Diperiksa, Terdakwa Ngaku Tidak Tahu Paket yang Diambil Berisi Narkotika

Senin, 17 April 2017 23:35 Hukum & Kriminal

Bagikan

Diperiksa, Terdakwa Ngaku Tidak Tahu Paket yang Diambil Berisi Narkotika
Terdakwa Mohamad Faliq Bin Nurdin (kanan) saat diperiksa sebagai terdakwa (MG/SN)
Denpasar,Semetonnews-Sidang kasus narkoba dengan terdakwa warga negara (WN) Singapura, Muhamad Faliq bin Nordin, Senin (17/4) kembali dilanjutkan. Sidang masuk pada agenda pemeriksaan terdakwa. Dihadapan majelis hakim pimpinan Gede Ginarsa terdakwa melalui penerjemahnya menegaskan bahwa dia tidak tahu bila isi paket yang diambilnya di Kantor Pos itu ternyata Sabu-sabu.

Alasnya, saat Kobu Raom (warga negara Inggris) meminta tolong padanya untuk mengambil kiriman yang dikirim dari Belanda, Kobu Raom hanya mengatakan paket itu berisikan lilin."Dia (Kobu Raom) tidak pernah mengatakan bahwa paket itu berisikan barang terlarang,"sebut terdakwa melalui penerjemahnya, I Wayan Ana. 

Salah satu hakim anggota sempat bertanya kepada terdakwa. Hakim itu menanyakan, apakah terdakwa tidak berpikir jika ternyata paket yang diambilnya itu berisikan barang terlarang."Saudara terdakwa tadi mengaku tidak mengenal akrab Kobu Raom, tidak mengetahui pekerjaannya, tapi kenapa mau mengambilkan paketnya,"tanya Hakim. 

Ditanya begitu terdakwa menjawab, bahwa saat Kobu Raom menghubunginya untuk meminta tolong mengambilkan paket di Kantor Pos, terdakwa mengaku sedang berada di Hongkong."Dia (Kobu Raom) menghubungi dan meminta tolong agar saya mengambilkan paketnya di Kantor Pos. Saya langsung mengiyakan, dan saya tidak pernah berpikir bahwa isi paket itu adalah sabu-sabu,"jawab terdakwa.

Dikatakan pula, saat Kubo Raom meminta tolong untuk mengambilkan paketnya, terdakwa hanya berpikir bahwa paket itu memang berisikan lilin."Saya ini penderita bipolar (salah satu gangguan kejiwaan), sehingga saya tidak bisa berfikir normal. Kalau dalam keadaan stabil saya pasti akan berfikir berkali-kali untuk mengambilkan paket itu,"aku terdakwa.

"Apakah saudara terdakwa pernah mengkonsumsi narkoba,"tanya Hakim lagi yang dijawab terdakwa tidak pernah."Saya tidak menggunakan narkoba, saya juga tidak minum-minuman keras dan juga tidak merokok,"jawab terdakwa."Apakah Kobu Raom pernah bilang bahwa isi paket itu, selain lilin ada barang terlarang,"tanya Hakim yang dijawab terdakwa tidak pernah.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Andre Rahmat lebih banyak bertanya soal bagaimana terdakwa bisa mengambil paket kirim yang bukan ditujukan kepada terdakwa. Ditanya begitu, terdakwa lalu menceritakan bagaimana paket bisa berada ditanganya. Awalnya terdakwa mendapat nomor resi pengiriman dari Kobu Raom. Lalu terdakwa mengecek nomor itu melalui website."Dalam website diterangkan bahwa benar paket itu berisikan lilin,"sebut terdakwa. 

Sepulang dari Singapura, terdakwa lalu berniat mengambil paket tersebut di Kantor Pos. Tapi ditolak karena memang paket itu bukan ditujukan kepada terdakwa. Tapi, terdakwa sempat bertanya kepada petugas pos terkait isi paket itu yang dijawab petugas berisikan lilin. Terdakwa lalu diberi form surat kuasa oleh petugas Kantor Pos. Lalu terdakwa pergi menemui Kobu Raom memberikan form surat kuasa itu untuk diisi. Kesokan harinya setelah form diisi, terdakwa juga membawa foto copy paspor Kobu Raom kembali ke Kantor Pos.
 
Singkat cerita, terdakwa berhasil mengambil paket itu. "Saat saya keluar dari Kantor Pos saya langsung ditangkap. Saat itu saya langsung syok,"kata terdakwa. "Apakah saat terdakwa mengambil paket itu terdakwa tidak sedang mengkonsumsi obat,"tanya Andre yang dijawab terdakwa sudah lama tidak meminum obat karena merasa penyakit bipolar yang diderita tidak juga kunjung membaik. Terdakwa juga mengaku tidak pernah diiming-imingi hadiah jika berhasil mengambil paket tersebut.(MG/SN)