Amor Ring Acintya, Selamat Jalan Guru Ida Pedande Sebali Tianyar Arimbawa

Senin, 27 Februari 2017 23:51 Nasional

Bagikan

Amor Ring Acintya,  Selamat Jalan Guru Ida Pedande Sebali Tianyar Arimbawa
Mendiang Ida Pedande Sebali Tianyar Arimbawa, (IST-SN)
Denpasar, Semetonnews - Masyarakat Bali dan umat Hindu di Tanah Air kehilangan salah satu putra terbaiknya Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa, beliau  tercatat sebagai Presiden Word Hindu Parisad kini telah berpulang untuk selama-lamanya.

Berita meninggalnya Sebali Tianyar, beredar di media sosial dan mendapat simpati luas masyarakat. Tokoh muda Hindu, Putu Wirata Dwikora memposting berita berpulangnya tokoh kharismatis Bali itu lewat akun facebooknya, Senin (27/2/17).

"Om swastyastu. Telah berpulang ke alam niskala: Ida Pedanda Gede Sebali Tianyar Arimbawa, Presiden Word Hindu Parisad, mantan Dharma Adhyaksa PHDI Pusat," tulis Wirata. Wirata menginformasikan, rencananya, Selasa (28/2/17) besok akan dikremasi di Denpasar.

"Semoga amor ing Acintya. Om Atma Tattvatma Narayatma Ang Ah. Om Anilam athedam amritam bhasmantam sariram. Om krato smara klibe smara kritam smara, krato smara klibe smara kritam smara. Om svargantu moksantu sunyantu muchyantu ksamantu bahayanya ya namah svadah. Om ksama sampurna ya namah svaha. Om santih santih santih Om," ucap Wirata dalam doa dan duka cita mendalam.

Duka cita mendalam juga diungkapkan aktivis muda Bali Wayan Gendo Suardana dalam akun pribadinya. "Ratu Peranda Sebali Tianyar Arimbawa, sosok Pendeta Hindu progresif, selama ini sangat menjaga & menyayangi Saya, telah tutup usia," tulis Gendo dikutip dalam akun facebook.

Di mata Gendo, Sebali Tianyar sosok pendeta yang melampaui jamannya. Banyak yang terkaget kaget dengan tatalaku beliau yang di luar kebiasaan. Salah satunya adalah memperbolehkan orang yang menhadap beliau untuk berbahasa Indonesia jika tidak punya kemampuan berbahasa Bali yang baik untuk berdiskusi dengan beliau sebagai Pendeta.

Beliau juga adalah pendeta yang (mungkin) paling pertama bisa ditelepon jika membutuhkan komunikasi atau diskusi. Tentu saja tatalaku ini membuat "geger" karena hal ini semacam "mendobrak tabu". Setahu Gendo, prinsip almarhum, jangan sampai bahasa menghambat komunikasi.

Kalau terus terus terkungkung dengan bahasa, lama lama anak muda tidak berani menghadap pendeta." Sembari terus menerus memotivasi agar juga belajar berbahasa Bali yang baik untuk menjaga tradisi.

"Saya masih ingat, bagaimana beliau membuat "geger" lagi saat tahun 1998. Bersama Ibu Gedong Bagoes Oka, beliau ikut mendukung gerakan mahasiswa Bali melawan Orba. Banyak yang mengkritik keterlibatan beliau yang ikut mendampingi mahasiswa long march.

Saat itu saya tanya, jawaban beliau sederhana "saya hanya berdoa untuk kedamaian dan keselamatan anak bangsa, selanjutnya melakukan "pada yatra," sambungnya. Gendo lanjut mengurai bagaiamana kedekatan pribadinya dengan sosok Sebali Tianyar.

"Saya sangat disayang sama beliau. Saat th 2005, ketika Saya ditahan Polresta atas dugaan merendahkan martabat Presiden/Wakil Presiden, Beliau mengunjungi saya. Menurut beliau, banyak pihak yang mencoba menghalangi kedatangan Beliau untuk menjenguk Saya tapi Beliau abaikan," tutur tokoh gerakan tolak reklamasi di Bali itu.

Dia melanjutkan, kala itu, Sebali Tianyar tetap ngotot mengunjungi Gendo di Sel Tahanan Polresta Denpasar. Saat itu masih diingat Gendo, bisikan sang tokoh pluralisme itu. "Beliau berbisik: "Nak, kuatkan dirimu. Saya terus mendoakanmu dan pasang badan untukmu." Kurang lebih begitu kata kata beliau," ucap Gendo .

Kata Gendo, Sebali Tianyar pernah datang ke rumahnya saat upacara adat. Bersama Ratu Peranda Istri hadir tanpa banyak "protokol". Datang berdua tidak mau dilayani berlebihan. Bahkan menolak banyak tawaran keluarga Gendo. Sampai semua terkaget-kaget.

"Ternyata beliau masih sosok pendeta yang dulu," tandasnya, Terakhir, disaat gerakan Bali tolak reklamasi ini baru dibangun diawal, almarhum adalah sesepuh pertama yang memberikan supportnya baik di lapangan maupun di luar ruangan. Ia masih teringat, dukungan dengan datang ke Desa Sidakarya untuk memimpin doa bagi 4 pejuang Jalak Sidakarya yang dikriminalisasi.

Saat diundang, guna memberikan pemahaman tentang kawasan suci (saat seminar ForBALI), Sebali Tianyar diusia senja tetap hadir dan di ruangan itu pula beliau secara tegas menyatakan bahwa beliau menolak reklamasi Teluk Benoa.

Sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya, selalu saja yang dibisikan ke Gendo adalah "tetap kuat dalam perjuangan. "Kini beliau telah tiada. Beliau telah berhasil menjejakan semangat reformasi Pendeta Hindu. Sesuatu yang kerap saya bilang sebagai melampaui jamannya. Selamat Jalan Ratu Nak Lingsir," demikian salam perpisahan Gendo.

Informasi dihimpun, Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa  menghembuskan nafas terakhir di usia ke-76 di ICU RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Senin (27/2/17) sekira pukul 06.00 wita. (KN-SN)