Desa Adat Sukawati dan Pemuda Batubulan Kembali Dirikan Baliho Tolak Reklamasi.

Minggu, 12 Februari 2017 23:04 Politik

Bagikan

Desa Adat Sukawati dan Pemuda Batubulan Kembali Dirikan Baliho Tolak Reklamasi.
Pemuda Desa Adat Sukawati, Minggu (12/2)(forbali-SN)
Gianyar, Semetonnews-Perusakan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa Adat, Sekaa Teruna Teruni (organisasi pemuda adat di Bali) dan Komunitas yang yang terjadi secara serentak dan senyap terus mendapatkan perlawanan secara terbuka. Adalah desa Adat Sukawati dan Forum Pemuda Batubulan, pada hari Minggu 12 Februari 2016 yang melakukan perlawanan dengan mendirikan baliho-baliho tolak reklamasi Teluk Benoa yang baru di berbagi titik di wilayahnya.

Di Batubulan, Forum Pemuda Batubulan sebelum melakukan pemasangan baliho telah berkumpul di halaman Pura Puseh Batubulan. Mereka mendirikan 5 buah baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa, masing-masing di Pertigaan Barong, di depan lapangan Batubulan, Wilayah Banjar Pagutan Kelod, Banjar Sasih dan Banjar Munguntur. Pendirian baliho-baliho tersebtu selain untuk mengganti baliho lama juga menambah baliho baru di beberapa titik sebagai wujud konsistensi pemuda Batubulan dalam menolak reklamasi Teluk Benoa. 


(Forum Pemuda Batubulan)

Ditemui ditempat pemasangan baliho, Kadek Yuliana Putra perwakilan dari Forum Pemuda Batubulan, menjelaskan, kalaupun akhirnya baliho yang mereka dirikan dirusak oleh pihak yang tidak bertanggungjawab hal tersebut sebenarnya menunjukkan masih adanya pembungkaman aspirasi rakyat di era demokrasi. "sebgaiamana yang terjadi di tempat lain, jika baliho-baliho kami dirusak, itu merupakan cara-cara yang biadab. Perusakan baliho demi memuluskan rencana mengurug Teluk Benoa akan semakin menguatkan tekad para pemuda untuk menolak reklamasi Teluk Benoa”, ujar anak muda yang akrab dipanggil Dekna tersebut.

Dekna menambahkan, maraknya perusakan baliho yang terjadi sejak tahun 2014 sampai saat ini adalah upaya serius dari pihak lain untuk membungkam gerakan. “Perusakan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa adalah bentuk intimidasi yang bertujuan untuk membungkam suara penolakan. Kmai akan terus melawan, Kami tidak takut,” Ujar Dekna.

Gusti Ngurah Gede Suyasa, pemuda yang terlibat didalam pemasangan baliho tersebut menambahkan bahwa pendirian baliho-baliho ini juga untuk menunjukkan bahwa gerakan Bali Tolak Reklamasi takkan patah oleh upaya-upaya pemberangusan. “Penghancuran baliho serta penahanan 2 orang kawan seperjuangan dari Desa Adat Sumerta semakin memantik api perlawanan untuk konsisten menolak reklamasi Teluk Benoa” Ujarnya.

Selain di Batubulan, pemasangan baliho juga dilakukan di Desa Adat Sukawati. Warga Desa Adat Sukawati mendirikan baliho di perempatan Pantai Purnama. Kadek Santika, menjelaskan pemasangan Baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa adalah simbol perlawanan dari Desa Adat Sukawati terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. “ini pesan bahwa Warga Adat tidak pernah takut dengan segala bentuk intimidasi termasuk kriminalisasi yang saat ini menimpa seperjuangan kami dari Desa Adat Sumerta” Ujar Kadek Santika. (rls-SN)