Jadi Saksi, Teman Terdakwa Sebut Pernah Bertemu dengan Koburoom

Selasa, 11 April 2017 00:23 Hukum & Kriminal

Bagikan

Jadi Saksi, Teman Terdakwa Sebut Pernah Bertemu dengan Koburoom
Terdakwa Mohamad Faliq Bin Nurdin (kiri)
Denpasar,Semetonnews- Untuk meyakinkan majelis hakim bahwa terdakwa Muhamad Faliq Bin Nurdin warga negara Singapura tidak layak dipenjara karena mengalami gangguan kejiwaan (bipolar), kuasa hukumnya Andre Rahmat kembali menghadirkan tiga orang saksi meringankan, yang dua diantaranya adalah saksi ahli. 

Dua saksi ahli yang dihadirkan dalam sidang, Senin (10/4) adalah dr. Lely Setiawati (ahli kejiwaan forensik) dan dr. Made Budiarta (ahli kesehatan jiwa). Sedangkan satu saksi lagi yaitu Mulisha adalah teman dekat terdakwa. Mulisha, saksi yang paling pertama didengar keteranganya menerangkan bahwa dia mengenal terdakwa 10 tahun lalu di Singapura."Saya mengenal terdakwa sejak 10 tahun yang lalu,"ungkap saksi dihadapan majelis hakim pimpinan Gde Ginarsa.

"Apakah saksi mengetahui terdakwa ini mengidap penyakit bipolar,"tanya Andre Rahmat yang dijawab saksi mengetahui setelah diberitahu oleh terdakwa. Yang menarik dari pengakuan saksi adalah, ternyata saksi juga mengaku mengenal orang yang bernama Koburoom. Tak hanya itu, saksi juga mengatakan pernah bermain surfing (selancar air) dengan Kuboroom."Saya menganal Koburom, orangnya tinggi, berjanggut dan berambut panjang. Saya juga pernah bermain surfing bersama Kuboroom,"sebut saksi. 

"Kapan saksi terakhir kali bertemu dengan Koburoom,"tanya Andre Rahmat yang dijawab sekitar bulan September 2016 silam."Saat itu Koburoom sempat bertanya kepada saya, Faliq (terdakwa) dimana,"jawab saksi. Setelah itu saksi mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan Koburoom."Saya dengar dia (Koburoom) sudah pulang ke Inggris,"pungkasnya.

Sementara dua saksi ahli yaitu dr. Lely Setiawati dan dr. Made Budiarta, meski diperiksa secara terpisah, tapi keterangan nyaris sama. Kedua saksi yang banyak ditanya soal penyakit bipolar yang diderita oleh terdakwa. dr. Made Budiarta, mantan kepala RSJ Bangli menjelaskan, bipolar adalah penyakit kejiawaan yang tidak bisa disembuhkan."Bipolar tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikendalikan dengan mengkonsumsi obat secara rutin selama hidupnya,"sebutnya. 

Dikatakan pula, jika penderita bipolar tidak mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter, maka akan berbahaya. Dijelaskanya, Bipolor adalah gangguan mood atau ganggaun perasaan. Karenanya apabila pengidap bipolar dalam jangka waktu satu minggu tidak mengkomsi obat, maka moodnya akan merubah."Jika tidak mengkonsumsi obat, maka perbuatan seseorang yang mengidap bipolar tidak bisa dipertanggungjawabkan,"terang saksi. 

Hal senada juga dituturkan oleh dr. Lely Setiawati. Dikatakannya, jika pengidap bipolar tidak mengkonsumsi obat, suasana hatinya bisa berubah dengan cepat. "Saat naik, dia (pengidap bipolar) sangat berbahagia, memiliki ide yang tinggi yang kadang tidak bisa diterima oleh nalar,"sebut dr. Lely. Namun, kata dia lagi, disuaatu ketika pengidap bipolar juga bisa masuk pada fase depresi kecewa dan bisa bunuh diri."Karena itu pengidap bipolar harus mendapat pendampingin dan runtin mengkonsumi obat,"pungkasnya.

Sementara terdakwa saat ditanya majelis hakim apakah mengerti dengan penjelasan yang disampaikan oleh kedua saksi ahli tersebut, melalui penerjemahnya, I Wayan Ana  menjawab tidak mengerti,"terdakwa tidak mengerti yang mulai,"kata Wayan Ana.(MG/SN)