Dua Aktivis ForBali ditahan, Aktivis Fpi Dibebaskan, Polisi Berbeda Sikap

Sabtu, 11 Februari 2017 16:52 Nasional

Bagikan

Dua Aktivis ForBali ditahan, Aktivis Fpi Dibebaskan, Polisi Berbeda Sikap
De John Usai & Gung Omled, Diperiksa, Jumat (10/2) ( ist-SN)
Denpasar, Semetonnews - Pihak kepolisian berbeda sikap atas kasus dugaan pelecehan bendera merah putih, Polda Bali resmi menahan Dua Aktivis ForBali,  Jumat (10/2). Penyidikan yang berakhir dengan penahanan De John alias Made Jonantara dan Gung Omled alias I Gusti Putu Dharmawijaya, terkait dengan Kasus penurunan bendera merah putih di Kantor DPRD Propinsi Bali 25 Agustus 2016 lalu. 



Keduanya yang berstatus tersangka ini, sebelumnya telah menjalani pemeriksaan, namun saat pemeriksaan tambahan ini mereka langsung ditahan,  keduanya tidak diiringi oleh Massa seperti biasanya,  hanya didampingi oleh 14 pengacara.

“Baru saja saya dapat laporan jika mereka ditahan. Nanti kami lakukan upaya-upaya selanjutnya,” ujar  Made “Ariel” Suardana, Ketua Tim Pengacara ForBali.

Suardana menambahkan, kedua tersangka diperiksa terpisah dan masing-masing menjawab 15 pertanyaan. ”Poin pertanyaannya terkait apakah perbuatan mereka itu dilakukan bersama-sama? Selain itu, apakah mereka menyadari perbuatan itu tindak pidana? Apakah ada niat kesengajaan melakukan itu? Atas pertanyaan itu, semua dijawab gamblang oleh kedua tersangka,” tegasnya.

Pemeriksaan tambahan ini maksud sebenarnya untuk memperjelas dan mempertajam materi pertanyaan sebelumnya. Penyidik fokus mencari siapa sebenarnya yang menurunkan bendera itu. Pasalnya, kedua aktivis ini, lanjutnya, dari fakta yang terungkap ada orang lain. “Orang yang menurunkan dan menaikan bendera belum jelas.

Sementara reaksi netizen dimedia sosial pun beragam, sebagian besar netizen menganggap justru penahanan De john dan Gung Omled tidak cukup kuat bukti memenuhi unsur melakukan penghinaan terhadap lambang negara, yakni terhadap bendera Merah Putih di DPRD Bali.  



Reaksi netizen, melihat kasus FPI di Jakarta pada medio Januari 2016 lalu yang mencoret bendera merah putih namun akhirnya dibebaskan. Pencoretan bendera merah putih yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) saat melakukan aksi di depan Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2017) lalu dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan tidak menghargai jasa para pejuang.

Dikatakan oleh Mantan Sekretaris Militer, DR Tubagus Hasanuddin, aksi pencoretan bendera merah putih yang dilakukan FPI telah mencederai nilai-nilai kebangsaan. Untuk itu, tidak ada alasan bagi Polri dan TNI sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan NKRI untuk segera menindak tegas organisasi massa yang dipimpin Rizieq Syihab tersebut.

"Demo sesungguhnya merupakan kegiatan yang legal dan sah di negara demokratis. Tapi dalam kapasitas saya sebagai purnawirawan TNI, seluruh mata batin saya sungguh terluka atas perilaku FPI dalam demonya itu. FPI telah menodai simbol kehormatan dan lambang supremasi negara yakni bendera merah putih. Apa yang dilakukan oleh FPI sudah di luar batas, dan kini tiba saatnya Polri mengambil tindakan hukum," ujar Hasanuddin di Jakarta, Rabu (18/1), dilansir serambi aceh.

Lebih jauh pelaku yang  melakukan Aksi pencoretan bendera merah putih justru dibebaskan, dikutip dari merdeka.com. Kabag Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono mengatakan, penangguhan diberikan bukan hanya berdasarkan penilaian subjektif penyidik. "Ini kita kedatangan ustaz Arifin Ilham, beliau bersama keluarga NF dan istri NF menyampaikan permohonan penangguhan penahanan jaminan dari pak Ustaz dan istrinya," kata Awi di Polres Jaksel, Jakarta, Selasa (24/1).

Dalam pengibaran satu tiang,  bendera merah putih, dengan bendera perjuangan ForBALI dibawahnya menunjukkan bahwa jiwa nasionalisme dalam barisan perjuangan rakyat ini tidak diragukan lagi, namun hak ini tampaknya tidak menjadikN alasan pihaj kepolisian untuk memberi penangguhan, " ini prosesnya telah jelas tebang pilih, jadi memperkuat dugaan kami, ada pesanan pihak tertentu, sebelumnya Baliho Bali Tolak Reklamasi diberangus,kini dua warga adat ditahan," ujar salah satu warga Adat yang enggan disebutkan namanya.(wan-SN)