Sidang Berlangsung "Kilat", Pengacara Korban Heran

Rabu, 15 Maret 2017 20:14 Hukum & Kriminal

Bagikan

Sidang Berlangsung
Edward Tobing (dok/SN)
Denpasar,Semetonnews-Kasus dugaan pemalsuan tanda tangan yang menyeret oknum Notaris bernama  Cokorda Pemayun sebagai terdakwa dan disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Gianyar yang sebelumnya adem ayem, kini semakin memanas. Kasus ini semakin memanas kitika majelis hakim pimpinan Ayu Sri Ardiyanti mengalihkan penahanan terdakwa yang sebelumnya oleh Jaksa ditahan di Rutan Gianyar menjadi tahanan kota. 

Hal ini membuat kuasa hukum pelapor/korban yang tidak lain adalah mantan istri terdakwa, kecewa. Edward Tobing, salah satu kuasa hukum pelapor menyesalkan keputusan hakim yang mengalihkan penahan tersangka dari tahanan Rutan menjadi tahan kota karena pengalihan itu dilakukan diluar sidang.

"Biasanya penetapan pengalihan/penangguhan penahanan diumukan saat sidang. Tapi untuk kasus ini tidak seperti itu. Begitu kasusnya dilimpahkan dari kejaksaan ke Pengadilan, saat itu pula terdakwa langsung dialihkan penahananya,"sebut Edward kepada wartawan, Selasa (14/3). Selain itu, Edrwad juga menilai, jalanya sidang juga ditemukan adanya kejanggalan."Masak baru periksa dua saksi sudah langsung pemeriksaan terdakwa. Padahal saksi yang ada di BAP (berita acara pemeriksaan acara) lebih dari dua orang,"tegas pengacara berdarah Batak itu. 

Ditempat terpisah, Humas PN Gianyar, Wawan Edi Prastyo saat dikonfirmasi langsung menepis tudingan itu. Dia mengatakan, pengalihan penahanan itu dilakukan karena antara terdakwa dengan korban/pelapor sudah ada perdamaian."Perdamaianya terjadi dimuka sidang, bahkan antara terdakwa dengan korban sudah saling berpelukan,"sebut pria yang juga salah satu Hakim di PN Gianyar itu. Selain itu,  kata Wawan ada alasan kemanusian lainya seperti terdakwa memiliki tanggungan dua orang anak. 

Pernyataan Wawan ini langsung dipatahkan oleh Edwrad Tobing. Disebut Edward, perdamaian antara terdakwa dengan pelapor terjadi setelah status penahanan beralih. "Perdamaian terjadi dimuka sidang, sesangkan pengalihan penanahan sudah dilakukan sebelum persidangan, jadi menurut kami ini ada yang aneh"tangkis Edrward. 

Sementara itu terkait soal persidangan kilat yang hanya memeriksa dua saksi langsung dilanjutkan pemeriksaan terdakwa, Wawan mengatakan ini karena Jaksa Penuntut Umum mengatakan sudah tidak ada lagi saksi yang akan diperiksa,"Jaksanya bilang sudah tidak ada saksi lagi, makanya langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa, jadi tidak benar kalau sidang digelar kilat,"pungkasnya. 

Sementara itu, masih menurut Edwrad kasus ini berawal dari pinjam peminjam uang di BPR Padma sebesar Rp 500 juta. Saat itu, pelapor yang masih berstatus sebagai istri terdakwa tidak mau menandatangani usulan pinjaman itu dengan alasan sebelumnya sudah pernah minjam uang. Nah, karena korban tidak mau menandatangi,  disinilah terdakwa memalsukan  tanda tanganya."Karena pelapor ini juga harus bertanggungjawab, maka dia pun merasa dirugikan dan melapor ke polisi,"pungkas Edward.(MG/SN)