Wayan Pastika , MSi menjelaskan secara gamblang, jika dilihat dari struktur bahasa terdapat tiga struktur pemaknaan kalimat, struktur bahasa meliputi kosakata, struktur pesan meliputi isi atau maksud dari kalimat, struktur semantik, dimana kalimat itu memiliki alur dan menghasilkan makna.

 

Postingan status facebook Aridus Jiro tersebut merupakan kritik yang bersumber dari struktur pesan, yang di perolehnya dari suara masyarakat, yang mana kesulitan saat akan ngangget don bingin sebagai syarat ritual, sementara dalam teks status tersebut, ada keraguan penulis ( Made Sudira ) jika dilihat dari struktur kosakata , dimana ada penggunaan kalimat “mungkin”, sehingga status tersebut bersifat  pertanyaan yang disampaikan dalam media sosial.


“Kritik itu terjadi karena saya melihat bahwa proses ngangget don bingin tidak bisa berlangsung, karena ada pemangkasan daun beringin itu, apakah pemangkasan daun beringin itu sudah ada koordinasi dengan masyarakat atau desa pakraman, kalau ada  komunikasi dengan desa pakraman tentu tidak ada persoalan,”kata Pastika.


Dalam struktur konteks kalimat menurut Prof Pastika ia menguraikan, pemangkasan beringin adalah sebuah teks, teks bisa peristiwa ataupun bahasa,  mengapa pohon beringin itu dipangkas itu ada alasannya. Tetapi konteksnya adalah ini peristiwa ritual budaya, nah siapa yang bertanggung jawab ini adalah Desa Pakraman, apakah desa pakraman sudah diajak koordinasi, dengan adanya pemangkasan pohon beringin yang digunakan proses ritual itu?


Kalau partisipan pendukung (warga / desa pakraman) disebut sebagai konteks dari teks itu diajak koordinasi tentu tidak akan ada interpretasi yang berbeda, misalnya begini, pohon beringin ini akan dipangkas tapi masih bisa digunakan untuk proses ritual, tentu akan bisa di pangkas sampai sekian, (ada komunikasi)  jika tidak berarti ada kesalahan komunikasi.


Struktur semantik, atau alur cerita, bahwa tanggapan masyarakat berbeda beda, salah satu tafsirnya adalah pihak jaya sabha tidak menghendaki adanya upacara besar disana. 


Menurut Pastika penafsiran apapun bentuknya itu (termasuk kalimat diatas) adalah sah sebagai hak dari setiap individu, “ dengan jumlah massa besar, takutnya menganggu aktivitas itu sah saja, karena itu sebuah tafsir  boleh siapa saja yang memberikan tafsir apalagi masyarakat, sah saja pihak jaya sabha tidak menghendaki adanya aktivitas itu, itu hanya tafsir saja bukan menebar kebencian, bukan penghinaan, bukan penistaan, itu kritik bagi kita semua,”gamblangnya. 


Pendapat penutupnya dalam persidangan pastika justru menyatakan bahwa kunci persoalan ini adanya  di dalam buruknya komunikasi, “saya melihat dalam posting ini bukan hanya bahasa Indonsia saja, tapi ada bahasa Bali, ini jelas bentuk partisipasi dalam mendukung budaya Bali, murni kritik dan tidak ada menebar kebencian dan penghinaan, karena jelas di Bali ada aturan Dinas dan Adat, saya melihat ini sebatas adalah tidak adanya komunikasi.” (SN). 


Reporter : Wawan Nike