Hakim Ancam Saksi Dengan Pasal Keterangan Palsu

Kamis, 08 Desember 2016 21:47 Hukum & Kriminal

Bagikan

Hakim Ancam Saksi Dengan Pasal Keterangan Palsu
Saksi Michael Maksi , Bersumpah di Depan Hakim (SN)
Denpasar, Semetonnews - Ada yang menarik dalam persidangan pengembangan kasus korupsi parkir Bandara Ngurah Rai Bali dengan terdakwa Sylvia Kunthie. Dalam persidangan yang digelar Rabu (07/12/2016) di pengadilan Tindak Pidana Korupsi, jaksa penuntut umum dari kejaksaan negeri Denpasar menghadirkan dua saksi terpidana dalam kasus yang sama, Michael Maksi, mantan manager operasional PT Penata Sarana Bali (PSB) dan Indra Pura Barnoza, mantan general manager PT PSB.

Michael Maksi atau yang kerap disapa Miki mendapat kesempatan pertama menjalani pemeriksaan di persidangan. Majelis hakim yang diketuai oleh Sutrisno, mengawali dengan mengambil sumpah terpidana sepuluh tahun tersebut.

Hakim memberikan kesempatan pertama kepada jaksa penuntut umum untuk mengajukan pertanyaan kepada saksi. Dengan terbata-bata saksi memberikan keterangannya. Saat saksi terkesan ragu dengan keteranganya terkait prosedur pelaporan pendapatan parkir, Suryawan jaksa penuntut umum, membacakan keterangan saksi dalam berita acara pemeriksaan dengan harapan saksi ingat kembali dengan keteranganya. Sikap ini mendapat protes keras dari kuasa hukum terdakwa, Putu Gede Dharmawan karena dinilai mendikte saksi agar menjawab sesuai harapan jaksa. “Saya harap penuntut umum meminta keterangan saksi sesuai dengan keinginan penuntut umum tetapi bukan memaksa, jadi keberatan penasihat hukum bisa kita maklumi,” ucap Sutrisno, ketua majelis hakim menanggapi keberatan kuasa hukum.

Dalam keteranganya saksi juga mengatakan bahwa terdakwa tidak turut serta membuka dan menghitung uang dalam brankas. “Yang membuka brankas adalah saya dan Rudy Sitorus,” ungkap Michael Maksi dihadapan persidangan. Keterangan ini pun berbeda dengan dakwaan jaksa yang menyatakan terdakwa datang setiap hari membuka brankas bersama Miki dan Rudy Jhonson Sitorus.

Persidangan berjalan semakin panas saat ketua majelis hakim meminta kesempatan selanjutnya untuk bertanya kepada saksi. Majelis hakim menilai keterangan saksi berbelit belit dan terkesan tidak jujur. Bahkan majelis hakim sempat mengancam saksi dengan pasal keterangan palsu. “Saya bisa saja meminta jaksa penuntut umum untuk memeriksa anda atas keterangan palsu,” ucap Sutrisno dengan nada tinggi dihadapan saksi.

Majelis hakim juga mencurigai hasil tindak pidana korupsi parkir Bandara Ngurah Rai Bali sebesar 28 miliar rupiah juga dinikmati oleh saksi. Karena hakim menilai banyak tindak pidana korupsi terjadi karena ketidaksesuaian pendapatan gaji dengan beban pekerjaan yang diterima. “Gaji anda berapa? Cukup sebagai manager operasional?,” Tanya ketua majelis hakim kepada saksi.

Persidangan yang berlangsung hingga larut malam memaksa majelis hakim menunda persidangan hingga Rabu (14/12/2016) pekan depan, dengan meminta keterangan Indra Pura Barnoza, mantan general manager PT PSB. Melalui kuasa hukumnya, terdakwa Sylvia Kunthie berencana akan melaporkan saksi atas keterangan palsu kepada pihak berwajib.

Kasus tindak pidana korupsi ini pertama kali mencuat di tahun 2011 saat tim Satuan Pemeriksa Internal PT Angkasa Pura menemukan penyelewengan pendapatan parkir bandara Ngurah Rai. Dari hasil uji petik ditemukan penyelewengan sebesar 28 miliar rupiah. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi telah memutuskan empat terpidana sebagai pihak yang bertanggungjawab atas tindak pidana tersebut. Mereka adalah Chris Sridana, direktur utama PT PSB dengan vonis 17 tahun penjara, Indra Pura Barnoza, general manager PT PSB, Michael Maksi, manager operasional, dan Ruby Jhonson Sitorus, staff PT PSB di bandara Ngurah Rai, masing – masing divonis sepuluh tahun penjara.(SN).