Terlibat Pemalsuan, Oknum Notaris Jadi Pesakitan di PN Denpasar

Selasa, 16 Mei 2017 21:32 Hukum & Kriminal

Bagikan

Terlibat Pemalsuan, Oknum Notaris Jadi Pesakitan di PN Denpasar
Eunika Wahyu Praseyanti oknum notaris yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan pemalsuan (MG/SN)
Denpasar,Semetonnews-Terjerat kasus pemalsuan surat akta jual beli tanah seorang Notaris bernama Eunika Wahyu Praseyanti (54), harus diadili di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Beruntung wanita paro baya yang tinggal di Jalan Garuda A 138 Ungasan Permai, Banjar Santhi Karya, Kuta, Badung ini tidak ditahan karena mendapat penangguhan penahan dari Majelis Hakim PN Denpasar. 

Sebagaimana tertuang dalam dakawaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Putu Suparta Jaya, menyebutkan bahwa terdakwa didakwa melakukan tindak pidana pemalsuan surat di dalam akta otentik berupa Akta Jual Beli Nomor 55/2010 tanggal 11 Agustus 2010. Perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 264 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus ini berawal dari adanya jual beli tanah dengan sertifikat hak milik Nomor 8683/Kel Benoa seluas 205 M2 atas nama pemilik I Wayan Mudra dan Made yang dibeli oleh Fike Stania dengan memakai jasa terdakwa sebagai Notaris pada Tanggal 4 Maret 2010."Saat itu Akta jual beli sudah ditandatangani oleh ke dua pihak, namun belum diberikan Nomor,"sebut jaksa dalam dakwaanya.

Lalu, terdakwa melakukan penundaan saat proses pengalihan hak atas tersebut dari pemilik I Wayan Mudra dan I Made Sendra kepada pihak pembeli Fike Stania atas permintaan Rodney John Diggle melalui Ni Ketut Trisnamwati dengan alasan ada permasalah keluarga antara Fike Stania dengan Rodney  John Diggle. 

Singkat cerita, karena ingin membangun Villa diatas tanah itu, Fike Stania meminta terdakwa untuk memberikan nomor dan tanggal pada akta Jual Beli tersebut sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Kemudian, Akta jual beli yang sudah diberikan Nomor 55/2010 tanggal 11 Agustus 2010 itu digunakan sebagai syarat untuk mengajukan permohonan IMB oleh Fike Stania melalui kausa hukumnya Putu Darmayasa ke pihak di Dinas Cipta Karya Badung dan kemudian terbit IMB/ Nomor 060/tanggal 27 Juni 2011 atas nama Fike Stania. 

Selanjutnya, karena ingin membangun kolam renang dan teras yang digunakan sebagai ruang makan di Villa itu, Fike menyewa tanah milik Ni Ketut Trisnawati yang kebetulan bersebelahan dengan tanah yang dibangun Villa itu. Tanah sewa yang seluas 109 M2 itu dibagi menjadi 70 M2 untuk kolam renang dan 39 M2 dijadikan teras, dengan Akta sewa menyewa Nomor 20 tanggal 16 November 2010 antara Ketut Trisnawati dengan Fike Stania dan Rodney John Diggle yang dibuat dihadapan terdakwa sebagai Notaris."Yang disewa selama 25 tahun dari tanggal 16 November 2010 sampai 2035 dengan nila Rp 25.000.000 per tahun,"ujar jaksa Kajati Bali itu.

Masalah mulai muncul ketika Roedney John Diggle dan Fike Stania bercerai pada tanggal 7 Februari 2012 di Australia. Pada tanggal 28 Desember 2012, Oktaviana Sarah Tangduli yang mengaku sebagai pacar dari Roedney John Dinggle mendatangi kantor terdakwa untuk meminta menganti Akta jual beli Nomor 55/2010 tanggal 11 Agustus 2010 atas nama Fike Stania menjadi Oktaviana Sarah Tangduli dengan alasan uang pembelian tanah itu berasal dari Roedney. 

"Pada mulanya terdakwa sempat menolak permintaan dari perempuan bernama Sarah itu. Namun karena terus didesak terdakwa kemudian menganti nama Akta Jual Beli tersebut menggunakan mesin ketik ," beber Jaksa. Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti Dokumen LAB 711/DCF/2015 tanggal 5 Oktober 2015 Forensik Bareskrim Polri menyimpulkan bahwa pada QD atau akta jual beli no. 135/2012 tertanggal 28 Desember 2012 terdapat penghapusan secara fisik terhadap tandatangan dan tulisan ketik yang diganti dengan tandatangan dan tulisan ketik baru sesuai dengan uraian dalam pemeriksaan. (MG/SN)