Tipu Menipu Jual Beli Ruko, Berujung ke Laporan Polisi

Kamis, 12 Januari 2017 18:53 Hukum & Kriminal

Bagikan

Tipu Menipu Jual Beli Ruko, Berujung ke Laporan Polisi
Edward Tobing (MG/SN)
Denpasar, Semetonnews-Kasus penipuan jual beli, baik tanah, rumah, maupun Ruko di Bali, atau khusunya di Denpasar, bukan barang baru lagi. Namun begitu, masih saja memakan korban. Kali ini seorang pria bernama Robin yang harus kehilangan uang senilai Rp 3,3 miliar, karena diduga ditipu oleh seorang bernama Anton Marhendro Inggriyono.  

Hal ini seperti diungkap oleh Edwrad Tobing, kuasa hukum Robin yang ditemui di Denpasar, Kamis (12/1/2017). Edward mengatakan, kasus penipuan ini terjadi saat Robin berniat untuk membeli sebuah Ruko di daerah Jimbaran, Badung. Korban lalu bertemu dengan Anton selaku agen properti dari Era Victory."Anton menawarkan Roku di Jimbaran dengan harga Rp 3,3 miliar,"jelas Edward kepada wartawan. 

Tak hanya itu, menurut Edwrad, Anton yang saat ini sudah ditetapkan tersangka oleh polisi itu juga mengatakan, jika korban mau membeli Ruko tersebut dengan harga Rp 3,3 miliar, untung sudah didepan mata karena sudah ada pihak lain yang ingin membeli dengan harga lebih tinggi. 

"Ada beberapa bukti SMS (pesan singkat) dari Anton yang dikirim kepada korban agar segara membeli dan melunasinya,"sebut pengacara berdarah Batak itu. Singkat cerita korban menyetujui untuk membeli Ruko tersebut dengan cara mencicil pembeyaran sebanyak 11 kali.

Anehnya, dalam transaksi jual beli, korban sama sekali tidak pernah bertemu dengan pemilik Ruko yang bernama Gunawan Priambodo."Tapi sudah dibuat surat perjanjian jual beli di Notaris Hartono dengan Nomor 60 tertanggal 25 Maret 2014, tanpa kehadiran pemilik Ruko,"ungkap Edward. 

Setelah akta jual beli tuntas, Anton yang diketahu hanya sebagai perantara, meminta kepada korban untuk melakukan pembayaran kepadanya langsung."Awalnya dibayar DP sebesar Rp 990.000.000. "Selebihnya dicicil sebanyak 10 kali dengan nilai Rp 231.000.000 ke rekening Anton hingga lunas (Rp 3,3 miliar),"kata matan wartawan itu. 

Setelah korban membayar lunas, korban lalu menemui Notaris dan meminta agar segera dilakukan balik nama atas Ruko yang dibelinya. Tapi apa yang terjadi, Notaris malah tidak tahu bila sudah ada pembayaran dan lunas."Notaris lalu menghubungi pemilik Roku dan menanyakan soal pembayaran, tapi dijawab oleh pemilik bahwa dia baru meneri uang Rp 2.054.000.000 yang diberikan Anton,"terang Edward. 

Nah, dari sinilah akhirnya terungkap bahwa, Anton selama ini tidak pernah memberikan uang secara penuh kepada pemilik Ruko setiap dilakukan pembayaran oleh korban."Dari sini pula terungkap bahwa sebanarnya pemilik menjual Ruko itu bukan seharga Rp 3,3 miliar tapi Rp 2.600.000.000. Artinya harganya sudah di mark up Rp 700 juta oleh Anton,"beber Edward. 

Mengetahui ada kecurangan, korban lalu meminta kepada Anton untuk segera memberikan uang yang sudah ditransfer oleh korban kepada pemilik Ruko."Tapi tidak ada kepastian sehingga korban akhirnya melaporkan Anton ke Polresta Denpasar dengan dugaan penipuan dan penggelapan dan Anton saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polresta,"tegas Edward. 

Sementara Anton, kata Edward berdalih tidak memberikan semua uang pembelian Ruko dari korban kepada pemilik karena pemilik mempunyai hutang kepada orang lain."Katanya penjual punya utang Rp 600.000.000, jadi uang milik korban digunakan Anton untuk membayar hutang pemilik Ruko. Ini aneh, soalnya urusan hutan ini kan tidak ada dalam perjanjian,"ungkap Edward.(MG/SN)