Sembilan Saksi Sepakat Kembalikan Kerugian Negara

Kamis, 02 Februari 2017 19:08 Hukum & Kriminal

Bagikan

Sembilan Saksi Sepakat Kembalikan Kerugian Negara
Sembilan wakil rakyat saat bersaksi di Pengadilan Tipikor (MG/SN)
Denpasar,Semetonnews-Sidang kasus dugaan mark up perjalanan dinas (Perdin) DPRD Kota Denpasar dengan terdakwa I Gusti Made Patra, Rabu (1/2) malam. Dalam sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) AAN. Jayalantara dan Dewa Lanang menghadirkan 9 orang saksi. 

Mereka yang menjadi saksi adalah para wakil rakyat yang berkantor di Jalan Melati, Denpasar. Diantaranya, Nyoman Tamayasa, Anak Agung Wibawa, I Ketut Suteja Kumara, I Putu Gede, AA Gde Mahendra, I Nyoman Darsa dan I Made Suweta. Seperti saksi anggota dewan lainya yang pernah diperiksa, kesembilan saksi ini juga mengaku tidak mengetahui bagaimana kedua travel, Bali Daksina dan Sunda Duta bisa mejadi rekan selama melakukan perjalanan dinas. 

Suteja Kumara, saksi yang menjadi "juru bicara" saat sidang mengatakan, selama dia bersama rekanya melakukan perjalanan dinas difasilitasi oleh sekretaris dewan."Kami difasilitasi oleh sekretariat dewan,"jelas Suteja Kumara."Apakah terdakwa yang membeli tiket dan mencarikan hotel,"tanya ketua majelis hakim Sutrisno. 

"Setahu kami tiket pesawat diberikan saat kami tiba di Bandara. Begitu pula, dengan hotel, saat kami tiba ditempat tujuan sudah disiapkan dan yang menyerahkan bukan terdakwa,"jawab Suteja Kumara."Siapa yang menyerahkan tiket pesawat saat di Bandara dan siapa yang menyiapkan hotel,"tanya hakim yang dijawab Suteja yang menyiapkan adalah travel.

"Apakah sebelum melakukan perjalana dinas, saksi menerima uang,"tanya Hakim yang dijawab menerima. Uang yang diterima itu terdiri dari, uang harian, uang transport dan uang representatif.

Dijelaskanya Suteja, usai melakukan perjalanan dinas, beberapa hari kemudian dia menerima atau menandatangi list."Dalam list itu tercantum nama-nama anggota dewan yang melakukan perjalanan dinas. Saat itu pula ada biaya tiket pesawat dan biaya sewa kamar hotel,"tegas Suteja Kumara.

"Berarti siapa yang mempertanggungjawabkan, apakah yang melaporkan atau yang melampirkan tiket dan harga hotel itu saksi,"tanya Hakim Sutrisno."Biasanya yang menyetor adalah sekretariat, kami hanya menandatangai saja,"jawab Suteja Kumaya yang diiyakan oleh delapan saksi lainya. 

Hakim lalu bertanya soal travel yang digunakan saat melakukan perjalanan dinas. Dijawab oleh Suteja Kumara bahwa selama melakukan perjalanan dinas, ada dua travel yang menangani, yaitu Bali Daksina dan Sunda Duta."Apakah saksi tahu berapa harga hotel yang ditempati saat melakukan perjalanan dinas,"tanya Hakim yang dijawab oleh Suteja Kurama tidak tahu.

"Kami pernah menanyakan, tapi pihak hotel tidak pernah memberi tahu. Mereka hanya menjawab sudah ada yang mengurus,"kata Suteja Kumara."Apakah penggunaan travel itu sudah mendapat izin,"tanya Hakim."Kami tidak melihat apakah izin atau tidak, yang jelas kami berangkat sesuai dengan waktu dan tempat yang dituju,"ungkap Suteja.

 Jaksa lalu bertanya kepada saksi soal Perwali yang mengatur Perdin."Pernah tidak saksi membaca Perwali yang mengatur soal Perdin,"tanya Jaksa Dewa lanang."Kami pernah membaca, tapi hanya sepintas saja,"jawab Suteja Kumara. 

Bicara soal real cost, Suteja Kumara mengatan, yang masuk dalam real cost itu adalah tiket pesawat dan harga hotel."Kenapa saksi tidak bertanya harga hotelnya mahal sekali,"tanya Jaksa yang langsung dijawab karena harga yang distorkan tidak melebihi pagu yang sudah ditentukan dalam Perwali. 

Selain itu, Jaksa juga bertanya soal adanya penawaran paket perjalanan, dan apakah saksi mengetahui jika travel melakukan penagihan dan apakah saksi menerima fasiltas dari travel. Ditanya begitu, sembilan saksi menjawab tidak tahu dan tidak pernah. 

Diakhir kesaksian para wakil raknyat itu, sepakat menyatakan, apabila dalam kasus ini ada keselahan adminitrasi sehingga negara dirugikan, mereka  siap untuk mengembalikan."Kami siap dan sudah sepakat untuk mengembalikan kerugian negera,"pungkas Suteja Kumara yang diiyakan oleh saksi lainya.(MG/SN)