Agus Terzolimi Siapa ?

Kamis, 16 Februari 2017 07:15 Kolom Opini

Bagikan

Agus Terzolimi Siapa  ?
Caption Twitter SBY, (net-SN)
Pemilihan Gubenur DKI sdh selesai berlangsung, Agus terhempas, setidaknya putra mahkota cikeas ini sudah membuktikan menjadi anak yang baik. 

Teory politik tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan, tidak cukup hanya dengan uang banyak, atau sederet titel akademis, apalagi kebesaran nama orang tua dalam mengaplikasikannya. Terbukti !

Apa yang terjadi dalam kompetisi yang diikuti keluarga pemilik merk Demokrat ini sebenarnya tidak lain hanyalah sebuah "Distinction", seperti yang ditulis Pierre Bourdieu seorang filsuf /ilmuwan yang konsern dalam bidang teory kritik menuangkan pemikirannya dalam sebuah buku yakni “Distinction: a social critique of the Judgement of Taste”.

“Distinction” , merujuk pada usaha kelompok individu dalam ruang sosial masing-masing untuk mengembangkan kekhasan budaya yang menandai mereka keluar dari satu sama lain. 

Namun, perbedaan ini dapat menjadi fokus perjuangan simbolik (perjuangan untuk pembedaan) di mana anggota suatu kelompok berusaha untuk membangun keunggulan dari pembedaan itu sendiri. 

Dapat dikatakan bahwa Perjuangan simbolis yang dilakukan ini pada dasarnya adalah aspek perjuangan kelas. Kontrol atas pengetahuan yang dihargai, sanksi, serta penghargaan dalam sistem pendidikan merupakan salah satu aspek ini.

Dalam 'Distinction' Bourdieu mencoba menebar jaringnya lebih luas untuk menangkap pengertian yang lebih umum, yakni bentuk dominan penghakiman rasa. Hasil pemilu kada putaran pertama ternyata sudah masuk dalam proses ini, sebagai efek dari perjuangan simbolik AHY, arena politik dalam konsep distinction, adalah satu upaya dari salah satu kelompok untuk mendominasi kelompok lain dengan menunjukan strata sosialnya, dan berdampak pada kesenjangan sosial dalam masyarakat. 

Faktornya pun beragam,  dari sisi ini kita patut merefleksi dinamika politik, yang dimainkan oleh SBY, Agus yg hari ini menjadi pion,  terus terang saja dipaksa untuk melakukan  perubahan total,  dan hasilnya Fatal,  meskipun ada yang bilang kegagalan adalah sukses yang tertunda,  tidak dalam politik. Dari sistem militer ke sipil, adaptasi dengan perkembangan issue, komunikasi sosial, agar memiliki ciri khas secara cepat,sayangnya hal ini meleset.  

Konsep distinction ternyata tidak serta merta hanya untuk memunculkan ciri khas yang membedakan salah satu golongan atau kelompok sosial saja.  Namun juga sebuah upaya untuk perjuangan simbolik dari sebuah klas /kelompok melakukan aktivitas berbeda dengan kebanyakan orang untuk memperjuangkan kepentingan kelompoknya.

Kegagalan yang terjadi di kubu pasangan nomer satu menjadi sebuah pelajaran berharga, bagi pelaku politik,  bahwa perilaku habitus,  sebagaimana Bourdieu memandang kekuasaan dalam konteks teori masyarakat, dimana ia melihat kekuasaan sebagai budaya dan simbolis dibuat, dan terus-menerus kembali dilegitimasi melalui interaksi agen dan struktur. Cara utama ini terjadi adalah melalui apa yang disebutnya 'habitus' atau norma disosialisasikan atau kecenderungan bahwa perilaku panduan dan berpikir.

Habitus adalah kebiasaan masyarakat yang melekat pada diri seseorang dalam bentuk disposisi abadi, atau kapasitas terlatih dan kecenderungan terstruktur untuk berpikir, merasa dan bertindak dengan cara determinan, yang kemudian membimbing mereka.

Sedangkan menurut Ayub Sektiyanto bahwa Habitus merupakan hasil ketrampilan yang menjadi tindakan praktis (tidak selalu disadari) yang diterjemahkan menjadi kemampuan yang terlihat alamiah.

Menurut saya sendiri, Habitus adalah kondisi penyimpangan perilaku yang dilakukan terus menerus, hingga menjadi kebiasaan yang praktis hingga menghasilkan Gaya hidup,  pola komunikasi,  ciri sosial,  serta perilaku politik, hal ini jelas terlihat dalam politik SBY, beliau sebagai pemain playing victim berhasil mengibarkan bendera Demokrat hanya 10 tahun. Sehingga menurutnya pola ini masih ampuh untuk menarik simpati massa,  sayangnya fakta berkata lain, playing victim yang terus menerus dilakukan justru berubah menjadi sebuah ambisi politik belaka.  Masyarakat sendiri selama kurun waktu 10 tahun kepemimpinan SBY cukup bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi,  sejumlah kasus dan proyek mangkrak tentu lah sebagai tolak nilai dan ukur masyarakat memandang  bagaimana track record beliau. 

Politik Indonesia praktis mulai menggunakan teknologi,  yang dengan mudah mencari fakta, untuk diungkap kembali, mungkin hal inilah yang tak disadari oleh SBY,  bahwa yang dilawannya bukan habitus massa pada 2004 saat ia pertama kali ia menangkan Politik Teraniaya,  namun hasil pilihan politik kemarin,  adalah interaksi antar waktu,  yang melalui proses panjang, didalamnya ada peristiwa dan jejak rekam.

Program yang mengawang awang tidak bisa lagi memikat hati pemegang hak mandat (rakyat),  terlepas itu,  ada faktor lain yang membuat Agus Harimurti Yudhoyono harus membuka parasut untuk melakukan terjun bebas, yakni ia terlalu penurut dan percaya diri. (SN) 

#wawannike