Jadi Saksi, Istri Sudarsa Mohon Terdakwa Dihukum Maksimal

Selasa, 13 Desember 2016 19:19 Hukum & Kriminal

Bagikan

Jadi Saksi, Istri Sudarsa Mohon Terdakwa Dihukum Maksimal
Ketut Arsini saat bersaksi di PN Denpasar (MG/SN)
Denpasar,Semetonnews - Sidang kasus pembunuhan Aipda Waya Sudarsa dengan terdakwa Sarah Connor, Selasa (13/12/2016) kembali dilanjutkan masih dengan agenda pemeriksaan saksi. Istri korban, Ketut Arsini dihadirkan sebagai saksi oleh JPU AAN Jayalantara.

Dihadapan majelis hakim pimpinan Made Pasek, wanita yang berprofesi guru SD ini mengaku, hingga saat ini (sampai menjadi saksi) tidak mengetahui secara pasti kenapa nyawa suaminya dihabisi oleh Sarah dan David James Taylor (terdakwa dalam berkas terpisah). 

Saksi yang nampaknya tidak mendapat firasat apa-apa sebelum suaminya ditemukan tewas di pantai, 17 Agustus 2016 silam itu menunturkan, malam sebelum kejadian, suaminya sesuai jadwal memang tugas malam."Tugasnya di sikitaran Kuta,"kata Arsini. Saksi juga menuturkan, jika suaminya mendapat jatah jaga malam biasanya berangkat dari rumah sekitar pukul 18.30 Wita dan kembali ke rumah sekitar pukul 08.00 Wita.
  
"Tapi karena paginya saya ada upacara menyambut 17 Agustus di Nusadua, saya meninggalkan rumah lebih pagi, jadi kalau suami saya pulang, paling tidak ketemu saya,"sebut saksi."Kapan ibu tahu kalau suami ibu sudah meninggal,"tanya Hakim Made Sukerni. 

Ditanya begitu saksi tidak langsung menjawab, tapi bercerita.  Diceritakannya, saat tiba di lokasi upacara saksi bertemu dengan salah satu kerabatnya."Dia bilang, mbok, suaminya kecelakaan, terus ada juga yang bilang suami saya meninggal. Tapi saya tidak percaya karena suami saya orang sehat dan tidak punya penyakit,"ujar saksi.

Tidak lama kemudian, saksi bertemu dengan soerang polisi yang juga polisi lalulintas yang mengatakan bahwa suaminya kecelakaan sembali menunjukan foto suaminya melalui handphone (HP)."Saya diperlihatkan foto suami sayai di HP pak polisi itu. Disana memang saya lihat ada banyak darah diwajah suami saya,"beber saksi. 

Singkat cerita, saksi lalu pulang ke rumah, tapi sampai dirumah, kedua anaknya sudah tidak ada dirumah. Saat dihubungi, katanya sedang berada di RS Sanglah."Awalnya saya tidak tahu di rumah sakit mana suami saya dirawat. Saya tahu kalau dirawat di Sanglah setelah menghubungi anak saya,"terangnya. 

Selain itu, saksi juga mengatakan sempat menghubungi HP korban tapi tidak diangkat."Anak saya pulang dari RS langsung nagis. Katanya bapak sudah meninggal,"kata saksi lagi."Apakah ibu sempat melihat jenazah suami ibu,"tanya Hakim Sukereni yang dijawab sempat melihat sebelum diotopsi. "Keadaanya suami ibu seperti apa,"tanya hakim lagi. 

"Saya lihat banyak luka diwajah, dan luka dibelakang kepala yang masih mengeluarkan darah,"jawab saksi. "Ibu tahu suami ibu kenapa,"tanya hakim lagi."Saya diberi tahu polisi bahwa suami saya dibunuh oleh David dan Sarah. kepalanya dipukul pakai botol. Tapi kenapa dibunuh saya tidak tahu,"tegasnya. 

Setelah memberikan kesaksian, saksi langsung memohon kepada majelis hakim untuk menghukum kedua terdakwa dengan hukuman maksimal."Saya mohon supaya pelaku diberi hukuman setimpal sesuai perbuatan yang dilakukan berdasarkan hukuman yang ada di indonesia, yang paling maksimal sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan,"katanya sembari menunjukan sikap tegar. 

Sementara terdakwa melalui penerjemahnya mengaku prihantin dengan kondisi yang dialmi istri korban. Selain prihatin, terdakwa juga meminta maaf dan siap memberikan santunan. Namun perkataan Sarah itu justuri membuat saksi sedikit kesal. Dengan tegas saksi mengatakan tidak membutuhkan bantuan ataupun santunan dari terdakwa."Yang saya mau terdakwa dihukum maksimal dan setimpal dengan perbuatanya.MG/SN