Polda Bali Tegaskan SP3 dr. Adryanto Sudah Dua Kali Dipraperadilankan

Jumat, 28 April 2017 20:21 Hukum & Kriminal

Bagikan

Polda Bali Tegaskan SP3 dr. Adryanto Sudah Dua Kali Dipraperadilankan
Ilustrasi-google-semetonnews
Denpasar,Semetonnews- Meski terkesan aneh dan janggal karena sudah dua kali disidangkan dan diputus, namun sidang praperadilan terkait dikeluarkanya SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) oleh kepolisian terhadap tersangka pemalsuan surat, dr Ardyanto Natanael Tanaya pada Jumat (28/4) tetap digelar. 

Sidang masuk pada agenda jawaban tergugat, dalam hal ini wakili oleh Tim Bidang Hukum Polda Bali. Dalam jawaban yang dibacakan Tim Bidkum Polda Bali yaitu IB Jembariawan, I Wayan Kota, I Wayan Sukatra dan Putu Jarayuja dihadapan hakim tunggal, Sutrisno menyatakan perkara ini sebenarnya sudah pernah diperiksa di Polresta Denpasar dan Polda Bali.

“Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan cukup bukti sehingga dikeluarkan SP3 oleh penyidik,” terangnya. Selain itu perkara ini juga sudah pernah dilakukan praperadilan sebanyak dua kali dan semuanya menyatakan jika SP3 tersebut sudah sah. Pasalnya penyidik tidak bisa menemukan unsur pasal 263 KUHP. “Jadi intinya proses SP3 tersebut sudah sah,” tegasnya Wayan Kota.

Sementara itu, pihak penggugat yang diwakli kuasa hukumnya, Agung Mattauch membantah jika perkara ini sudah dipraperadilankan dua kali. Ia mengatakan proses prapreadilan kali ini berbeda karena diajukan oleh kuasa hukum pembeli tanah, Edy Yusuf. “Kalau dulu kan yang menggugat penjual tanah. Sekarang yang menggugat pembeli tanah,” tegasnya.

Kasus ini sendiri berawal dari perkara perdata terkait sengketa tanah seluas 76 are di kawasan Canggu, Kuta Utara, Badung pada 1991. Dalam sidang hingga kasasi di Mahkamah Agung (MA) akhirnya memenangkan dr Ardyanto sebagai pemilik sah tanah tersebut.

Tidak terima, Edy Yusuf lalu melaporkan dr Ardyanto ke Polresta Denpasar pada 2014 lalu dengan dugaan pemalsuan tanda tangan hingga menjadikan dr Ardyanto sebagaio tersangka. Namun karena kurangnya alat bukti, penyidik mengeluarkan SP3. Nah, SP3 ini digugat oleh Edy Yusuf ke PN Denpasar. Tapi PN Denpasar menguatkan putusan SP3 tersebut.

Meski sudah kalah, Edy Yusuf tidak patah arang. Ia kembali melaporkan dr Ardyanto ke Polda Bali pada 2015 lalu dengan tuduhan yang sama yaitu pemalsuan tanda tangan. Kliennya pun kembali dijadikan sebagai tersangka. Namun lagi-lagi karena kurang alat bukti perkara kembali dihentikan melalui SP3 yang dikeluarkan penyidik.

Nah, pada 2015 ini Edy Yusuf kembali melakukan perlawanan terhadap SP3 tersebut dengan kembali mengajukan parperadilan di PN Denpasar. Tapi PN Denpasar kembali menguatkan SP3 penyidik dan menyatakan SP3 tersebut sudah sah. Anehnya, meski sudah dua kali disidangkan dan diputus, perkara ini bisa kembali di sidang di PN Denpasar.(MG/SN)