Ajukan Pembelaan, Kuasa Hukum Terdakwa Hanya Bisa Memohon Keringanan Hukuman

Rabu, 22 Maret 2017 00:20 Hukum & Kriminal

Bagikan

Ajukan Pembelaan, Kuasa Hukum Terdakwa Hanya Bisa Memohon Keringanan Hukuman
Dwi Hariyanti alias Mei Jia (dok/SN)
Denpasar,Semetonnews-Setelah dituntut 6 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Narapati, terdakwa kasus Narkotika, Dwi Hariyanti alias Mei Jia (39) yang berprofesi sebagai guru senam itu, melalui kuasa hukumnya Ahmat Hadiana dkk., mengajukan pembelaan (pledoi). 

Dalam pembelaanya, nampaknya tidak banyak yang bisa dilakukan. Hadiyana malah  menyebut sependapat dengan jaksa yang menyebut terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana tanpa hak memiliki, menyimpan, mengusai, atau menyediakan narkotika golongan I bukan tanaman.  

Namun demikian,  Hadiyana tidak sependapat dengan lamanya hukuman yang dituntut jaksa. Sayangnya, alasan agar terdakwa dihukum ringan yang disampaikan dalam pembelaan sangatlah normatif. Yaitu terdakwa tidak pernah dihukum dan kooperatif selama persidangan sehinga mempermudah proses persidangan. Selain itu, terdakwa menyesali perbuatannya serta terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dan menpunyai tanggungan satu anak yang masih sekolah.

"Kami memohon kepada yang mulia Majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar menjatuhkan hukuman yang seringan-ringannya kepada terdakwa," kata Hadiyana saat membacakan pledoi dihadapan Majelis Hakim yang dipimpin Novita Riama, Selasa (20/3/2017) kemarin. 

Pada persidangan sebelumnya, JPU I Dewa Narapati menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 112 ayat (1) UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Atas hal itu, JPU memohon kepada majelis hakim agar menghukum terdakwa dengan hukuman pidana penjara selama 6 tahun dan pidana denda sebesar 800 juta subsidair 6 kurangan.

Dalam dakwaan menyebutkan, penangkapan terdakwa bermula saat petugas mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada seorang pria berama Mulyawan (terdakwa dalam berkas terpisah) diduga memiliki sabu. Petugas yang telah mengetahui identitas Mulyawan membuntuti mobil Datsun berwarna biru pada 13 November 2016, Pukul 11.30 Wita. Saat itu, Mulyawan bersama terdakwa Dwi Hariyanti berada satu mobil untuk pergi mencari makan di Warung Kedaton.

Sebelum berangkat mencari makan itu, Mulyawan sempat menitipkan lima klip sabu kepada terdakwa yang disimpan di dalam dompet dan diletakkan terdakwa di dalam tas berwarna putih. Saat diperjalanan hendak mencari makan tersebut, Mulyawan berhenti di Jalan Buluh Indah Denpasar dan mengambil bungkusan hitam, sedangkan terdakwa berada di dalam mobil.

Tidak lama kemudian, terdakwa melihat Mulyawan sedang dipegang anggota kepolisian Polres Badung. Kemudian, terdakwa keluar dari mobil lalu ikut diamankan petugas bersama kekasihnya. Polisi yang melihat gelagat terdakwa mencurigakan, langsung menggeledah isi tas putih yang dibawa Dwi dan berhasil menemukan lima klip sabu dengan berat masing-masing klip satu 0,34 gram, 0,37 gram (klip kedua), 0,35 gram (klip ketiga), 0,15 gram (klip keempat) dan 0,21 gram (klip kelima). Kepada Polisi terdakwa mengaku jika sabu-sabu itu milik kekasihnya Mulyawan.(MG/SN)