Menyimak Munir, Mendalami Hak Asasi Manusia

Minggu, 04 Desember 2016 19:38 Budaya & Pendidikan

Bagikan

Menyimak Munir, Mendalami Hak Asasi Manusia
Munir (google-SN)
Malang, Semetonnews - Menyambut peringatan hari HAM sedunia, yang juga bertepatan dengan tiga tahun berdirinya Omah Munir pada Desember ini. Omah Munir menyelenggarakan lomba debat Hak Asasi Manusia (HAM) bagi siswa SMA/MA/SMK. Lomba debat sebagai bagian dari upaya Omah Munir untuk terus mendorong dialog yang konstruktif pada isu-isu HAM, dan mengembangkan pendidikan HAM bagi generasi muda.

Melalui lomba debat, Omah Munir ingin mengajak para pemuda memperdalam pengetahuan, mengasah wawasan baru dalam berbagai isu dan perdebatan seputar pemenuhan HAM. Selain itu, mendikusikan HAM secara fundamental juga mempengaruhi cara pandang seseorang dalam melihat masalah, sehingga diharapkan mempunyai keberpihakan terhadap yang lemah yang rentan pada pelanggaran HAM.

Dalam membangun demokrasi yang bermutu, diperlukan debat yang konstruktif, dengan memegang prinsip-prinsip penghormatan terhadap HAM, bukan ujaran kebencian bernuansa SARA yang marak terjadi akhir-akhir ini. 

Puluhan anak-anak muda akan berdebat, beradu argumen, melatih nalar kritis, memperdalam data dan menguak fakta. Masing-masing sekolah terdiri dari empat orang peserta yang terdiri dari: SMKN 3, SMA Muhamadiyah 1, SMA Brawijaya Smart School, SMA Surya Buana, SMAN 4, SMA Diponegoro Tumpang, MAN I Malang dan SMAN 6 Malang.  

"Dalam tema Menyimak Munir, Mendalami HAM ini kami mengajak para siswa untuk membangun nalar kritis dan budaya kritis. Salah satunya memahami lebih jauh siapa itu Munir? Prinsip-prinsip dasar kemanusiaan (HAM) seperti apa yang dipegang dan perjuangkan oleh almarhum? Bagaimana kelanjutan kasusnya? Dan tentu saja untuk mengetahuinya dibutuhkan penelusuran yang dalam, luas, serta bangunan argumen yang mumpuni,” ujar Suciwati.

Sejak tanggal 2 hingga 8 Desember 2006 mereka akan bersaing mendiskusikan sejumlah topik debat pro dan kontra. Pada babak penyisihan: 1.) Membawa Kasus Kejahatan Masa Lalu 1965 ke Mahkamah Internasional, Den Haag; 2) Rekonsiliasi Kasus Pelanggaran HAM Paska DOM Aceh Tahun 1998 – 2005; 3) Kenaikan Upah di Setiap Hari Buruh; dan 4) Pengadilan HAM bagi Kasus Penculikan Tahun 1997 – 1998. 

Pada babak semifinal akan didiskusikan dua topik debat: Kriminalisasi Guru sebagai Resiko Penegakan Disiplin dalam Dunia Pendidikan dan Presiden Indonesia Harus Orang Indonesia Asli. Untuk topik debat babak final adalah Peninjauan Kembali Kasus Munir.
Selanjutnya penyerahan hadiah akan diisi dengan ceramah HAM bersama Usman Hamid (aktivis HAM),  Herlambang (ahli hukum), serta pertunjukan seni: tari topeng Malangan, musik dan lain sebagainya.

Dewan juri debat akan diisi oleh Destriana Saraswati (Univ. Brawijaya), Harris El Mahdi (Omah Munir), dan Aji Prasetyo (Komikus). Pemandu debat terdiri dari Abdul Mu’id Aris Shofa (Univ. Brawijaya), Mifdal Zusron Alfaki (Univ. Brawijaya), Andhika Yudha Pratama (Univ. Negeri Malang), Widya Noventari (Univ. Wisnuwardhana), dan Septian Negara (Univ. Negeri Malang).

Rencananya acara dirangkai sejak 2 Desember 2016 sampai dengan 10 Desember 2016, dalam kegiatan ini, juga digelar bincang HAM, Performance Art, lalu diakhiri dengan Aksi bersama peringatan HAM sedunia di Alun Alun Batu. 

Lomba debat kali ini diselenggarakan Omah Munir ( www.omahmunir.org )  dengan dukungan banyak sahabat Munir dan sejumlah mitra dari The Bodyshop Indonesia, TIfa Foundation, Lubis-Santosa & Maramis Law Firm, Imparsial, ISPI dan BEM FIS Universitas Negeri Malang. (rls/SN)