Disidang, Pembunuh Gay yang Sempat Kabur itu Terancam Hukuman Mati

Selasa, 16 Mei 2017 19:44 Hukum & Kriminal

Bagikan

Disidang, Pembunuh Gay yang Sempat Kabur itu Terancam Hukuman Mati
Terdakwa Mahfud Hudori saat berada dalam ruang tahanan PN Denpasar (MG/SN)
Denpasar,Semetonnews-Kasus pembunuhan Gay (pria penyuka sesama jenis) bernama Imran Hamdani dengan terdakwa Mahfud Hudori, Selasa (16/5/2017) sampai juga  ke meja persidangan PN Denpasar. Dalam menghadapi perkara ini, terdakwa Mahfud Hudori didampingi dua pengacara muda dari kantor hukum Kayana Legal Corporate, I Kade Agus Suparman dan Gde Manik Yogiartha.

Sidang masih dengan agenda pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Arya Lanang Raharja. Dihadapan majelis hakim pimpinan Partha Bhargawa, Jaksa Dewa Lanang dalam dakwaanya menyebut, kasus pembunuhan yang terjadi pada tanggal 25 Februari 2017 ini berawal dari terdakwa bersama saksi Amir Purbo Wilantara, Moh Latiful Rohim, Eri Setiawan, Budi Raharjo dan koban Imran Hamdani duduk bersama sambil minum. 

Sekitar pukul 01.30 Wita, korban mengajak terdakwa untuk membeli makan."Awalnya terdakwa menolak, tapi karena teman-teman yang lain mengatakan lapar, akhirnya terdakwa pergi bersama korban dengan mengendarai sepeda  motor milik korban,"sebut jaksa Dewa Lanang. 

Dalam dakwaan dijelaskan pula, saat dalam perjalanan, terdakwa membonceng korban. Nah, saat itulah tangan korban terus menggerayangi tubuh terdakwa."Selain itu korban juga beberapa kali menciumi terdakwa,"sebut JPU dalam dakwaanya. Mendapat perlakuan seperti itu, terdakwa sempat menghindar sehingga motor yang dikendarai menjadi oleng. 

Korban juga sempat mengajak terdakwa untuk kencan. Namun ajakan itu ditolak oleh terdakwa. Setelah membeli nasi, keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan itu, korban terus mengajak terdakwa ke penginapan. Entah karena apa, tiba-tiba terdakwa mengarahkan sepeda motor ke rumah saksi Angga Freandy."Di rumah ini terdakwa mengambil pisau dapur. Saat itu saksi Angga sempat bertanya, untuk apa pisau itu yang dijawab terdakwa tidak ada apa-sapa,"kata jaksa Dewa Lanang dalam dakwaanya.

Angga, seperti termuat dalam dakwaan sempat mengikuti korban dan terdakwa. Namun lagi-lagi terdakwa yang merasa tidak nyaman diikuti meminta kepada Angga untuk kembali. Dalam perjalanan, korban terus mengajak terdakwa untuk kencan sambil meraba-raba paha terdakwa. Terdakwa kemudian mengamudikan sepeda motor menuju Gang Esa."Terdakwa lalu menghentikan sepeda motor. Korban malah memang pinggang terdakwa dan meminta terdakwa untuk membuka celananya,"kata jaksa Kejari Denpasar itu. 

Terdakwa yang tidak terima diperlakukan seperti itu langsung mencabut pisau yang diambilnya di rumah Angga dan menusuk dada korban. Tak hanya itu, terdakwa juga kembali menusuk leher korban sebanyak dua kali."Akibat tusukan itu korban langsung tersungkur sambil memegang dadanya,"kata JPU. Melihat korban tersungkur, terdakwa langsung meninggalkan korban kembali ke tempat terdakwa bersama korban minum-mimum."Terdakwa lalu mengganti banju dan selanjutnya kabur ke Banyuwangi,"sebut JPU.  

Dalam pelarianya, terdakwa baru membuang pisau yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban di salah satu jembatan. Sedangkan sepeda motor milik korban ditinggal di area parkir truk."Kemudian terdakwa pergi menuju Situbondo. Atas perbutana itu, jaksa Dewa Lanang menjerat terdakwa dengan empat pasal berlapis. Yaitu Pasal 340, 338, 353 dan 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati.(MG/SN).