Usir Energi Buruk, Massa Tolak Reklamasi Kepung Kantor Gubernur Bali Dengan Bunyikan Kul-Kul

Kamis, 22 Desember 2016 22:57 Nasional

Bagikan

Usir Energi Buruk, Massa Tolak Reklamasi Kepung Kantor Gubernur Bali Dengan Bunyikan Kul-Kul
Penampilan Barong dan Rangda Go Green (barong yang terbuat dari bahan-bahan daur ulang oleh sanur, Kamis (22/12)
Denpasar, Semetonnews -  Ribuan massa yang tergabung di dalam aksi Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa mengepung kantor Gubernur. Aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa yang digelar ini sekaligus untuk peringatan hari Ibu. Kamis (22/12/2016).  Peringatan hari Ibu di dalam aksi tersebut bukan hanya untuk Ibu biologis tetapi merupakan perayaan untuk Ibu Pertiwi, sebagai hari perjuangan Ibu semesta. Aksi di jelang tahun baru 2017 ini juga merupakan pertanda gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa sudah memasuki tahun ke-4. 

 

Puluhan ribu massa aksi dari berbagai penjuru di Bali, seperti Buleleng, Jembrana, Bangli, Karangsem, Klungkung, Nusa Penida dan Nusa Lembongan serta dari wilayah Sarbagita, massa aksi mulai memadati Parkir Timur Lapangan Renon, sejak pukul 14.00 WITA. 
Mereka lengkap mengenakan atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa. Uniknya aksi kali ini, sebagian besar massa aksi membawa kul-kul atau kentongan. Setelah berkumpul, massa aksi melakukan longmarch mengitari lapangan renon dan kemudian mengepung Kantor Gubernur Bali dengan memukul kul-kul dan pekikan yel-yel tolak reklamasi. Sebagaimana ritual yang biasa dilakukan di Bali dalam pergantian tahun saka, aksi di akhir tahun menyambut tahun baru masehi tersebut juga diiringi bunyi kentongan saling bersahutan sebagai cara untuk mengusir energi negatif, mengusir kerakusan, mengusir mental maling, mengusir raksasa rakus. 

 

“Salah satu watak Raksasa itu adalah kerakusan,Itu sebabnya sekarang Pasubayan Datang dengan ribuan kul-kul atau kentongan untuk menyomya(menetralisir) sifat keraksaaan dan sifat rakus atau energy negatif yang ada di di kantor Pemerintahan,” ujar Ida Bagus Ketut Purbanegara  Bendesa Adat Buduk.

 

I Wayan Gendo Suardana, Koordinator ForBALI menambahkan, selain untuk mengusir energi buruk dari kantor pemerintahan, simbolisasi pengusiran energy buruk tersebut memiliki tujuan yang mulia. “Supaya tidak ada lagi energy buruk yang melingkupi gedung – gedung  pemerintahan. Semoga setelah kita melakukan simbolisasi pengusiran energy buruk, pemimpin kita bisa tercerahkan oleh energy baik dan ditahun berikutnya Gubernur Bali berani mendukung rakyatnya untuk menolak reklamasi Teluk Benoa," ungkapnya.

 

Selain itu di dalam orasinya, Koordinator ForBALI tersebut juga menjelaskan, penolakan atas rencana reklamasi Teluk Benoa oleh rakyat Bali telah memasuki tahun ke-4. Meskipun upaya perlawasan rakyat terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa semakin masif, namun upaya pemaksaan ngurug laut tersebut tak kunjung dihentikan. Selama kurang lebih dua bulan masyarakat diam sejenak dari aksi-aksi massa, upaya untuk memaksakan reklamasi justru semakin massif dilakukan oleh PT. TWBI . Ada rapat di Kemenkopolhukam yang membahas tentang reklamasi Teluk Benoa, di komisi IV DPR RI digelar Rapat dengar Pendapat umum atau RDPU antara komisi IV DPR RI dengan PT. TWBI.  dan agenda RDPU itu dilanjutkan dengan adanya peninjauan lapangan oleh komisi IV DPR RI.

 

“Artinya saat kita diam maka akan ada pihak lain yg akan bergerak maju. Oleh karena itulah kita tidak boleh diam, kita harus terus bergerak. Hanya itu modal kita untuk menghambat laju rencana reklamasi Teluk Benoa," ujarnya.

 

Persoalan kriminalisasi yang menimpa para aktivis ForBALI juga disinggung di dalam aksi tersebut. Menurut Gendo perjuangan rakyat Bali dalam melawan rencana reklamasi amat penuh dengan resiko, seperti kriminalisasi yang dilakukan terhadap beberapa aktivis ForBALI salah satunya, yakni Gung Omlet, De John dan juga Agus Wirasman. 


“Lawan kriminalisasi aktivis ForBALI” pekik Gendo seraya disambut dengan pekikan “Lawan” oleh massa aksi yang hadir.

 
Aksi kali ini, selain meriah dengan suara kul-kul selama longmarch, juga dimeriahkan dengan berbagai suguhan pagelaran seni dari berbagai komunitas pejuang tolak reklamasi Teluk Benoa. Mulai dari penampilan Barong dan Rangda Go Green (barong yang terbuat dari bahan-bahan daur ulang oleh sanur), Inguh (Lawak Bali), atraksi gambelan Baleganjur Rarekulaikers dan baleganjur dari Desa-Desa Adat, hingga penampilan musik yang disuguhkan oleh musisi- musisi dan seniman bali lainnya yang terbagi di 4 titik panggung aksi di ruas jalan depan Kantor Gubernur. Musisi dari berbagai aliran musik yang terlibat di dalam aksi tersebut selain Superman Is Dead, The Dissland, Nosstress, Jony Agung and Double T, The Hydrant, Made Maut, Lanang OI, The Djihard, The Bullhead, Poison and Rose, The Ledorz dan Relung Kaca yang yang terbagi dalam 4 titik panggung aksi. Aksi ditutup dengan penampilan terakhir Superman Is Dead yang diiringi dengan pemukulan kul-kul.(SN)