Suara Arus Bawah Mengubah Rekom DPP PDI Perjuangan Untuk Cagub Bali ?

Minggu, 08 Januari 2017 22:48 Politik

Bagikan

Suara Arus Bawah Mengubah Rekom DPP PDI Perjuangan Untuk Cagub Bali ?
Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum PDI Perjuangan (ist-SN)

Denpasar, Semetonnews - Perhelatan jelang pilgub Bali mulai menghangat, salah satunya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, partai yang mengusung calon sendiri ini, membuka ruang ruang diskusi melalui berbagai elemen, salah satunya Persatuan Alumni atau PA GMNI, selain itu aktivitas politik seperti pembentukan relawan pun massif dilakukan, sebagai partai pemerintah tentunya persiapan ini sangatlah lazim, melihat perubahan dinamika politik yang cepat dengan munculnya para calon lain.

Figur figur bermunculan, sebut saja Adi Wiryatama, Ketua DPRD Bali ini muncul namanya dari relawan pendukung, meski tak masuk dalam bursa rakercab, kemunculannya seolah isyarat bagi petinggi partai, bahwa I Wayan Koster tidak peroleh dukungan mutlak dari arus bawah. 


Bukan hanya itu, Rai Mantra yang berhasil dua kali menjabat sebagai Walikota Denpasar diusung  PDI Perjuangan sudah mendeklarasikan diri, lagi lagi kacamata awam pun bisa melihat, jika rapat kerja cabang yang mengusung nama I Wayan Koster ternyata tidaklah harga mati. Pasalnya dari rakercab yang hanya diikuti oleh 8 kabupaten, Kota Denpasar absen dalam rapat kerja cabang yang digelar pada 2016 lalu itu.


Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan Bali, Alit Kelakan menjelaskan bahwa proses demokrasi sedang berjalan di partainya, Alit yang juga Alumni GMNI ini, membantah jika demokrasi yang digadang gadang menjadi spirit perjuangan partai semakin menipis, justru ia melihat rapat kerja cabang, walau hanya diikuti oleh 8 kabupaten, minus Kota Denpasar tersebut, telah sah memilih I Wayan Koster untuk maju dalam Pilgub Bali. 


Alit yakin bahwa deklarasi Rai Mantra yang sebelumnya didukung PDI Perjuangan, tidak merubah aspirasi yang diusung dalam rapat cabang, "tahun 2016 kita melakukan rakercab, dalam pembahasan itu muncul aspirasi menunjuk Wayan Koster menunjuk sebagai gubenur, dalam rakercab itu digodok program partai, dalam rapat itu Pak Koster menerima aspirasi itu, mulailah bergulir, dan relawan sudah bertanggung jawab, secara konsekuensi politik kan harus menjalankan, mengamankan dan memenangkan,” ujarnya Sabtu (7/1/2016) usai diskusi di Kubu Kopi.


Lebih lanjut, menurut Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu ini, pihaknya belum pernah diajak berkomunikasi oleh para figur yang muncul, bahkan kemunculan Rai Mantra dalam bursa ditanggapinya positif, walaupun ia kembali tegaskan bahwa suara PDI P Bali sudah bulat sesuai hasil rakercab, "kalau sekarang fenomena munculnya Gus Rai silahkan, kan tidak boleh kita melarang orang menjadi calon, saya lihat figur figur itu baik baik, tapi kita harus hargai rumah tangga organisasi, hasilnya rakercab itu seperti itu,“ungkapnya.


Merespon pertanyaan warga dan wartawan, soal sejauh mana hasil rakercab itu menjamin rekomendasi partai akan jatuh ke tangan Koster, setelah munculnya figur lain, Alit berpendapat, tak bisa hasil rakercab menjamin surat rekom, karena itu kewenangan pusat,"munculnya adi wiryatama, di rakercab tidak ada wiryatama, kalau di rakercab tidak ada, dilapangan muncul, kan kita harus hargai juga karena ada relawan silahkan, ini proses demokrasi, kan rekomendasi belum turun, ada wewenang DPP, kita berharap rekomendasi lebih baik." 


Rekomendasi Belum Turun Ada Peluang Berubah Peta Politik?


Perihal rekomendasi yang masih alot untuk jatuh ke tangan koster, Alit menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin berandai andai akan perubahan peta politik, menyinggung pernyataan Putu Artha bahwasanya ada baiknya figur lain seperti Rai Mantra merapat ke PDI Perjuangan, dijelaskan olehnya soal itu dirinya  tidak mengetahui arah komunikasinya, “ saya ga tau komunikasi Putu Artha dengan PDI Perjuangan, sepanjang biasanya komunikasi itu lewat daerah dulu,  lewat DPD DPC, sepanjang ini belum ada komunikasi Rai Mantra dengan kami, itu 8 kabupaten itu sudah rakercab, wakilnya ada deklarasi di Gianyar, deklarasi memunculkan nama Cok ace,  sebagai wakil dan Pak Koster itu menyambut baik,”jelasnya. 


Beberapa kalangan melihat bahwa PDI Perjuangan terlalu cepat mengambil keputusan dengan mengusung Wayan Koster dibantah oleh Alit Kelakan, ia bersikukuh hal ini adalah dorongan arus bawah, “bukan PDI Perjuangan yang terlalu cepat, ini aspirasi dari bawah, ini masyarakat, dari rakercab muncul KBS, kita terbuka karena ga ada komunikasi mereka ( Rai Mantra ), dan ini sudah jalan temen temen cabang,”tambahnya.


Disinggung, soal hasil survey PDI Perjuangan yang telah dikantongi Partai Golkar, Alit mengatakan bahwa pihaknya tidak perlu khawatir akan hal itu, karena menurutnya hari ini semua masih berproses, "kami punya análisis dan kajian, kan kita belum tau siapa koalisi teman disebelah, survey figur itu dengan gerakan organisasi itu saling melangkapi, sekarang belum bisa secara rigit, berapa persen akan menang, ini akan lihat dulu koalisinya siapa,” menurut Alit.  


Menanggapi pertanyaan awak media soal kemungkinan rekom DPP akan berpeluang jatuh ke calon lain yang lebih tinggi elektabilitasnya semisal Rai Mantra, Alit mengatakan pihaknya tidak berani berandai andai,"saya tidak bicara berandai andai, tapi ini keputusan rakercab aspirasinya seperti itu,  apabila rekomendasi turun berubah, kita taat asas tapi sampai saat ini delapan cabang itu Pak Koster,”tegasnya. 


Sejauh ini, komentar warga mengenai pernyataan Alit Kelakan, atas hasil keputusan Rakercab yang telah diserahkan ke pusat beraneka ragam, mereka yang hadir dalam diskusi bertajuk, Pancasila, tantangan kebhinekaan menjelang Pilgub Bali tersebut, mengamati bahwa, hasil rakercab yang telah diserahkan ke pusat tidaklah mutlak, tetap saja bisa berubah, bahkan tidak menutup kemungkinan rekom partai akan jatuh ke figur yang memiliki elektabilitas tinggi, seperti di Pilkada DKI,” bisa jadi nantinya turun ke sosok lain, karena partai kan mempertimbangkan suara arus bawah,” ujar Tavip, salah satu Pemimpin Redaksi Media Online di Bali. 



Reporter: Wawan Nike