ANTARA HERITAGE, CAT BERWARNA-WARNI, DAN SEBUAH IDENTITAS

Kamis, 20 April 2017 10:20 Kolom Opini

Bagikan

ANTARA HERITAGE, CAT BERWARNA-WARNI, DAN SEBUAH IDENTITAS
Konsep Warna warni Banyuwangi (net-SN)
”Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya melihat masa kini dan masa mendatang, tetapi mau berpaling ke masa lampau untuk menyimak perjalanan yang dilaluinya”, demikian pernyataan Jens Jacob Asmussen Worsaae, ahli hukum dari Universitas Kopenhagen, Denmark, pada abad ke-19.

Kebudayaan pada suatu masa adalah wujud dari pandangan hidup, tata nilai, gaya hidup dan aktifitas masyarakat pada masa itu. Arsitektur menjadi wakil dari citra perjalanan sejarah kebudayaan masyarakat di suatu tempat. Melihat arsitektur pada suatu masa, merupakan cara kita membaca sejarah dan identitas yang menghubungkan antara saat ini dan masa lalu. 

Bila dengan cara berpikir itu kita “membaca Banyuwangi”, kita bisa memetakan, bahwa di Banyuwangi dulu cukup banyak bangunan-bangunan kuno, namun sayangnya sampai saat ini belum ada satupun bangunan kuno di Banyuwangi yang berstatus cagar budaya. 

Karenanya maka jangan heran, tak sedikit bangunan kuno dan bangunan bersejarah di Banyuwangi kini telah lenyap, demi sebuah kepentingan “pembangunan”, seperti beberapa gedung perbankan di sekitar Pantai Boom, dan Gedung Juang yang dulunya adalah kamar bola (societet).

Satu-persatu bangunan-bangunan kuno di Banyuwangi hilang, dirubah, dirobohkan, dijual, dll. Secara hukum memang tidak bisa "di-apa-apa-kan", karena statusnya bukanlah cagar budaya. Lantas, bagaimana cara kita bisa membaca sejarah dan identitas Banyuwangi...?

KAMPONG TEMENGGUNGAN
Kampong Wisata Temenggungan merupakan salah satu kawasan bersejarah di Banyuwangi. Kampung pertama di kota Banyuwangi ini telah berdiri sejak tahun 1774, bersamaan dengan kepindahan ibukota pemerintahan Banyuwangi dari Ulupampang ke wilayah yang saat ini menjadi kota Banyuwangi.

Di kampung ini masih cukup banyak terdapat bangunan-bangunan kuno, baik berupa rumah tradisional kuno, rumah yang dibangun pada jaman Belanda dengan usia lebih dari 100 tahun (seperti rumah bupati ke-5 Banyuwangi, Pringgokusumo), sampai rumah-rumah "jengki", yaitu rumah-rumah yang dibangun sekitar tahun 40-50an, yang arsitekturalnya meniru trend rumah Belanda, namun memiliki ukuran yang disesuaikan dengan tubuh orang Indonesia.

Sejak bulan Oktober 2015, secara swadaya dan mandiri, dirancang dan dikembangkanlah beberapa paket wisata yang dikelola warga kampung dengan didampingi oleh Komunitas Hidora (Hiduplah Indonesia Raya) sebagai fasilitator. 

Konsepnya adalah wisata seni budaya, sejarah, dan heritage. Dengan tujuan untuk menggali, mendokumentasikan, memperkenalkan, dan mengkonservasi kekayaan seni budaya, sejarah, dan heritage di Kampung Temenggungan, sekaligus dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga.

MENDAPAT “PERHATIAN”?
Beberapa waktu belakangan, kampung Temenggungan mulai mendapat perhatian dari pemerintah Banyuwangi. Beberapa program pengembangan pariwisata diberikan kepada kampung ini. 

Sayangnya program-program ini dilakukan top down, dan tanpa ada komunikasi dengan pihak yang selama ini telah menjadi fasilitator mendampingi warga dalam menggali serta mengembangkan potensi yang ada di kampung ini.

Seperti contohnya, beberapa waktu lalu Pemerintah Kaupaten Banyuwangi membuat program pengecatan warna-warni dan melukis rumah-rumah warga, dengan menggerakkan 1000 orang pelajar yang tergabung dalam organisasi Pramuka.

Mungkin program ini diniatkan untuk mengembangkan daya tarik wisata bagi kampung ini. Namun sangat disayangkan, hal ini dilaksanakan tanpa referensi, analisa, riset, dan konsep yang matang. 

Saya tidak bermaksud mengecilkan arti keringat dan energi yang telah dikeluarkan oleh adik-adik Pramuka yang sudah bekerja sukarela mengecat dan melukis rumah-rumah warga selama beberapa hari. Namun kita tetap perlu kritis dan obyektif untuk menilai proses maupun hasil pelaksanaan program ini.

Secara teknis pengecatan dan melukis rumah-rumah warga ini tidak dilakukan oleh ahlinya. Untuk mengecat, mungkin masih bisa dilakukan oleh orang awam dengan resiko hasil yang kurang rapi dan cat yang tidak rata. Tapi untuk melukis, ini butuh keahlian khusus, apalagi untuk melukis di tembok.

Kemudian konsep dan tema apa yang ingin diangkat? Seperti apa atmosfer yang ingin dibangun? Jika dinding-dinding rumah warga ini ibaratnya sebuah kanvas besar, maka apa dan di bagian mana point of interest-nya? Bagaimana penataan komposisinya..?

Di beberapa area kampung memang bisa kita jumpai hasil cat dan lukisan yang cukup bagus, rapi, dan menarik, yang ternyata kebanyakan dikerjakan sendiri oleh warga, atau dengan menggunakan jasa seniman pelukis. Namun di sebagian area lainnya, hasilnya kurang optimal, sampai-sampai tak sedikit warga yang merasa tidak puas karena terkesan menjadi agak kumuh.

Dan yang cukup mengejutkan, ternyata sebagian rumah-rumah kuno di kampung ini  juga dicat warna-warni dan dilukis. Hal ini sebenarnya malah menimbulkan “penurunan makna” dari nilai rumah-rumah kuno tersebut.

Rumah-rumah kuno sebetulnya akan terlihat lebih bernilai jika terjaga keutuhan dan keasliannya. Ketika dicat berwarna-warni atau dilukis, maka nilai heritage yang dimiliki rumah-rumah kuno ini menjadi redup.

TREND WARNA-WARNI
Menyulap kampung menjadi berwarna-warni kini menjadi trend. Sebelum Kampung Temenggungan dicat aneka warna, kampung di bantaran Kali Lo sudah memulainya terlebih dahulu. Namun Banyuwangi bukanlah yang pertama, di berbagai kota lain hal ini sudah banyak dilakukan.

Di kota Malang ada Kampung Warna-Warni di kelurahan Jodipan, yang dulunya kumuh. Pada tahun 2016 dilakukan program pengecatan kampung warna-warni yang diprakarsai komunitas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diketuai Nabila Firdausiyah. Akhirnya kampung ini ramai dikunjungi orang, warga menjadi tergerak untuk menjaga kebersihan kampungnya.

Kesuksesan kampung Jodipan ditiru oleh kampung tetangga, yaitu kelurahan Ksatrian. Kampung Ksatrian mengembangkan pembuatan mural di kampung dengan konsep 3D, menggunakan teknik pengecatan air brush, diprarkasai oleh Eddi Gimbal, seniman jalanan kampung setempat.

Pemkot Surabaya juga menggagas pengecatan warna-warni yang dilaksanakan di kampung nelayan kelurahan Bulak, Kenjeran, Surabaya, pada tahun 2016. Kampung Penas Cipinang Besar Selatan, di bantaran sungai Cipinang, Jakarta, juga menghias kampungnya menjadi beraneka warna.

Pada tahun 2017 ide kampung warna-warni juga diadopsi oleh Kampung Kali Werno, Desa Bejelen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang diprakarsai oleh Pokdarwis setempat. Bulan Februari lalu digagas pula Kampung Warna-Warni Teluk Seribu, di Sungai Manggar, Balikpapan, oleh Disporapar Balikpapan.

Namun jika kita merunutnya, sebetulnya pengecatan warna-warni bahkan melukis mural di kampung-kampung sudah dimulai jauh sebelum trend yang ada saat ini. Jogja telah memulainya sejak bertahun-tahun yang lalu. Contohnya bisa kita jumpai di Kampoeng Cyber, RT 36, kelurahan Patehan, kecamatan Kraton, Jogja.

Di kampung ini, mural atau cat warna-warni dibuat sebagai penunjang membangun atmosfer dalam tema besar pemotivasian warga kampung untuk melek dan belajar dunia teknologi informasi. Mark Zuckerberg sang pendiri Facebook pun sampai berkunjung ke kampung ini pada tahun 2014.

Ada lagi Kampung Kali Code, di kelurahan Gondolayu Lor, Jogja, dengan berbagai masalah lingkungan hidupnya. Romo YB Mangunwijaya mendampingi kampung ini sejak tahun 1983, untuk membenahi perilaku warga yang dulunya menganggap sungai sebagai tempat sampah. 

Pada tahun 2015, rumah-rumah di Kampung Code yang dulunya kumuh namun telah mulai tertata ini dicat warna-warni dan dilukis mural, terinspirasi dari perkampungan Santa Marta di Rio de Janeiro, Brazil. Perkampungan kumuh di Brazil ini sekarang menjadi kiblat pengecatan warna-warni.

WARNA-WARNI DI LUAR NEGERI
Dua orang seniman asal Jerman, Dre Urhahn dan Jeroen Koolhaas, pada tahun 2005 memiliki gagasan untuk pengecatan perkampungan kumuh Santa Marta di Rio De Janeiro. Mereka melibatkan anak-anak muda untuk berkreasi dan produktif, agar terlepas dari dunia narkoba. Perkampungan ini memang terkenal sebagai sarang bandar narkoba.

Hal sejenis juga terjadi di kota Valparaiso, Chile. Bagaimana pemukiman yang dulunya kumuh lengkap dengan segala permasalahan sosialnya, kemudian energi kaum mudanya disalurkan ke hal-hal produktif melalui proyek pengecatan warna-warni dan pembuatan mural.

Di distrik Malay Quarter, Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan, pengecatan warna-warni dilakukan warga yang mayoritas adalah keturunan Malaysia dan Indonesia yang dulunya dibawa Belanda untuk kerja paksa. Pengecatan warna-warni ini dilakukan sekitar tahun 90-an, sebagai simbol atas dihapuskannya politik apartheid yang diskriminatif dan rasis. Warna-warni adalah penggambaran multi ras, multi etnis, dan multi agama.

Cat warna-warni sebagai simbol multi ras, multi etnis, dan multi agama, juga bisa kita jumpai di kawasan Balat, Istanbul, Turkey. Kawasan ini banyak dihuni oleh masyarakat Yahudi dan para imigran dari Yunani serta Armenia, yang hidup berdampingan dengan damai bersama masyarakat muslim, Katholik, maupun Kristen.

Sementara itu di Pulau Burano, Venesia, Italia, pengecatan warna-warni di rumah dan bangunan-bangunan dimaksudkan sebagai cara untuk memudahkan perahu dan kapal untuk merapat ke dermaga dan masuk ke kanal-kanal sungai bila cuaca berkabut. Pulau ini memang kesehariannya sering dikepung kabut tebal.

Kota warna-warni lainnya di Italia adalah di kota pelabuhan Naples di Pulau Procida, dan di kawasan Cinque Terre. Sementara di Perancis juga terdapat kota pelabuhan warna-warni yaitu kota Menton yang berada di antara Monaco dan perbatasan Italia. Willemstad, ibukota negara Curacao, sebuah negara di kepulauan Karibia, juga berkonsep kota pelabuhan warna-warni.

Di Nyhavn, Kopenhagen, Denmark, bangunan-bangunan di sepanjang pelabuhan juga dicat warna-warni soft. Selain sebagai daya tarik dan estetika, yang terutama fungsinya adalah sebagai penanda tempat-tempat parkir perahu.

Untuk kota-kota lain di dunia yang menampilkan bangunan warna-warni, bisa kita temukan juga di kota Wroclaw di Polandia, St. John’s Newfoundland di Kanada, Pelourinho Salvador di Brazil,  La Boca Buenos Aires di Argentina, kota Lahore di Pakistan, kota Guanajuato di Mexico, kota Tirana di Albania, kota Reykjavik di Islandia, dan di beberapa kota-kota yang lain.

Konsep kota dengan identitas warna tunggal, bisa kita temukan pada kota Chefchaouen di Maroko dan kota Jodhpur di India yang menampilkan warna biru sebagai warna utama, kota Izamal di Mexico dengan warna kuning, kota Jaipur di India dengan warna pink sebagai warna dominan bangunan-bangunan di sana. Kesemuanya adalah sebuah tradisi lokal yang telah diwariskan bergenerasi, sebagai budaya asli masyarakat setempat.

PARIWISATA VS IDENTITAS 
Orang datang berwisata ke suatu tempat adalah karena daya tarik yang kuat, identitas, serta karakter suatu daerah. Apakah alamnya, aktifitas masyarakatnya yang unik, seni tradisi dan budayanya, nilai sejarahnya, atau produk-produk kuliner unik yang dimiliki suatu daerah. 

Jika mengecat warna-warni sebuah kampung bertujuan untuk menjadi daya tarik wisata, saya rasa hal itu cukup naif. Mungkin cara itu bisa menarik perhatian publik sesaat. Sekali dua kali mungkin orang akan datang dan berfoto selfie di sana. Namun biasanya ini ada umurnya. Karena warna-warni cat sebenarnya hanyalah “baju”. 

“Baju” tidak perlu dipaksakan dipakaikan pada orang yang karakter dan identitasnya tidak cocok dengan baju tersebut, nanti mereka malah kehilangan identitas dan karakter yang dimiliki.

Jadi, rasa-rasanya cat warna-warni tidak perlulah untuk dipaksakan di kampung yang identitas dan karakternya adalah seni tradisi, sejarah, dan heritage. Dalam ruang yang berbeda, sama halnya seperti kemasan “wisata syariah” yang rasanya kurang pas jika dipaksakan hadir di daerah yang multi kultur, multi etnis, dan multi agama.

Identitas dan karakter suatu daerah harus digali dari dalam, bukan “ditempelkan di kulit luar”. Saya sangat yakin banyak hal menarik yang bisa digali dari sebuah kampung. Sekumpulan masyarakat di suatu kampung, bahkan semua orang, pasti masing-masing memiliki keunikan.

Kearifan lokal, aktifitas dan kebiasaan yang unik, nilai-nilai luhur, sejarah kampung, seni dan tradisi lokal, kuliner lokal, dan segala hal yang bersumber dari dalam kampung itu sendiri, itulah karakter dan identitas mereka. Itulah daya tarik yang sebenar-benarnya (= itulah pariwisata).

Bagaimana menggali itu semua, memunculkannya, menuliskan, mendokumentasikan dalam foto dan video, dan men-share informasi, itulah cara kita mengkonservasi, sekaligus sebagai media untuk mengabarkan pada dunia tentang apa yang menjadi potensi dan kekayaan sebuah daerah.

Jadi sebetulnya kita tidak perlu berencana “menciptakan” pariwisata. Biarlah pariwisata menjadi sebuah “keterpaksaan” yang muncul karena orang lain (= wisatawan) tertarik ingin mengetahui, mengenal, dan menikmati apa yang menjadi sebuah identitas dan karakter sebuah daerah.

Banyuwangi, 19 April 2017

======= 

Oleh: Bachtiar Djanan M.
Tulisan ini sekedar menjadi sharing informasi, analisa, dan pendapat. Mohon maaf jika terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Jika cocok monggo digunakan, jika tidak cocok silahkan dilupakan. Semoga ke depannya Banyuwangi semakin cerdas dan makin maju.