Pesantogan Kemangi Unit Usaha BUMDesa Kemiren Yang Dituntut Profesional

Minggu, 16 April 2017 08:56 Kolom Opini

Bagikan

Pesantogan Kemangi Unit Usaha BUMDesa Kemiren Yang Dituntut Profesional
Pesantogan Kemangi, unit usaha BUMdesa Kemiren
Belum semua kepala desa memahami BUMDesa sebagai sebuah peluang memajukan ekonomi desa. Bahkan sebagian malah menganggap BUMDesa adalah sebuah program baru yang membuat mereka menjadi terbebani karena harus melahirkan lembaga unit usaha yang masih membingungkan bagi mereka.

Dari data yang dikumpulkan  Semetonnews, seperti dilansir Berdesa dan beberapa sumber, para kepala desa itu bahkan meragukan BUMDesa mampu menjadi sebuah upaya mengungkit potensi desa menjadi motor ekonomi baru bagi segenap warganya. Sebagian malah khawatir, BUMDesa berpotensi mematikan mata pencaharian warga desa karena ‘kalah’ oleh gerakan unit usahanya BUMDesa.

Salah satu kesulitan yang mereka hadapi adalah mengenai bagaimana memetakan potensi desa mereka yang bisa diangkat menjadi unit usaha BUMDesa.

Sebagian khawatir, pendirian usaha BUMDesa ternyata tidak membawa hal baru,  dan malah melahirkan usaha yang sebenarnya sudah dijalankan sebagian warga desa. Soalnya, kalau berbicara potensi desa sudah pasti potensi itu telah banyak digarap sebagai ladang pencaharian bagi warga. Jadi, apalagi yang bisa dilakukan BUMDesa?

Misalnya mendirikan minimarket. Sebagian desa merasa pendirian minimarket tidak bisa dilakukan karena bakal mengancam warung-warung kecil di desa. Padahal sebenarnya kekawatiran itu tak perlu terjadi karena tidak mungkin warga satu desa bakal belanja di satu minimarket. Apakah Anda akan membeli sekotak pasta gigi ke sebuah toko berjarak beberapa kilometer? Apakah Anda malam-malam Anda akan berjalan ratusan meter demi mendapatkan sekantung kecil deterjen?

Sebaliknya, minimarket di desa bakal menjadi strategis jika diposisikan sebagai pusat (agen) kulakan bagi warung-warung kecil di desa. Maka kehadiran minimarket yang berfungsi menjadi grosir ini justru bakal menjadi sangat mendukung warung-warung kecil itu karena membuat para pemilik warung tak perlu pergi terlalu jauh untuk mendapatkan aneka produk yang akan dipajang di tokonya.

Keuntungan lainnya, jika warung-warung kecil sepakat untuk kulakan di tempat itu maka yang terjadi, minimarket milik BUMDesa bakal bisa menawar harga barang menjadi lebih murah terhadap distributor karena minimarket ini bakal bisa kulakan dalam jumlah besar. Nah, bukankah ini sangat menguntungkan bagi semua orang? Keuntungan lainnya, minimarket BUMDesa juga bisa menjadi intu gerbang pemasaran produk warga lokal seperti makanan khas, konveksi, atau bahkan menjualkan lele dari kolam-kolam yang dikelola warga.

Keuntungan lainnya, minimarket ini hidup dan terus membesar. Keuntungan Desamart kemana? Inilah bagian yang paling penting, keuntungan Desamart sepenuhnya dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha dan sebagian dikembalikan kepada warga desa dengan rupa-rupa manfaat yang fokusnya untuk meningkatkan pelayanan sosial bagi seluruh warga desa.

Lain Desa lain pula konsepnya, Di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur dalam pengembangan BUMdes, fokus  pada sektor pariwisata, dari pantauan Semetonnews, BUMdesa Kemiren, mendirikan unit usaha warung Pesantogan Kemangi.

Makanan khas tradisional osing dengan berbagai main court-nya, sebagai menu andalan pengunjung. 

Meski warung ini sudah memiliki market sendiri, namun masih perlu banyak pembenahan, misal pelayanan dan aktivitas di tempat itu sendiri, sebenarnya hal ini bisa dimulai dengan menggunakan kearifan lokal yang dimiliki sebagai warga adat osing,  ramah dalam pelayanan mutlak hukumnya, senyum yang menjadi syarat dasar marketing pun wajib dilakukan. 

Dari konsep yang ada, kembali harus ada review ulang, potensi pasar tidak boleh puas dengan hanya segment lokal, dan nasional, bidikan international pun perlu, mengingat Kemiren sudab masuk jalur wisatawan saat akan mendaki ke Gunung ijen. 

Pesantogan Kemangi, sebagai Unit usaha BUMdesa dipahami oleh warganya, manfaat unit usaha ini pun bisa dirasakan warga desa, yang tak kalah penting adalah manajerial keuangan yang harus profesional, karena pertanggungjawabannya pun harus transparan, tujuannya merangsang minat untuk pengembangan unit usaha lainnya. 











Oleh : Slamet Kurniawan
Aktivis Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia