Proyek Irigasi Milik Oknum Dinas Pengairan Banyuwangi, Dikerjakan Asal asalan?

Rabu, 05 April 2017 16:35 Hukum & Kriminal

Bagikan

Proyek Irigasi Milik Oknum Dinas Pengairan Banyuwangi, Dikerjakan Asal asalan?
Proyek Irigasi Pengairan, CV Mawar Merah
Banyuwangi, Proyek Irigasi dan jambon yang dikerjakan oleh CV Mawar Merah, diduga tak sesuai specifikasi teknis.

Proyek yang menggunakan biaya APBD Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan anggaran Rp. 166.000.000,00. Berlokasi di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren proyek ini menggunakan campuran agregat 1:15 (1 semen dibanding 15 pasir).

(material berserakan dijalan warga) 

Dalam teknisnya, jika pasir tanah yang dicampur semen tersebut hanya direkatkan saja dengan batu untuk mengejar target pekerjaan, tentu kualitasnya akan buruk.



Wawan salah satu Ketua Asosiasi Kontraktor Nasional, mengatakan sewajarnya pasangan batu menggunakan agregat antara 1:2 - 1:6 (perbandingan semen pasir). 

"Ndak wajar,  kalau perbandingan segitu,  mestinya 1 : 6."ujarnya. Selasa (18/4) melalui sambungan selular. 

Proyek yang berlokasi di Desa Kemiren ini, kenyatannya menggunakan campuran 1/2 Sak agregat semen untuk pasangan batu sepanjang 20 m.  

Selain pengerjaan asal asalan,  material pasir bercampur tanah yang digunakan sebagai bahan campuran semen. Pengerjaan asal asal asalan, dari spek dan volume yang terpampang di papan proyek tidak dijelaskan berapa volume yang mestinya secara detail. 

Semetonnews konfirmasi hal ini kepada Dinas Pengairan Kabupaten Banyuwangi, salah satu PNS dilingkup Dinas Pengairan bernama Hoirudin,  mengakui benar proyek itu miliknya dan CV Mawar Merah, dipinjam dari Lilik. 
"iya  CV nya Lilik ini, proyeknya di Kemiren, soal campuran nanti saya kasi tau,"kata pria akrab dipanggil Udin ini ditemui dikantornya, Selasa (18/4).

Salah satu tukang yang meminta tidak disebutkan namanya, dilokasi mengiyakan 1 molen berisi campuran 1/2 Sak semen dan 10 pasir tanah.  

Secara teknis pasangan batu untuk campuran idealnya jika sudah menggunakan patokan 1:6, tidak bisa dikurangi menjadi 1:15 , hal ini berdampak buruk akan kualitas pekerjaan. (WN/SN)