Tipu CPNS, Oknum Anggota DPRD Akhirnya Diadili di PN Denpasar

Kamis, 20 April 2017 20:29 Hukum & Kriminal

Bagikan

Tipu CPNS, Oknum Anggota DPRD Akhirnya Diadili di PN Denpasar
Ilustrasi-google-semetonnews
Denpasar,Semetonnews-Setelah menunggu sekian lama, kasus dugaan penipuan rekrutmen CPNS dengan terdakwa Bagus Suwitra Wirawan (BSW) akhirnya sampai juga ke meja persidangan, Kamis (20/4/2017). Dalam sidang pimpinan Hakim Made Pasek itu, masih dengan agenda pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Gusti Rai Artini. 

Menariknya, setelah perkara yang menjerat anggota DPRD Bali asal Partai Gerindra ini dilimpahkan oleh Jaksa ke Pengadilan, pihak pengadilan atau hakim yang menyidangkan perkara ini juga tidak menahan BSW. 

Sementara itu, sebagaimana dalam dakwaan JPU, terdakwa BSW dijerat dengan dua pasal. Yaitu Pasal 378 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP atau Pasal 372 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. 

Sementara dalam dakwaan JPU yang dibacakan di muka sidang, pada intinya menerangkan bahwa kasus tipu menipu ini  bermula saat terdakwa mengatakan kepada saksi Dewa Ayu Siki Erawati bahwa akan ada pembukaan calon PNS jalur khusus ini Departemen Perhubungan, dan tersangka mengatakan bisa membantu untuk meluluskan. Saksi Ayu Siki lalu bercerita kepada suaminya yang bernama Dewa Mande Suryarata dan didengar oleh salah satu korban.  

Mendengar cerita itu, korban lalu bersama teman-temannya pada bulan Maret 2012 mencari terdakwa di rumahnya di Jln. Ratna Gang IB No. 8 dengan tujuan meminta bantuan untuk bisa jadi PNS di Departemen Perhubungan Udara. Singkat cerita, para korban lalu sepakat untuk ikut tes PNS melalui jalur belakang. Dan untuk bisa lulus jadi PNS, korban harus menyerahkan uang sebesar Rp 150 juta.

Korban lalu sepakat dan menyerahkan DP sebesar Rp 50 juta yang diterima oleh saksi Dewa Made Suryarata. Namun oleh saksi Dewa Made, korban diminta untuk langsung mentransfer uang tersebut ke rekening terdakwa. Tapi karena korban tidak memiliki rekening, maka korban meminjam rekening saksi Dewa Made untuk mentransfer uang tersebut ke rekening pribadi terdakwa.
 
Sedangkan untuk kekurangannya, saksi Dewa Ayu Siki meminta kepada korban untuk langsung mengirim ke rekening BCA milik terdakwa. Setelah dilakukan pembayaran, pada bulan Agustus 2012 korban bertanya kepada saksi Dewa Ayu kapan SK akan keluar yang dijawab saksi akan keluar pada 10 Oktober 2014. Kemudian pada bulan Januari 2014, terdakwa menghubungi saksi Dewa Ayu Siki untuk meminta nomor telepon korban. Kemudian terdakwa meminta uang kepada korban sebesar Rp 20 juta dengan alasan untuk mengurus SK korban ke BKN. 

Namun hingga 10 Oktober SK belum juga keluar, para korban mencoba mendatangi tersangka. Setelah yakin bahwa SK tidak akan keluar dan para korban mengalami kerugian total Rp 142 juta langsung melaporkan kasus ini ke polisi.(MG/SN)